KH Mas Mansur (1896–1946) merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah pembaruan Islam di Indonesia. Lahir di Surabaya dari keluarga ulama, beliau tumbuh dalam suasana keagamaan yang kuat namun terbuka terhadap gagasan modern. Perjalanan hidupnya menjadi bukti perpaduan harmonis antara tradisi pesantren dan dinamika intelektual dunia Islam.
Akar Pendidikan Pesantren hingga ke Al-Azhar
Sejak muda, KH Mas Mansur dikenal tekun menuntut ilmu. Ia belajar di sejumlah pesantren terkemuka di Jawa Timur, mendalami fikih, tafsir, hadis, dan berbagai ilmu alat. Semangat intelektualnya membawanya hijrah ke Mekah, di mana ia berinteraksi dengan ulama dari berbagai negara.
Perjumpaan dengan wacana pembaruan Islam semakin terbuka ketika beliau melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Mesir—pusat gagasan modernisme Islam yang dipelopori Muhammad Abduh dan Rashid Ridha. Pemikiran inilah yang kelak membentuk karakter reformis KH Mas Mansur.
Kembali ke Surabaya: Dakwah Rasional dan Mencerahkan
Pulang ke Tanah Air, KH Mas Mansur tampil sebagai ulama muda yang cerdas, argumentatif, dan membawa corak dakwah baru. Surabaya sebagai kota dagang dan persinggahan internasional menjadi tempat strategis bagi gagasan pembaruannya berkembang.
Dalam dakwahnya, ia menolak praktik-praktik keagamaan yang tidak berdasar dalil. Pesannya disampaikan secara santun, logis, dan mudah dipahami, sehingga diterima luas oleh berbagai kalangan—dari ulama pesantren, saudagar, kaum terdidik, hingga pemuda.
Membesarkan Muhammadiyah Jawa Timur
Keterlibatannya di Muhammadiyah memperkuat gerakan pembaruan di Jawa Timur. KH Mas Mansur melihat Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang mampu menggerakkan perubahan secara terstruktur.
Melalui jaringan pendidikan Muhammadiyah di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan wilayah lainnya, beliau mendorong model pembelajaran yang memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Baginya, kebangkitan umat hanya bisa dicapai melalui pendidikan yang berkualitas dan berorientasi masa depan.
Ketua PB Muhammadiyah dan 12 Langkah Pembaruan
Pada 1937, KH Mas Mansur dipercaya menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Pada masa inilah ia merumuskan “12 Langkah Muhammadiyah”, pedoman gerakan yang menekankan moralitas, kedisiplinan, pemurnian ajaran, dan kemajuan pendidikan.
Beberapa poin penting dalam 12 Langkah antara lain: memperbaiki budi pekerti, memperbanyak amal shaleh, memperkuat organisasi, memperdalam pengetahuan agama, serta berjuang bagi kemajuan umat. Warisan intelektual ini masih menjadi rujukan penting dalam gerakan Muhammadiyah hingga sekarang.
Peran Kebangsaan dan Jejak Politik
Tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, KH Mas Mansur juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Ia turut mendirikan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) sebagai wadah persatuan berbagai organisasi Islam di masa kolonial.
Pada masa pendudukan Jepang, beliau terlibat dalam Gerakan Tiga Serangkai bersama Ir. Soekarno dan Ki Hajar Dewantara. Di posisi itu, beliau turut memperjuangkan kepentingan rakyat dan membangkitkan kesadaran kebangsaan, meski dalam tekanan politik yang tidak mudah.
Sikapnya yang tenang, bijaksana, dan teguh pada prinsip membuatnya dihormati lintas kalangan.
Pemikiran dan Kontribusi Intelektual
KH Mas Mansur dikenal sebagai ulama pembaru yang memadukan dalil dengan rasionalitas. Ia menolak praktik keagamaan tanpa dasar, dan mengajak umat Islam untuk memahami agama melalui ilmu dan penalaran yang jernih.
Gagasan-gagasannya memberi warna penting dalam perkembangan teologi Muhammadiyah Jawa Timur dan memengaruhi generasi penerus hingga kini. Beliau menjadi contoh ulama yang mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan pijakan pada prinsip dasar Islam.
Wafat dan Warisan Keteladanan
KH Mas Mansur wafat pada 1946. Namun, warisan perjuangannya tetap hidup melalui sekolah, lembaga dakwah, sistem organisasi, dan terutama pola pikir progresif yang ia wariskan.
Beliau meninggalkan teladan bahwa Islam adalah kekuatan pencerahan dan pembebasan, dan bahwa dakwah harus diwujudkan melalui amal nyata, pendidikan, dan keteguhan moral. Jejak perjuangannya menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan Muhammadiyah dan kebangkitan Islam modern di Indonesia.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments