Mengapa kita berislam? Islam harus dijadikan pilihan yang sadar dan rasional. Islam hadir sebagai agama yang membawa tuntunan dan nilai-nilai yang harus dipahami, dijalani, dan dibiasakan hingga membentuk karakter serta kebiasaan positif.
Berislam berarti kemampuan untuk menunjukkan perilaku yang unggul, bermutu, dan bermanfaat bagi sesama serta alam semesta.
Keislaman seseorang menjadi identitas kesalehan pribadi dan kesalehan sosial; keunggulannya membedakan Islam dari agama atau keyakinan lain.
Dengan berislam, diharapkan manusia memperoleh rida Allah dan menjalani kehidupan yang penuh keberuntungan.
Agar berislam memperoleh rida dan keberuntungan, manusia membutuhkan pedoman, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad.
Keduanya adalah warisan Nabi Muhammad bagi umatnya agar menjalani kehidupan dengan benar. Dengan Al-Qur’an dan sunah, perilaku umat tidak tersesat; melalui warisan ini diharapkan umat memperoleh rida Allah dan keberuntungan.
Agar praktik berislam benar, baik dalam ucapan maupun tindakan, Allah telah menyampaikan petunjuk-Nya melalui firman-Nya, dan Nabi Muhammad telah mengajarkannya melalui sunah beliau.
Keduanya termuat dalam Al-Qur’an dan hadis yang disusun oleh para sahabat, sehingga warisan Al-Qur’an dan Sunnah sampai kepada kita.
Isi keduanya dijaga oleh Allah melalui para penghafal (huffadz), baik penghafal Al-Qur’an maupun penghafal hadis.
Jarang ditemui agama atau keyakinan lain yang umatnya menghafal isi kitab pedoman agamanya secara sempurna.
Apa yang kita dapatkan dengan berislam? Jika seseorang menjalani Islam dengan pedomannya — Al-Qur’an dan sunah, membacanya dengan penuh penghayatan dan memahami pesannya dengan sungguh-sungguh, maka akan lahir kesadaran dan semangat berislam.
Pemahaman dan kesadaran itu dipraktikkan dalam bentuk amal perbuatan dan kebiasaan sehingga membentuk karakter positif.
Nilai-nilai Islam menyatu dalam ucapan, tindakan, hati, rasa, dan kepedulian terhadap sesama serta alam semesta.
Sesungguhnya berislam meliputi syariat (ibadah dalam bentuk ucapan dan perbuatan), thariqah (proses spiritual yang melibatkan hati), hakikat (pengalaman batin), dan ma’rifat (mengenal keagungan Allah melalui ciptaan-Nya). Inilah berislam secara kaffah.
Kehidupan adalah proses yang berujung pada balasan, yang dalam bahasa agama disebut pahala. Apa yang manusia peroleh pada hakikatnya merupakan hasil dari apa yang dibaca, dipahami, dipikirkan, dan dilakukan.
Bagi mereka yang berislam sungguh-sungguh, tentu akan memperoleh pahala yang setimpal.
Semua janji yang difirmankan Allah dan yang disabdakan Nabi Muhammad akan diperoleh manusia: kehidupan surga di dunia (duniawi) dan di akhirat (ukhrawi) penuh kemudahan, penghormatan, kemuliaan, kebahagiaan, keberkahan, dan pahala yang berlimpah.
Namun ada pula gambaran kehidupan neraka: penuh kesulitan, kesempitan, penderitaan, kelemahan, sengsara, kekurangan, dan tidak memperoleh apa-apa.
Mari berislam dengan kesungguhan (kaffah). Bacalah pedomannya dengan sungguh-sungguh, pahami isi dan pesannya, praktikkan dengan konsisten, dan yakinlah bahwa berislam dengan kesungguhan mendatangkan kemuliaan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments