Kadang hidup terasa seperti lautan luas yang tiba-tiba bergelora. Ombak masalah datang silih-berganti tanpa memberi waktu bagi kita untuk menghela napas.
Kita berusaha berdiri tegak, namun kaki serasa tenggelam dalam pasir kesulitan. Pada titik-titik tertentu, manusia wajar bertanya dalam hati: “Mengapa hidup tidak berjalan seperti yang kuharapkan?”
Padahal kita tahu, Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa badai. Ia tidak berjanji semua akan mudah, semua akan berjalan sesuai rencana kita. Namun Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih berharga: Dia selalu bersama kita.
Kasih-Nya sering hadir lewat cara-cara yang sering kali tidak kita sadari—sangat halus, sederhana, namun menguatkan jiwa yang lelah.
Dalam rasa lega setelah mengadu—seperti seseorang yang duduk sendirian di atas sajadah di tengah malam, menumpahkan segala sesaknya, lalu bangkit dengan hati yang terasa lebih ringan.
Dalam kekuatan yang entah dari mana muncul ketika kita hampir menyerah—laksana ibu yang tetap tersenyum demi anaknya, meski ia sendiri sedang menahan duka yang dalam.
Dalam ketenangan yang perlahan kembali setelah tangis reda—mirip langit yang berangsur cerah setelah hujan deras, memberi harapan bahwa badai tak pernah abadi.
Dalam kesempatan baru yang tiba-tiba terbuka—peluang pekerjaan yang tidak disangka, pintu kebaikan yang datang tanpa diduga, atau seseorang yang muncul tepat saat kita membutuhkan bantuan.
Dalam detik-detik kecil yang membuat kita sadar bahwa kita masih dalam penjagaan-Nya—seperti ketika kita selamat dari bahaya kecil yang tak kita sangka, atau ketika ada hati yang menguatkan saat kita hampir runtuh.
Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata:
“Termasuk nikmat Allah terbesar yang diberikan kepada seorang hamba adalah Allah menurunkan ketenangan di dalam kalbunya. Sehingga dia merasa tenteram, tidak gelisah, tidak bimbang, merasa rida terhadap keputusan Allah dan takdirnya. Apabila menimpanya kesusahan dia pun bersabar dan menunggu jalan keluar dari Allah. Apabila mendapat kesenangan dia akan bersyukur dan memuji Allah atas hal itu.” (Syarh Riyadhus Shalihin 4/709)
Betapa benarnya perkataan itu. Dalam perjalanan hidup yang penuh retakan ini, Allah tidak hanya melihat keberhasilan kita, tetapi juga ratapan dan perjuangan kita.
Bahkan ketika kita merasa tidak pantas, ketika kita merasa hidup kita terlalu berantakan, Allah tetap memberikan kesempatan demi kesempatan untuk kembali.
Seperti seorang ayah yang merindukan anaknya pulang, Allah selalu membuka pintu bagi hamba-Nya—tanpa batas, tanpa syarat yang memberatkan.
Selama nyawa masih ada, selama napas masih keluar masuk dada kita, pintu ampunan-Nya tetap terbuka lebar. Pulanglah. Allah tidak pernah jauh. Kita saja yang terlalu sering pergi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Maka marilah kita berdoa dengan penuh kerendahan:
Yaa Allah, tolonglah kami agar senantiasa berdzikir kepada-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, dan memperbaiki ibadah kami kepada-Mu. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments