SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda) ditetapkan sebagai Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Tahun 2026 oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Penetapan tersebut menjadi bagian dari program pemerintah untuk mendorong penguatan pembelajaran berbasis teknologi serta pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam di berbagai jenjang pendidikan.
Penetapan tersebut tercantum dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Nomor 0010 Tahun 2026 yang mulai berlaku pada 12 Maret 2026. Melalui keputusan tersebut, pemerintah menunjuk sejumlah satuan pendidikan dari berbagai jenjang di Indonesia untuk menjadi sekolah model dalam penerapan pembelajaran mendalam serta penguatan literasi teknologi melalui koding dan kecerdasan artifisial.
Secara nasional, program tersebut melibatkan ratusan satuan pendidikan. Tercatat sebanyak 95 satuan pendidikan jenjang pendidikan anak usia dini, 321 sekolah dasar, 203 sekolah menengah pertama, serta 223 sekolah menengah atas yang ditetapkan sebagai sekolah model. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, mulai dari Aceh, Bali, Banten, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, hingga wilayah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, serta Papua.
Sebagai salah satu sekolah yang terpilih pada jenjang sekolah menengah atas, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo memperoleh kepercayaan untuk menjadi rujukan praktik baik dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi serta pendekatan pedagogi yang lebih mendalam. Program tersebut dirancang untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih bermakna sekaligus relevan dengan perkembangan teknologi.
Kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, M. Zainul Arifin, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya. Ia menyatakan bahwa penetapan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh warga sekolah untuk terus mengembangkan inovasi dalam proses pembelajaran.
“Penunjukan Smamda sebagai sekolah model tentu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi kami. Ini adalah kesempatan untuk memperkuat pembelajaran yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga pada pemahaman yang lebih mendalam serta pemanfaatan teknologi,” ujarnya.
Melalui program ini, sekolah model diharapkan mampu mengintegrasikan konsep pembelajaran mendalam, koding, serta kecerdasan artifisial ke dalam kurikulum dan kegiatan belajar di kelas. Selain itu, para guru juga didorong untuk terus mengembangkan kompetensi melalui berbagai kegiatan peningkatan kapasitas, termasuk melalui kelompok belajar serta kegiatan kolaboratif antarguru.
Selain mengembangkan praktik pembelajaran di lingkungan internal sekolah, Smamda juga diharapkan dapat berbagi pengalaman serta praktik baik kepada sekolah lain di wilayah sekitarnya. Dengan demikian, keberadaan sekolah model tersebut diharapkan dapat mendorong pengembangan inovasi pembelajaran yang lebih luas di lingkungan pendidikan.
Bagi SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, penetapan sebagai sekolah model implementasi pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial ini menjadi salah satu langkah dalam mengembangkan sistem pembelajaran yang menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Melalui program tersebut, sekolah berupaya mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments