
PWMU.CO – Dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional, siswa SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) mempersembahkan karya sastra berupa puisi. Kegiatan ini berlangsung di ruang kelas X-7, lantai 7 Smamita Tower, Jalan Raya Ketegan No 35, Sepanjang, Sidoarjo, pada Rabu (30/4/2025).
Setelah mengikuti pembiasaan pagi seperti shalat duha berjamaah, doa bersama, dan membaca al-Quran di kelas, kegiatan dilanjutkan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia. Guru Bahasa Indonesia, M Nashiiruddin Addaa’i SPd MPd, mengajak siswa berdiskusi tentang proses pendidikan di Indonesia.
Diskusi itu menjadi pembuka yang menarik hingga beberapa siswa menyampaikan pandangan beragam. “Terkait peringatan Hari Pendidikan Nasional yang akan kita rayakan pekan ini, mari kita jadikan momen ini sebagai semangat untuk terus berjuang menggapai cita-cita. Silakan tuangkan semangat tersebut dalam bentuk puisi,” ajaknya kepada siswa.
Salah satu hasil karya yang menonjol adalah puisi berjudul Aku, karya Ameira Zalfa Ranetta, siswi kelas X-7. Puisi ini menjadi persembahan spesial dalam rangka Hari Pendidikan Nasional.
Aku
Karya: Ameira Zalfa RanettaAku berdiri di tengah medan ini
Aku lahir dan besar dengan nama ini
Aku bukan manusia
Aku hanya sebuah kata tak berasaNamaku simbol cerdas katanya
Namaku pembunuh kebodohan katanya
Menemani malam-malam panjang tanpa keluh
Menemani hidup dalam benak yang haus ilmuAku bukan guru, bukan pula murid
Namun tanpaku, keduanya terasa sunyi
Aku ada di setiap langkah yang bangkit
Menuntun jiwa untuk meraih mimpiMeski tak tampak oleh mata
Aku tumbuh di kepala yang terbuka
Mengalir dalam diskusi dan tanya
Menjadi cahaya di tengah gelap gulitaAku diagung-agungkan oleh mereka
Aku dikata tak ada tandingannya oleh mereka
Namun aku tak merasa hebat
Aku menangis di berbagai ruang hebatMeski bukan tokoh utama dalam cerita
Meski jarang disebut dan dilupa
Sekali saja kau memahamiku
Aku bisa mengubah jalan hidupmu
Dalam penjelasannya, Ameira menyampaikan bahwa “Aku” dalam puisi ini bukanlah manusia, melainkan ilmu. Ia menggambarkan ilmu sebagai sesuatu yang tak berwujud namun sangat penting, tumbuh dalam pikiran manusia, dan menjadi sahabat sejati dalam proses belajar.
“Ilmu sering dikaitkan dengan kecerdasan dan menjadi lawan dari kebodohan. Ia hadir dalam malam panjang, menemani siapa saja yang haus akan pengetahuan,” jelasnya.
Ia menambahkan, meski bukan guru atau murid, ilmu menjadi bagian penting dari keduanya. Tanpa ilmu, perjalanan pendidikan menjadi sunyi. Ilmu adalah penuntun menuju mimpi.
“Ilmu tidak kasat mata, tetapi ia hidup dalam kepala yang terbuka, dalam diskusi dan pertanyaan, menjadi cahaya di tengah kegelapan pemahaman,” lanjutnya.
Ia juga menyentil bahwa meskipun sering diagungkan, ilmu kerap diabaikan. Banyak yang memuji tanpa menghargainya secara nyata. Ini adalah jeritan ilmu yang merindukan penghargaan sejati.
“Walaupun bukan tokoh utama dalam kisah hidup manusia, ilmu punya kekuatan besar. Sekali saja dipahami dan dihargai, ia mampu mengubah hidup seseorang sepenuhnya,” pungkas Ameira yang juga aktif di IPM.
Melalui materi Bab 3 “Berkarya dan Berekspresi Melalui Puisi”, guru menjelaskan bahwa pembuatan puisi harus dilakukan dengan kesungguhan. Inspirasi bisa datang dari situasi apa pun.
“Langkah awal dalam menulis puisi adalah menentukan tema dan judul. Keduanya menjadi dasar dalam membangun puisi yang bermakna, meskipun setiap orang memiliki gaya dan ciri bahasa masing-masing,” ujar Nashiiruddin. (*)
Penulis Florence Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments