Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Dunia Mengejar Harta, Nabi Mewariskan Cahaya Akhlak

Iklan Landscape Smamda
Ketika Dunia Mengejar Harta, Nabi Mewariskan Cahaya Akhlak
Dr. Tho'at Stiawan. Foto: Dok/Pri
pwmu.co -

Warisan paling agung yang ditinggalkan Nabi Muhammad saw bukan berupa harta benda, jabatan, atau peninggalan duniawi, melainkan keteladanan hidup yang memancar dari setiap ucapan dan tindakannya.

Pesan itu disampaikan Dr. Tho’at Stiawan, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surabaya, dalam ceramahnya yang ditayangkan di kanal YouTube YAHS TV, seraya mengingatkan umat Islam agar tidak salah memahami makna warisan Rasulullah saw.

“Umat Islam sering kali salah menempatkan makna warisan. Banyak yang berlomba-lomba mencari peninggalan duniawi, tetapi abai terhadap warisan spiritual dan akhlak yang justru menjadi inti ajaran Rasulullah saw,” ujarnya.

Tho’at lalu mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami, yang menjelaskan bahwa tegaknya dunia dan kesejahteraan umat bertumpu pada empat pilar utama: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kedermawanan orang kaya, dan hati yang selamat (qalbun salim).

1. Ilmu Para Ulama

Pilar pertama, menurut Tho’at, adalah ilmu agama yang dimiliki dan diamalkan oleh para ulama. Dalam Syarah Hadis karya Imam As-Saukani yang dikutip Tho’at, disebutkan bahwa ilmu agama merupakan sumber utama nilai-nilai kehidupan yang mengarahkan manusia kepada kebaikan.

“Ilmu agama adalah nutrisi hati. Ia menjadikan hati kita hidup, bersih, dan selamat. Tanpa ilmu, iman mudah rapuh dan amal menjadi kehilangan arah,” tuturnya.

Dia juga menyinggung pandangan para ulama seperti Imam Abduh, Ibnu Taimiyah, dan Buya Hamka yang menyatakan bahwa ilmu agama merupakan fondasi tegaknya bangsa dan negara.
“Bangsa yang ditopang ilmu agama akan teguh berdiri, sebab akhlaknya lurus dan moralitasnya kokoh,” imbuhnya.

2. Keadilan Para Pemimpin

Pilar kedua adalah keadilan pemimpin. Mengutip kitab Riyadus Shalihin, Dr. Tho’at menegaskan bahwa setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin—baik dalam rumah tangga, lingkungan kerja, maupun masyarakat.

“Kita semua adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas keadilannya,” ujar beliau.

Menurutnya, adil tidak hanya berarti memberikan hak orang lain, tetapi juga menempatkan sesuatu pada tempatnya, menjauhkan diri dari kezaliman, dan menjaga keseimbangan dalam keputusan.

3. Kedermawanan Orang Kaya

Pilar ketiga, lanjut Tho’at, adalah kedermawanan orang-orang yang diberi kelebihan rezeki oleh Allah. Ia menekankan bahwa harta bukan sekadar milik pribadi, melainkan titipan yang mengandung tanggung jawab sosial.

“Allah menitipkan rezeki bukan hanya untuk diri kita. Ada hak orang lain di dalamnya,” tegasnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tho’at mengutip sabda Rasulullah SAW: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Menurut Tho’at, orang yang dermawan adalah orang yang mandiri dan kelak di akhirat akan mendapat kedudukan mulia karena sifat kedermawanannya.

4. Hati yang Selamat (Qalbun Salim)

Namun dari semua itu, Tho’at menekankan bahwa yang paling penting adalah qalbun salim, hati yang selamat. Tanpa hati yang bersih, tiga pilar lainnya akan kehilangan makna.

Dalam penjelasannya, dia mengutip pandangan Imam As-Saukani dalam Attahqiq fil Haq, bahwa hati yang selamat adalah hati yang ghairu maridh wa ghairu mawt, tidak sakit dan tidak mati.

“Hati yang hidup selalu disirami oleh ilmu dan amal kebaikan. Bila hati baik, maka seluruh tubuh dan amal kita akan baik. Tapi jika hati rusak, rusaklah semuanya,” ujar Dr. Tho’at mengutip hadis Nabi Muhammad saw.

Lebih lanjut, Tho’at mengajak jamaah untuk memperkokoh iman dan takwa sebagai bentuk penerapan uswah hasanah Rasulullah saw. Dia menyinggung firman Allah dalam surah Al-Hujurat dan Al-Mu’minun tentang pentingnya menjaga keimanan dan ketakwaan dalam hati.

“Allah memerintahkan kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan bukan karena Allah butuh, tetapi karena manfaatnya kembali kepada kita,” ujarnya.

Tho’at mengutip janji Allah dalam Al-Qur’an: “Inna lil-muttaqina mafaza” (Sesungguhnya bagi orang-orang bertakwa disediakan kemenangan dan keberuntungan).

Menurutnya, keberuntungan sejati bukan terletak pada banyaknya harta atau jabatan, melainkan pada ketenangan hati dan keselamatan di akhirat.

“Orang yang beriman dan bertakwa akan ditunjukkan Allah ke jalan yang lurus, diampuni dosanya, dan kelak diberi balasan berupa surga,” kata Dr. Tho’at penuh keyakinan.

Tho’at juga mengajak jamaah untuk merenungkan kembali posisi mereka sebagai umat Nabi Muhammad saw, umat yang telah diwarisi teladan mulia, namun sering kali lalai meneladaninya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu