Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur, Ramanda Fathurrahim Syuhadi, menyampaikan sambutan penuh makna dalam rangka menyambut Idul Fitri 1447 H.
Dalam pesannya, ia menekankan pentingnya menjadikan hari kemenangan sebagai momentum untuk kembali kepada fitrah serta memperkuat komitmen pengabdian kepada umat dan bangsa.
Mengawali sambutannya, Fathurrahim mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Swt atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga umat Islam dapat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan. Ia juga menyampaikan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw sebagai teladan utama dalam kehidupan.
“Atas nama Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur, kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt dan kita diberi kekuatan untuk meraih derajat takwa yang sesungguhnya,” ujarnya kepada PWMU.CO, Ahad (22/3/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar tradisi tahunan atau perayaan seremonial, melainkan momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah manusia yang suci. Fitrah tersebut, menurutnya, tercermin dalam hati yang ikhlas, lisan yang terjaga, serta perilaku yang mencerminkan akhlak mulia.
Ia juga menyoroti makna penting perjalanan Ramadan sebagai proses pembinaan diri. Selama sebulan penuh, umat Islam ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli terhadap sesama, serta lebih bertanggung jawab dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai inilah yang diharapkan tetap terjaga dan terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadan berakhir.
Dalam konteks organisasi, Fathurrahim Syuhadi ini mengingatkan bahwa keluarga besar Hizbul Wathan memiliki tanggung jawab moral untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya memperkuat ukhuwah serta menghadirkan manfaat nyata bagi umat.
“Semangat kepanduan yang kita miliki hendaknya semakin menguatkan komitmen kita untuk menjadi kader yang berkarakter, berintegritas, dan siap mengabdi,” tegasnya Wakil Ketua LPCR PM PWM Jawa Timur ini
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan. Dengan penuh kerendahan hati, ia mengakui bahwa sebagai manusia, tidak luput dari kekurangan, baik dalam perkataan, sikap, maupun dalam menepati janji.
“Kami memohon maaf atas lisan yang mungkin tidak terjaga, atas sikap yang mungkin kurang berkenan, serta atas janji-janji yang mungkin belum dapat kami tepati,” ungkap pria yang tinggal di Babat Lamongan ini
Menurutnya, budaya saling memaafkan menjadi fondasi penting dalam mempererat persaudaraan. Dengan hati yang bersih, setiap individu dapat melangkah ke depan dengan semangat baru, membangun kebersamaan yang lebih kokoh, serta menghadirkan karya terbaik bagi umat, bangsa, dan persyarikatan.
Selain itu, Fathurrahim turut memanjatkan doa agar seluruh umat senantiasa diberikan nikmat terbaik oleh Allah Swt, mulai dari kesehatan, kebahagiaan, hingga umur yang berkah dan bermanfaat. Ia berharap setiap langkah kehidupan ke depan semakin ringan dalam kebaikan, semakin kuat dalam perjuangan, dan semakin ikhlas dalam pengabdian.
Ia juga menyampaikan harapan agar umat Islam dapat kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan di masa mendatang dalam kondisi yang lebih baik dan lebih siap. Menurutnya, kesempatan bertemu Ramadan merupakan nikmat yang sangat berharga dan tidak ternilai.
Menutup sambutannya, Fathurrahim mengajak seluruh kader Hizbul Wathan untuk menjadikan Idul Fitri sebagai titik awal perubahan. Ia menekankan pentingnya memperbaiki diri, mempererat tali silaturahmi, serta memperkuat komitmen sebagai kader yang siap memimpin dan menginspirasi.
“Marilah kita jadikan Idul Fitri ini sebagai awal untuk memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, dan memperkuat komitmen kita sebagai kader Hizbul Wathan yang siap memimpin dan siap menginspirasi,” ungkap penulis buku Naik Derajat di Bulan Ramadhan
Sambutan ini menjadi pengingat bahwa esensi Idul Fitri tidak berhenti pada perayaan, tetapi harus tercermin dalam perubahan sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan, diharapkan nilai-nilai Ramadan terus hidup dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
Sambutan Penulis buku Jejak Hizbul Wathan Jawa Timur ini juga diwarnai dengan penyampaian pantun yang sarat makna sebagai bentuk ajakan untuk saling memaafkan:
Pergi ke taman memetik melati // Harumnya semerbak hingga ke hati // Jika ada salah diri ini // Mohon maaf setulus hati.
Ke pasar membeli buah delima // Tak lupa membeli bunga kenanga // Hari Fitri saatnya kita bersama // Saling memaafkan penuh bahagia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments