Iman kepada hari akhir tidak cukup menjadi keyakinan di dalam hati. Keimanan itu harus tercermin dalam kualitas ibadah, perilaku, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT semestinya mendorong seorang Muslim untuk semakin taat dan menjauhi larangan-Nya.
Penegasan tersebut disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr. KH. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, dalam kultum Subuh rutin di Masjid Al Ikrom Wage, Kamis (22/10/2026).
Dalam kajian tersebut, Sholihin mengingatkan bahwa keyakinan terhadap kehidupan akhirat tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan tentang kiamat, surga, dan neraka.
“Keyakinan itu harus menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, menjaga amanah, memperbaiki ibadah, dan memberikan manfaat kepada sesama,” ujarnya.
Kiai Sholihin mengajak jamaah membaca doa agar diberikan keteguhan iman, kekuatan menempuh jalan kebenaran, kemampuan mensyukuri nikmat Allah, serta kesungguhan dalam beribadah.
Doa tersebut berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala urusan dan tekad yang kuat untuk menempuh jalan kebenaran. Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik. Aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib.”
Kiai Sholihin kemudian mengingatkan pentingnya mensyukuri seluruh nikmat Allah SWT, terutama nikmat iman dan Islam.
“Syukur tidak cukup diucapkan melalui lisan, tetapi harus diwujudkan melalui ketaatan, perbaikan kualitas ibadah, dan kesediaan menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kebaikan,” paparn dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu.
Dia lalu mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 4–5:
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ٤
أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ٥
“Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Baqarah: 4–5).
Ayat tersebut, terang dia, menegaskan bahwa keyakinan terhadap akhirat merupakan salah satu karakter orang bertakwa.
Keyakinan itu menjadi pedoman dalam menentukan arah hidup, sehingga manusia tidak hanya mengejar kesenangan sesaat, tetapi juga mempersiapkan keselamatan di akhirat.
Iman kepada Hari Akhir Fondasi Kehidupan Muslim
Kiai Sholihin menjelaskan, setiap Muslim wajib meyakini datangnya hari kiamat, baik kiamat sugra maupun Kiamat kubra.
“Kematian yang dialami setiap manusia menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya. Sementara itu, Kiamat kubra menandai berakhirnya kehidupan dunia dan dimulainya rangkaian peristiwa akhirat,” jelas dia.
Dalam hadis tentang iman, Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hakikat iman. Rasulullah menjawab:
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ. قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ».
“Jibril berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang iman!’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’” (HR Muslim No. 8).
Dijelaskan Kiai Sholihin, hadis tersebut menempatkan iman kepada hari akhir sebagai salah satu rukun iman yang wajib diyakini setiap Muslim.
“Keyakinan itu semestinya menghadirkan kesadaran bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Kehidupan dunia bukan akhir perjalanan manusia. Ada pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan, baik yang diketahui orang lain maupun yang tersembunyi dari pandangan manusia,” papar dia.
Enam Cara Menguatkan Iman kepada Hari Kiamat
Kiai Sholihin menjelaskan enam hal yang perlu diwujudkan untuk menguatkan iman kepada hari kiamat.
Pertama, meyakini bahwa hari kiamat pasti datang. Seorang Muslim wajib membenarkan kedatangan hari kiamat tanpa keraguan.
“Namun, waktu terjadinya hanya diketahui Allah SWT. Bahkan Rasulullah saw tidak mengetahui waktu pastinya,” katanya
Ketika Malaikat Jibril bertanya tentang waktu Kiamat, Rasulullah saw menjawab:
مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ
“Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” (HR Muslim No. 8).
Hadis ini mengajarkan bahwa manusia tidak perlu berspekulasi mengenai waktu terjadinya kiamat. Hal yang jauh lebih penting ialah mempersiapkan diri dengan iman dan amal saleh.
Dalam hadis lain, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw tentang kapan kiamat terjadi. Rasulullah justru bertanya mengenai apa yang telah dipersiapkannya untuk menghadapi hari tersebut.
Laki-laki itu menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak persiapan, selain kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW kemudian bersabda:
«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR Bukhari No. 3688 dan Muslim).
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus mendorong seorang Muslim mengikuti petunjuk dan meneladani ajaran Rasulullah saw.
Kedua, terang Kiai Sholihin, meyakini adanya kehidupan setelah Kiamat. Setiap Muslim harus meyakini adanya kebangkitan, pengadilan Allah, surga, dan neraka.
“Kehidupan dunia bukanlah kehidupan terakhir. Keyakinan ini semestinya membuat manusia tidak mudah terlena oleh kenikmatan dunia, karena keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga keselamatan di akhirat,” paparnya.
Ketiga, meyakini bahwa setiap amal akan mendapatkan balasan.
Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ٧
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ٨
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS Az-Zalzalah: 7–8).
Dijelaskan Kiai Sholihin, ayat tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
“Senyum, pertolongan kepada sesama, menjaga amanah, berkata jujur, dan berkhidmat kepada masyarakat merupakan bagian dari amal yang harus terus diupayakan. Sebaliknya, dosa dan kemaksiatan tidak boleh dianggap sepele. Seorang Muslim perlu senantiasa mengevaluasi diri dan memohon ampunan Allah SWT,” katanya.
Keempat, meninggalkan larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Iman kepada hari akhir harus melahirkan perubahan perilaku.
Keyakinan tersebut mendorong seorang Muslim menjaga salat, menunaikan kewajiban, menjauhi kemaksiatan, serta menjaga hak-hak sesama manusia.
Keimanan tidak cukup berhenti pada pengakuan, tetapi harus dibuktikan melalui ketaatan yang nyata.
Kelima, membersihkan jiwa melalui tazkiyatun nufus. Penyucian jiwa dilakukan dengan memperbanyak zikir, memperbaiki ibadah, meluruskan niat, dan menjauhkan hati dari sifat-sifat tercela.
Ibadah hendaknya dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian atau pengakuan manusia. Dengan demikian, hubungan seorang hamba dengan Allah semakin kuat dan perilakunya semakin terjaga.
Keenam, menjadikan iman sebagai landasan setiap langkah kehidupan. Keimanan kepada hari akhir harus menjadi pedoman dalam keluarga, pekerjaan, kehidupan bermasyarakat, maupun dalam menjalankan amanah organisasi.
“Seorang Muslim yang menyadari adanya pertanggungjawaban di hadapan Allah akan berusaha berlaku jujur, adil, amanah, dan memberikan manfaat kepada sesama. Ia tidak hanya mempertimbangkan keuntungan duniawi, tetapi juga memperhatikan nilai halal, keberkahan, dan tanggung jawab akhirat,” pungkas Kiai Sholihin (*)






0 Tanggapan
Empty Comments