Menghidupkan sunah Rasulullah saw bukan sekadar mengetahui dalil dan keutamaannya, tetapi membangun kebiasaan agar amalan tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir sebelum tidur, hingga puasa sunah, semuanya membutuhkan niat dan konsistensi.
Demikian tausiyah Prof. Dr. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil.I dalam Pengajian Khoiru Ummah yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bubutan di Masjid Al Jihad, Dupak Jaya V, Surabaya, Ahad (8/11/2026).
Mengangkat tema “Sunnah yang Sering Ditinggalkan atau Dilupakan”, Zuhdi mengajak jamaah menjadikan amalan sunnah sebagai bagian dari rutinitas, bukan sekadar pengetahuan yang disimpan setelah mengikuti pengajian.
Menurutnya, sejumlah amalan yang diajarkan Rasulullah saw dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.
“Namun, untuk menjaganya tetap berlangsung, diperlukan kesungguhan dan latihan secara berkelanjutan,” ujar Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jatim itu.
Zuhdi menempatkan salat malam sebagai salah satu amalan penting yang perlu dihidupkan kembali. Ibadah ini merupakan tradisi orang-orang saleh sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 79:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Zuhdi juga mengutip hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan Ahmad dan Tirmidzi tentang keutamaan qiyamul lail.
Salat malam merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum umat Islam, sarana mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dosa, menghapus kesalahan, dan menjadi ikhtiar menjaga kesehatan
Untuk membangun kebiasaan tersebut, Zuhdi menyarankan jamaah membulatkan niat, berdoa agar diberi kemudahan bangun malam, serta melakukan ikhtiar praktis seperti memasang alarm.
“Bangun pada sepertiga malam terakhir, misalnya sekitar pukul tiga dini hari, dapat menjadi salah satu pilihan waktu untuk memulai latihan (salat malam),” katanya.
Namun,Zuhdi mengingatkan, pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Kesungguhan beribadah tidak berarti memaksakan diri ketika terdapat uzur.
Membaca Al-Qur’an, Bukan Sekadar Mengejar Khatam
Amalan berikutnya yang ditekankan Achmad Zuhdi adalah membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari.
Dia menjelaskan, membaca Al-Qur’an tetap bernilai pahala meskipun seseorang belum memahami maknanya.
“Akan tetapi, membaca dengan disertai pemahaman dan pengamalan akan membuat hubungan seorang muslim dengan Al-Qur’an semakin utuh,” ujarnya.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.”
Hadis riwayat Tirmidzi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap bacaan Al-Qur’an memiliki nilai kebaikan.
“Dalam membangun rutinitas, target khatam Al-Qur’an sekali dalam sebulan sebagai salah satu pola yang dapat dibiasakan,” kata Zuhdi.
Meski demikian, dia juga mengingatkan pentingnya menjaga waktu membaca agar seseorang dapat memahami dan meresapi kandungannya.
Zuhdi mengutip hadis riwayat Abu Dawud:
لَا يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ
“Tidak akan memahami dengan baik orang yang membaca Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari.”
Dengan demikian, membaca Al-Qur’an tidak semata-mata berorientasi pada jumlah khatam, tapi juga pada kesempatan untuk memahami dan mengamalkan pesan yang terkandung di dalamnya.
Zuhdi turut menyinggung penelitian Dr. Ahmad Al-Qadhi di Amerika Serikat pada era 1980-an mengenai perubahan kondisi fisik dan psikologis seseorang ketika diperdengarkan bacaan Al-Qur’an.
“Membaca Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan jiwa dan membangun ketenangan batin,” ungkapnya.
Zikir Sebelum Tidur, Menutup Hari dengan Mengingat Allah
Kebiasaan menghidupkan sunnah juga dapat dimulai menjelang tidur. Achmad Zuhdi mengajak jamaah membiasakan berwudu sebelum tidur, membaca zikir, dan memanjatkan doa.
Amalan tersebut menjadi bagian dari upaya seorang muslim mengingat Allah sekaligus memohon perlindungan-Nya.
Salah satu doa tidur yang diajarkan Rasulullah saw adalah:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأَمُوتُ
“Dengan nama-Mu, ya Allah, aku hidup dan aku mati.”
Doa tersebut diriwayatkan oleh Bukhari.
“Rasulullah saw juga membiasakan membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum tidur. Selain itu, jamaah dianjurkan membaca Ayat Kursi serta dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah,” terangnya.
Membiasakan amalan sebelum tidur, menurut materi kajian tersebut, dapat menjadi cara menjaga hubungan dengan Allah dalam aktivitas sehari-hari, termasuk ketika seseorang hendak beristirahat.
Puasa Sunah, Menjaga Ibadah Sesuai Kemampuan
Achmad Zuhdi juga mengajak jamaah membiasakan puasa sunnah sebagai bagian dari kehidupan beragama.
Beberapa pilihan yang dapat dilakukan antara lain puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan atau Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 kalender Hijriah, serta puasa Daud yang dilakukan sehari berpuasa dan sehari tidak.
Mengenai puasa Senin dan Kamis, Rasulullah saw bersabda:
تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis. Aku senang apabila amalku diperlihatkan ketika aku sedang berpuasa.”
Hadis riwayat Tirmidzi tersebut menjelaskan salah satu alasan Rasulullah saw menyukai puasa pada kedua hari itu.
Sementara itu, puasa tiga hari setiap bulan memiliki keutamaan sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, yakni nilainya seperti puasa sepanjang tahun.
“Adapun puasa Daud merupakan puasa yang paling dicintai Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah saw menerangkan bahwa puasa tersebut dilakukan sehari berpuasa dan sehari berbuka,” beber Zuhdi.
Zuhdi mengingatkan jamaah agar menjalankan puasa sunah sesuai kemampuan. Amalan tersebut tidak perlu dipaksakan apabila terdapat halangan atau kondisi yang tidak memungkinkan.
Dalam pembahasan ini, dia turut mengangkat konsep autofagi (autophagy), yakni mekanisme alami tubuh untuk mendaur ulang komponen sel yang rusak atau tidak lagi berfungsi dengan baik.
Konsep tersebut menjadi salah satu pembahasan ilmiah dalam penelitian mengenai puasa dan kesehatan.
Zuhdi juga mengingatkan ungkapan shumu tashihhu atau “berpuasalah, niscaya kalian sehat” sering dikutip dalam pembahasan manfaat puasa, tetapi tidak dapat dinisbatkan sebagai hadis Rasulullah saw. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments