Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ketika Bahasa Kehilangan Adab: Cermin Kemerosotan Peradaban

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ketika Bahasa Kehilangan Adab: Cermin Kemerosotan Peradaban
ilustrasi chatgpt.com
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Nashrul Mu'minin, S.Pd., C.PW., C.IJ Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Menjaga Martabat melalui Bahasa

Keberadaban masyarakat tidak cukup diukur melalui kemajuan teknologi. Tingginya pendidikan juga tidak otomatis menjamin kematangan moral.

Kefasihan berbicara pun belum mencerminkan penghormatan terhadap sesama. Ukuran peradaban terlihat melalui cara masyarakat memperlakukan orang lain.

Terutama mereka yang berbeda pandangan atau berkedudukan lebih lemah. Juga mereka yang tidak mampu membalas penghinaan. Bahasa beradab bukan bahasa yang menghapus konflik, tetapi yang membantu menyelesaikan konflik tanpa kehilangan kemanusiaan.

Selain itu, bahasa tersebut juga memberi ruang bagi kritik dan menuntut tanggung jawab. Bahasa itu mengakui kebebasan berekspresi sekaligus menjaga martabat. Karena itu, kebarbaran berbahasa berkaitan dengan pemahaman manusia tentang kebebasan.

Kebebasan kehilangan makna ketika manusia menggunakannya untuk melukai. Sebaliknya, kesantunan menjadi kosong ketika menutupi ketidakadilan.

Membangun peradaban berbahasa membutuhkan kesadaran terhadap kekuatan kata-kata. Kata-kata bukan sekadar bunyi atau tulisan. Kata-kata dapat membangun sekaligus merusak hubungan sosial.

Kita tidak harus sepakat untuk saling menghormati, juga tidak perlu mengorbankan ketegasan demi kesantunan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Tetapi kita perlu mempertahankan pendirian tanpa kehilangan nalar. Kita juga harus mengkritik tanpa merendahkan sesama. Kebebasan menuntut kesadaran terhadap konsekuensi setiap tindakan.

Masyarakat beradab bukan masyarakat tanpa perdebatan. Masyarakat beradab mampu mengelola perdebatan secara dewasa.

Ketika bahasa memperjelas persoalan, bahasa menjalankan fungsi kemanusiaannya. Bahasa juga harus membantu mengoreksi kekeliruan dan menjaga martabat.

Sebaliknya, penghinaan yang dianggap wajar merusak kehidupan bersama. Agresivitas yang dipuja sebagai keberanian hanya menghasilkan kemajuan semu. Peradaban sejati membutuhkan kemajuan sekaligus keluhuran moral.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 27/10/2026 14:12
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu