Kemudahan layanan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan masyarakat dalam memilih Lazismu sebagai tempat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Namun, di balik potensi tersebut, Lazismu masih menghadapi tantangan dalam membangun kedekatan dengan para donatur dan mengomunikasikan program-programnya secara persuasif.
Dua temuan itu dipaparkan Ketua Lazismu Jawa Timur, Prof. Dr. Sigit Hermawan, SE., M.Si., saat menjadi narasumber sesi kedua Pelatihan Sertifikasi Amil Lazismu Jatim Batch 2 di UPT Peningkatan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kota Malang,Jumat (16/10/2026
Dalam pelatihan yang diikuti 36 peserta tersebut, Ketua Lazismu Jawa Timur mengungkapkan hasil dua penelitian yang mengkaji perilaku donatur, baik mereka yang memilih Lazismu maupun yang menyalurkan donasi melalui lembaga lain.
Pertama, Penelitian yang dilakukan pada 2025, bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi masyarakat dalam memilih Lazismu untuk berdonasi atau membayar ZIS. Respondennya secara khusus dipilih dari kalangan di luar karyawan, guru, dan dosen yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Pemilihan responden di luar lingkungan internal Muhammadiyah itu dilakukan agar penelitian dapat menggambarkan pertimbangan donatur secara lebih objektif.
“Kalau respondennya dari internal Muhammadiyah, sudah pasti akan membayar ZIS-nya di Lazismu. Bahkan, ada yang langsung dipotong oleh AUM-nya,” jelas Ketua Lazismu Jatim yang juga menjabat Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan, kepercayaan, religiusitas, reputasi, serta keamanan dan kenyamanan menjadi pertimbangan masyarakat dalam berdonasi melalui Lazismu.
Di antara faktor-faktor tersebut, kemudahan menempati posisi paling penting. Kemudahan yang dimaksud mencakup layanan yang mudah dipelajari, jelas dan mudah dipahami, fleksibel, serta praktis digunakan.
Temuan ini, menurut Ketua Lazismu Jatim menjadi pijakan bagi Lazismu untuk memperluas akses layanan dan memperkuat kanal pembayaran digital. Strategi yang dapat dikembangkan antara lain melalui platform donasi digital, integrasi dengan marketplace, perbankan syariah dan aplikasi pembayaran populer seperti dompet digital, serta layanan jemput ZIS.
Ketua Lazismu menegaskan, hasil penelitian tersebut penting dipahami para amil karena merekalah yang berada di garis depan dalam melayani muzakki dan donatur.
“Hasil penelitian ini sengaja Ia sampaikan kepada 36 peserta sertifikasi amil karena merekalah ujung tombak atau garda terdepan Lazismu dalam melayani muzakki atau donatur,” ujarnya.
Mengapa Donatur Memilih Lembaga Lain?
Kedua, Penelitian mengangkat persoalan yang tak kalah penting: mengapa sebagian muzakki atau donatur tidak memilih Lazismu untuk menyalurkan ZIS?
Riset yang dilaksanakan pada Januari hingga April 2026 itu melibatkan informan dari kalangan donatur Nurul Hayat, Yatim Mandiri, dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), termasuk para manajer lembaga tersebut.
Dari penelitian itu, Sigit mengidentifikasi sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian Lazismu. Di antaranya, belum kuatnya kedekatan personal antara staf Lazismu dan donatur, kurang menariknya penyampaian cerita mengenai program, promosi yang belum optimal, serta komunikasi persuasif yang masih perlu ditingkatkan.
Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Lazismu untuk memperkuat hubungan dengan donatur, menurut Sigit, kepercayaan masyarakat perlu diiringi pendekatan yang lebih personal, komunikasi yang efektif, dan penyampaian program yang mampu menggugah kepedulian.
Ketua Lazismu Jatim juga mengingatkan agar Lazismu tidak terlena oleh kebanggaan terhadap besarnya organisasi Muhammadiyah.
Kebanggaan tersebut, jika membuat organisasi merasa nyaman dan berhenti berbenah, justru dapat melemahkan daya juang.
“Kadang kita ini terlena oleh pernyataan kalau Muhammadiyah ini adalah organisasi terkaya keempat di dunia, sudah merasa nyaman atau ada di comfort zone sehingga daya juangnya menjadi lemah,” ungkapnya.
Ketua Lazismu PWM Jatim menyebut temuan penelitian kedua sebagai otokritik bagi seluruh jajaran Lazismu agar terus meningkatkan semangat dan kualitas pelayanan.
Dua penelitian tersebut, menurutnya, menghadirkan pesan penting bagi pengembangan Lazismu: memudahkan masyarakat dalam berdonasi harus berjalan beriringan dengan membangun kedekatan, memperkuat komunikasi, dan menyampaikan program secara lebih menarik. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments