Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH. Ahmad Sulaiman, Perintis Pendidikan Islam Modern Muhammadiyah Bojonegoro

Iklan Landscape Smamda
KH. Ahmad Sulaiman, Perintis Pendidikan Islam Modern Muhammadiyah Bojonegoro
KH Ahmad Sulaiman. Foto: Pribadi/PWMU.CO
Oleh : Rangga Adhitya Putra Mahasiswa UM Surabaya

Sosok KH. Ahmad Sulaiman menempati posisi penting dalam perjalanan Muhammadiya Bojonegoro. Dengan ketenangan, ketegasan, dan gagasan besarnya tentang pentingnya pendidikan Islam modern, beliau menjadi tokoh yang mengubah wajah pendidikan di wilayah ini.

Lahir pada 1940-an di sebuah desa religius di pinggiran Bojonegoro, Ahmad Sulaiman tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai keislaman sejak dini. Ayahnya seorang guru ngaji dan ibunya aktif dalam kegiatan sosial desa, sehingga sejak kecil ia terbiasa berada dalam lingkungan yang menghargai ilmu dan pengabdian. Ketertarikannya pada ilmu agama semakin besar ketika ia menempuh pendidikan di berbagai pesantren Jawa Timur, tempat ia mendalami fikih, akidah, tafsir, dan hadis.

Perjumpaannya dengan pemikiran Muhammadiyah terjadi ketika ia melanjutkan pendidikan di Jawa Tengah. Di sana, ia mengenal gagasan modernisasi pendidikan, pengelolaan amal usaha yang sistematis, serta dakwah yang membebaskan dan memberdayakan. Pemikiran itu memberikan fondasi kuat bagi perjalanan panjangnya ketika pulang ke Bojonegoro.

Pada akhir 1960-an, KH. Ahmad Sulaiman resmi bergabung dengan Muhammadiyah. Ia memulai dari tugas kecil sebagai pengajar surau dan madrasah. Namun dari ruang kecil itu, lahir mimpi besar untuk menghadirkan pendidikan Islam yang lebih maju. Dengan kerja keras, kesabaran, dan kemampuan mendekati masyarakat, beliau merintis pendirian sekolah Islam modern Muhammadiyah. Saat itu sarana sangat terbatas, tetapi beliau tidak pernah berhenti meyakinkan warga bahwa pendidikan adalah jalan perubahan.

Melalui pendekatan penuh keteladanan, beliau mengajak masyarakat terlibat dalam pembangunan sekolah, melatih guru-guru muda, menyusun kurikulum terpadu antara agama dan ilmu umum, serta menegakkan budaya disiplin di lingkungan pendidikan. Sekolah yang ia bangun kemudian berkembang menjadi amal usaha penting yang melahirkan banyak kader dan intelektual muda Bojonegoro.

Selain di dunia pendidikan, KH. Ahmad Sulaiman juga aktif berdakwah di tengah masyarakat. Ia mengisi pengajian, mendampingi kelompok tani, dan menggerakkan koperasi jamaah. Ia percaya bahwa dakwah tidak cukup dengan ceramah, tetapi harus dibarengi usaha nyata untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Di tangan beliau, Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan berbagai komunitas jamaah ikut bergerak dan berkembang.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kepribadiannya dikenal tenang, merangkul, tetapi tegas dalam prinsip. Ia memandang organisasi bukan sekadar wadah formal, tetapi tempat menempa diri dan membangun peradaban. Banyak kader muda Muhammadiyah mengingatnya sebagai sosok yang selalu hadir dengan nasihat yang meneduhkan, langkah yang tertata, dan keteladanan yang kuat.

KH. Ahmad Sulaiman wafat pada awal 2000-an. Kepergiannya menjadi kehilangan besar, tetapi jejak perjuangannya tetap hidup. Sekolah-sekolah yang ia rintis terus berkembang, budaya belajar yang ia tanamkan menjadi ciri khas, dan kader-kader yang dibina meneruskan langkahnya dalam dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Warisan terbesar beliau bukan hanya bangunan fisik atau lembaga yang berdiri, melainkan nilai-nilai tentang kesungguhan, disiplin, dan cita-cita besar untuk memajukan umat. Melalui kiprahnya, Bojonegoro mengenal bahwa perubahan bisa dimulai dari satu sosok yang percaya bahwa ilmu dan pendidikan adalah cahaya peradaban. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡