Nama Soekirno mungkin tak tercatat dalam buku-buku sejarah besar. Namun, alumnus HIS Muhammadiyah Prambon, Kebumen ini pernah berada di titik paling genting dalam perjalanan bangsa—menjaga keselamatan keluarga KH Wahid Hasyim di tengah serbuan tentara Belanda. Dari peristiwa itulah, kisah yang kemudian dikenang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bermula.
Nama Soekirno kembali mencuat puluhan tahun kemudian, justru dari penuturan Gus Dur sendiri. Saat itu, sebagai ulama, guru bangsa, sekaligus Presiden RI ke-4, Gus Dur menyimpan cerita tentang sosok yang begitu ia kenang.
Pengalaman itulah yang kemudian membawa saya menelusuri jejak Soekirno. Saat menjadi wartawan Suara Indonesia (Jawa Pos Group) pada 1999, saya menemukan petunjuk tak terduga dari sebuah wawancara yang dimuat harian KOMPAS.
Dalam wawancara tersebut, Gus Dur yang kala itu menjabat presiden ditanya tentang tokoh idola pada pemilihan Tokoh Tahun 1999. Salah satu pertanyaan menyinggung sosok yang ia kagumi.
“Idola saya Mas Kirno,” begitu ucap Gus Dur.
Lantas, siapa Mas Kirno itu? Saya tergelitik mencarinya. Ini setelah saya mendapat kabar bahwa dia tinggal di Surabaya. Dari beberapa orang, saya mendapat informasi akurat bahwa pria yang disebut Gus Dur itu tinggal di Darmo Permai Timur IX/2, Surabaya.
Saya mencari alamat itu. Sekitar pukul 10.00 WIB, saya menemukannya. Dan orang yang disebut Gus Dur itu adalah Mayor (Purn) Pol Soekirno, mantan Kanit Provost Mobrig Pasar Atom. Soekirno dulu pernah bertugas di Jombang.
Dia menjadi gerilyawan dari Polisi Istimewa yang ikut menjaga Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, termasuk keluarga besar KH Wahid Hasyim, ayah Gus Dur.
Di rumah itu, Soekirno tinggal bersama istrinya, Clementine, perempuan berdarah campuran Jawa-Jerman. Mereka dikaruniai satu anak bernama Agnes Ingrid. Ia menikah dengan Paolo Tantini, pria asal Italia, dan kemudian tinggal di Italia.
“Waktu itu, Gus Dur masih berusia 8–10 tahun. Saya tidak pernah membayangkan bocah itu ternyata Gus Dur, presiden,” tutur Soekirno.
Soekirno lalu mengurai cerita masa lalu. Saat pasukan Belanda menyerang gerilyawan Republik di Jombang, Soekirno bersama KH Wahid Hasyim dan istrinya, beserta beberapa anak, bersembunyi di balik bangunan di sekitar sumur. Di antara anak-anak itu adalah Abdurrahman Wahid kecil.
Kala itu, Soekirno sempat mengeluarkan pistol, tetapi KH Wahid Hasyim mencegah. “Saya masih ingat kata-kata beliau, kalau kamu menembak, hancurlah keluarga ini,” ungkap Soekirno yang akhirnya mengurungkan niat menyerang pasukan Belanda.
Ada lagi cerita mencengangkan. Suatu malam, datang sekelompok tentara Belanda yang menculik KH Wahid Hasyim. Karena tidak sedang berpatroli, Soekirno dan anggota Polisi Istimewa lainnya tidak mengetahui peristiwa itu. Berdasarkan penuturan santri, KH Wahid Hasyim digiring naik mobil dinas dan dibawa ke markas Belanda dekat Pasar Jombang.
Soekirno bersama pasukan Polisi Istimewa kemudian melakukan penyerbuan. Baku tembak tak terhindarkan. Mereka berhasil melumpuhkan banyak tentara Belanda, bahkan gudang logistik Belanda juga berhasil dibakar. Setelah itu, mereka melarikan diri.
“Besoknya, Belanda mengembalikan KH Wahid Hasyim. Kami, keluarga, dan santri-santri ikut gembira,” aku Soekirno.
Sejak peristiwa itu, persahabatan Soekirno dengan KH Wahid Hasyim makin erat. “Bu Nyai itu guru ngaji saya,” imbuh Soekirno yang mengenyam pendidikan di HIS Muhammadiyah Prambon, Kebumen.
Saking akrabnya, Soekirno pernah ditawari KH Wahid Hasyim menjadi menantu. Soekirno tidak menolak, tetapi takdir berkata lain. Belum sempat mewujudkan tawaran itu, ia keburu pindah tugas ke Kediri, kemudian ke beberapa daerah di Jawa Timur dan Kalimantan.
Revolusi mempertahankan kemerdekaan terus bergolak. Soekirno berpindah-pindah tugas. Banyak peristiwa tumpang tindih dalam hidupnya. Ia juga tidak pernah menganggap peristiwa penyelamatan itu sebagai sesuatu yang besar—hanya bagian dari tugasnya sebagai Polisi Istimewa.
Namun, Abdurrahman Wahid yang ikut diselamatkan tidak pernah melupakan jasa Soekirno, bahkan hingga ia menjadi presiden, setengah abad kemudian.
***
Soekirno diundang Gus Dur ke Istana Negara pada 18 Desember 1999. Ia datang bersama istrinya, Clementine. Sebelumnya, Gus Dur memerintahkan Jenderal Roesmanhadi (saat itu Kapolri) untuk mengecek keberadaan Soekirno di Surabaya. Roesmanhadi lalu memerintahkan Mayjen M. Dayat (Kapolda Jatim saat itu).
Singkat cerita, setelah ditemukan, Soekirno yang berusia 71 tahun diberi tahu tentang undangan Presiden Gus Dur ke Istana Negara. Ia tidak perlu memikirkan kebutuhan akomodasi, transportasi, dan lainnya.
Di Jakarta, Soekirno menginap di Hotel Graha Purnawira. Ia mendapat kamar VIP. Saat bertemu Gus Dur, ia dijemput Kapolri Roesmanhadi dan tiba di Istana Negara pukul 19.00 WIB. Setibanya di sana, ia langsung dihadapkan dengan Gus Dur.
Dia sangat terkejut. Gus Dur memeluknya erat. Soekirno merasakan kedua tangan Gus Dur gemetar.
“Piye kabare, Mas Kirno?” sapa Gus Dur, seperti bertemu sahabat lama.
Yenny Wahid yang saat itu menggandeng Gus Dur ikut menyapa. “Eyang pernah menyelamatkan Eyang Kakung (KH Wahid Hasyim), ya.”
Soekirno terpana. Ia tak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir sebagai jawaban atas semua kejutan hidup yang ia terima.
Gus Dur lalu mengajak Soekirno duduk di ruang tamu. Saat berjalan menuju sofa, tangan kanan Gus Dur yang memegang tasbih digandeng Yenny, sementara tangan kirinya memegang bahu Soekirno.
Gus Dur banyak bercerita tentang masa kecilnya di Jombang—kisah yang seru, satir, dan menggelikan. Soekirno dan Clementine lebih banyak mendengarkan. Yang membuat Soekirno heran, ingatan Gus Dur sangat tajam.
“Mas Kirno, apa sampean masih ingat, gara-gara pantat kita pernah mengusir Belanda?” tanya Gus Dur.
“Piye ceritane, Gus?”
Gus Dur lalu mengisahkan ketika Soekirno menyelamatkan keluarganya. Dalam ketakutan itu, mereka bersembunyi. Tiba-tiba, seorang pembantu KH Wahid Hasyim mengalami sakit perut. Tanpa sengaja, sarung yang dikenakannya tersingkap.
Pasukan Belanda memergoki mereka. Namun, tak disangka, kejadian itu justru menyelamatkan mereka. Setelah melihat kejadian tersebut, pasukan Belanda malah pergi.
“Mungkin mereka terhina ‘disuguhi’ pantat,” ujar Gus Dur sambil terkekeh, membuat semua yang hadir tertawa.
Ada lagi cerita. Gus Dur ingat pernah merengek meminta pistol yang dibawa Soekirno. Saat itu, Soekirno membawa pistol di pinggang kiri dan kanan, lengkap dengan topi koboi. Gus Dur kecil ingin meminjam pistol itu untuk menembak tentara Belanda.
Mendengar permintaan itu, Soekirno hanya tersenyum. Ia lalu mengangkat Gus kecil dan mengajaknya naik kuda berkeliling pesantren.
***
Gus Dur benar-benar bernostalgia dengan Soekirno. Ia memperlakukan Soekirno sebagai tamu istimewa. Semua keperluannya di Jakarta ditanggung penuh selama sebulan, termasuk tiket pesawat, akomodasi, dan uang saku.
Gus Dur juga memberi fasilitas untuk jalan-jalan di Jakarta—makan di Hotel Indonesia, berkunjung ke Ancol, dan lainnya. Ke mana pun Soekirno pergi, selalu mendapat pengawalan.
Namun, Soekirno tidak memanfaatkan semua fasilitas itu. Ia merasa tidak pantas menerima perlakuan sebesar itu.
“Saya bukan menolak, tapi sungguh, semua ini sudah cukup bagi saya.”
Dari Istana, Soekirno diajak ke rumah Kapolri Roesmanhadi di Jalan Pattimura, Jakarta. Setelah itu, ia kembali ke hotel dengan pengawalan khusus.
“Ini yang terakhir, Pak Kapolri. Besok jangan ada lagi yang mengawal saya,” katanya.
Roesmanhadi menghormati permintaan itu.
Tanpa pengawalan, Soekirno justru menjadi pusat perhatian di hotel. Berbagai fasilitas diberikan secara gratis. Ia hanya diminta tanda tangan.
Dengan uang pensiun sekitar Rp700 ribu per bulan, semua itu terasa tak terbayangkan baginya.
Akhirnya, Soekirno memutuskan mengakhiri masa sebagai tamu istimewa dan kembali ke Surabaya. Ia hanya lima hari di Jakarta.
Saat akan check-out, ia sempat bertanya, “Dik, berapa habisnya?”
Staf hotel hanya tersenyum dan meminta tanda tangan. Tagihan bahkan tidak sempat ia lihat.
“Sudah, Pak. Bapak kan tamu istimewa.”
Pertemuan dengan Gus Dur menjadi kenangan manis yang tak terlupakan. Soekirno menganggap semua itu sebagai karunia Allah SWT.
Ia bangga, bukan karena kekayaan, tetapi karena nilai persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Seperti persahabatannya dengan keluarga KH Wahid Hasyim—yang mungkin ia lupakan, tetapi tidak bagi Abdurrahman Wahid. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments