Di halaman Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), suasana pagi itu terasa berbeda. Bukan hanya karena seremoni groundbreaking sebuah gedung baru, tetapi karena cerita besar tentang makna memberi yang sedang dimulai.
Gedung itu kelak bernama Laboratorium Teknik Terpadu Mochammad Yana Aditya Building sebuah fasilitas modern yang dibangun bukan dari dana negara, bukan pula hasil pinjaman, melainkan dari satu komitmen personal: wakaf ilmu dan masa depan.
Sosok di baliknya berdiri dengan sederhana. Senyumnya mudah merekah. Sapaan hangatnya terasa tulus. Mochammad Yana Aditya, alumni UMY yang akrab dipanggil Mas Adit, tak tampak seperti figur yang baru saja menanggung pembangunan bernilai Rp10–15 miliar dari kantong pribadinya. Ia lebih menyerupai kakak alumni yang pulang ke kampus—membawa cerita, bukan pamer prestasi.
Bagi Mas Adit, UMY bukan sekadar almamater. Kampus ini adalah rumah pembentuk nilai. Tempat ia belajar bukan hanya soal teknik dan manajemen, tetapi tentang keberpihakan sosial dan tanggung jawab moral—nilai yang kental dalam tradisi Muhammadiyah.
Tak heran, pada 2018, UMY menganugerahkan Alumni Achievement Award kepadanya. Sebuah pengakuan atas perjalanan profesional dan kontribusi sosialnya. Namun bagi Mas Adit, penghargaan itu bukan puncak, melainkan pengingat bahwa keberhasilan selalu mengandung amanah untuk kembali memberi.
“Kalau kita sudah diberi kesempatan tumbuh, tugas kita memastikan yang lain juga punya kesempatan yang sama,” begitu prinsip hidup yang kerap ia sampaikan di lingkaran Muhammadiyah.
Sebelum dikenal sebagai pengusaha, Yana Aditya meniti karier panjang sebagai profesional. Ia pernah menduduki posisi strategis sebagai Direktur TransJakarta, salah satu tulang punggung transportasi publik Ibu Kota. Dunia korporasi, manajemen krisis, dan kepemimpinan organisasi besar telah ia lewati.
Namun, titik berat hidupnya tidak berhenti pada jabatan. Dunia usaha kemudian menjadi ladang baru—bukan semata mencari keuntungan, tetapi memperluas dampak. Di sanalah prinsip efisiensi profesional bertemu dengan idealisme sosial.
Kini, selain aktif sebagai pengusaha, Mas Adit memegang amanah penting di Persyarikatan. Ia dipercaya sebagai Bendahara Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, majelis yang bergelut langsung dengan isu-isu kerakyatan: dari kemiskinan, disabilitas, hingga ketahanan sosial.
Di tingkat daerah, kiprahnya juga nyata. Di Muhammadiyah Kota Depok, ia membidangi Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pengembangan UMKM—sektor krusial yang menyentuh denyut ekonomi warga. Bagi Mas Adit, penguatan ekonomi umat adalah fondasi kemandirian dakwah.
Pembangunan Yana Aditya Building di UMY hanyalah satu bab dari cerita panjang kedermawanannya. Sebelumnya, Mas Adit telah menorehkan jejak wakaf yang tak kalah monumental.
Di Universitas Muhammadiyah Sukabumi, ia mewakafkan tanah seluas 15.685 meter persegi—lebih dari 1,5 hektare. Lahan itu bukan sekadar aset, tetapi harapan: ruang tumbuh bagi pendidikan Muhammadiyah di daerah, tempat generasi baru menimba ilmu tanpa dibebani keterbatasan fasilitas.
Wakaf ini menegaskan satu hal: Mas Adit memandang pendidikan sebagai investasi paling abadi. Bangunan bisa tua, teknologi bisa usang, tetapi ilmu yang diwariskan akan terus bergerak lintas zaman.
Menariknya, sebagian besar kiprah filantropi Yana Aditya berjalan jauh dari sorotan publik. Tidak ada gegap gempita. Tidak ada narasi heroik berlebihan. Bahkan banyak yang baru mengetahui kontribusinya setelah proyek berjalan.
Ia memilih jalan sunyi—jalan yang sepi pujian tetapi padat makna. Sebuah teladan filantropi modern: profesional, terukur, dan berkelanjutan.
Dalam tradisi Muhammadiyah, sikap ini bukan hal asing. Amal usaha bukan tentang siapa yang memberi, melainkan siapa yang menerima manfaat. Dan Mas Adit tampaknya memahami betul falsafah itu.
Kisah Yana Aditya menjadi cermin bagi alumni perguruan tinggi Muhammadiyah—bahwa relasi dengan kampus tidak berhenti saat wisuda. Justru setelah sukses, ikatan itu diuji: apakah hanya menjadi nostalgia, atau berubah menjadi kontribusi nyata.
Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dari popularitas dan eksposur, Mas Adit menawarkan definisi lain: keberhasilan adalah ketika manfaat kita hidup lebih lama dari nama kita sendiri.
Gedung laboratorium itu kelak akan dipenuhi mahasiswa, riset, eksperimen, dan gagasan-gagasan baru. Mungkin tak semua yang belajar di sana mengenal siapa Yana Aditya. Tapi justru di situlah makna wakaf bekerja—diam, tetapi menggerakkan masa depan.
Dan di sanalah kedermawanan menemukan bentuknya yang paling jujur.





0 Tanggapan
Empty Comments