Perjalanan hidup Satria Unggul Wicaksana Perkasa bukan sekadar cerita sukses akademik. Dari masa kecil yang keras sebagai anak penjual baju bekas, mengalami perundungan, hingga akhirnya menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), kisahnya adalah potret nyata tentang keteguhan, pendidikan, dan keberanian melawan keadaan.
Di sudut kehidupan sederhana di Gresik, Satria kecil tumbuh dalam keluarga yang jauh dari kata mapan. Ayah dan ibunya bekerja sebagai penjual baju bekas—atau yang akrab disebut “rombeng”—yang dijajakan dari desa ke desa, menyasar para petani yang membutuhkan pakaian murah untuk bekerja di sawah.
Dia masih mengingat betul bagaimana sulitnya kehidupan saat itu. Pernah suatu hari, hasil jualan orang tuanya hanya Rp 5.000. Nilai yang bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari terasa jauh dari cukup, apalagi untuk menghidupi tiga anak.
“Dari situ saya paham, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar,” kenangnya saat diwawancarai dalam Podcast PWMU.TV.
Namun hidup tak berhenti memberi ujian. Saat ia duduk di bangku SMP, kondisi keluarga semakin terpuruk. Ibunya mengalami stroke, sementara ekonomi keluarga kian terhimpit.

Luka Masa Sekolah: Tidak Naik Kelas dan Dibully
Masa sekolah Satria bukan cerita indah. Dia pernah tidak naik kelas, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak bisa membeli buku pelajaran.
Di sekolah, dia juga menjadi sasaran perundungan. Sepatu murah yang ia pakai—bahkan tiruan dari merek terkenal—menjadi bahan ejekan teman-temannya. Pernah suatu ketika, teman-temannya “patungan” untuk membelikannya sepatu, namun dengan niat merendahkan, bukan membantu.
“Itu membekas sampai sekarang,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Dalam situasi itu, dia sempat kehilangan semangat. Bahkan sempat terpikir untuk berhenti sekolah. Namun, sang ayah menjadi sosok yang terus mendorongnya untuk bertahan.
“Pendidikan itu untuk memutus rantai kemiskinan,” pesan ayahnya yang tak pernah ia lupakan.
Di tengah keterpurukan itu, hadir sosok guru bernama Yusuf Ismail Adam. Dialah yang tidak hanya membantu Satria secara akademik, tetapi juga memperkenalkannya pada nilai-nilai keislaman dan Muhammadiyah.
Dari sanalah, perlahan arah hidupnya berubah. Ia mulai menemukan makna belajar, disiplin, bahkan spiritualitas.
Berkat dukungan tersebut, Satria melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah 8 Surabaya—sekolah yang memberinya kesempatan belajar secara gratis.
Namun perjuangan belum selesai.

Siang Sekolah, Malam Bekerja
Untuk bertahan hidup, Satria harus bekerja sejak SMA. Dia menjadi pelayan katering, bahkan bekerja hingga larut malam, lalu kembali ke sekolah keesokan harinya.
Rutinitas itu ia jalani bertahun-tahun, bahkan hingga awal kuliah. “Bukan cari pengalaman, tapi karena keadaan,” katanya jujur.
Namun dari pekerjaan itu, ia belajar banyak hal: komunikasi, bahasa Inggris, hingga cara berinteraksi dengan berbagai kalangan. Bekal yang kelak menjadi penting dalam perjalanan akademiknya.
Saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya, Satria tidak hanya belajar di ruang kelas. Dia aktif dalam riset, organisasi, dan gerakan mahasiswa.
Dia terlibat dalam berbagai penelitian, termasuk bersama lembaga riset seperti Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP). Bahkan, sejak semester awal, dia sudah aktif menulis karya ilmiah dan memenangkan berbagai program nasional seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Salah satu karyanya yang berkesan adalah mengonversi undang-undang ke huruf Braille untuk penyandang tunanetra.
“Supaya mereka tahu hak-haknya,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga dikenal sebagai aktivis yang vokal. Saat menjadi Presiden BEM, dia bahkan memimpin aksi demonstrasi besar di kampus, menuntut kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada mahasiswa.
Ironis sekaligus mengharukan, sosok yang pernah ia demonstrasi justru menjadi orang yang mengubah hidupnya.
Rektor saat itu, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM melihat potensi besar dalam diri Satria. Di hadapan publik saat wisuda, ia langsung mengumumkan bahwa Satria akan direkrut menjadi dosen. Saat itu, usianya baru 24 tahun.
Momen tersebut menjadi sangat emosional, terutama karena ibunya yang sedang sakit stroke hadir menyaksikan langsung pencapaian anaknya.
“Itu kebanggaan terbesar bagi orang tua saya,” katanya.
Tak berhenti sebagai dosen, Satria terus melanjutkan studi hingga meraih gelar magister dengan cepat. Ia juga aktif dalam jejaring nasional dan internasional, termasuk gerakan anti-korupsi dan advokasi hak asasi manusia.
Ia pernah terlibat dalam berbagai forum global, termasuk konferensi di Iran dan Norwegia, bersaing dengan ribuan peserta dari seluruh dunia.
Baginya, menjadi akademisi bukan hanya soal mengajar, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Pendidikan tinggi harus punya keberpihakan pada keadilan,” tegasnya.

Menjadi Dekan dan Tetap Membumi
Kini, Satria Unggul Wicaksana Perkasa menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya. Namun, ia tak pernah melupakan akar kehidupannya.
Dari anak tukang rombeng, korban bullying, hingga menjadi akademisi dan pemimpin—semua ia lalui dengan satu keyakinan: bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya.
Bagi Satria, kesuksesan bukan soal kemudahan, tapi soal bertahan lebih lama dari keadaan. Jatuh, bangkit, lalu terus berjalan.
Dia membuktikan, tidak ada hasil yang datang tiba-tiba. Semua butuh waktu, kerja keras, dan keberanian untuk tidak berhenti di tengah jalan.
Pengalaman hidup itu tidak ia simpan sendiri. Di kampus, ia dikenal dekat dengan mahasiswa dan kerap mengingatkan bahwa latar belakang bukan alasan untuk menyerah. Dia mendorong mereka bekerja lebih keras, bukan sekadar berharap hasil.
Baginya, perubahan hidup tidak ditentukan oleh siapa kita dulu, tetapi oleh apa yang kita kerjakan hari ini dan seberapa konsisten kita menjalaninya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments