Memberi maaf adalah perbuatan yang lebih sulit daripada meminta maaf. Namun, dalam ber-Muhammadiyah, ada teladan yang luar biasa tentang memberi maaf ini pada diri Haji Abdul Malik Hakam Amrullah. Tokoh yang biasa dikenal dengan nama singkatannya, Buya Hamka. Bukan hanya 1 kisah, tapi 3 kisah teladan sekaligus.
Demikian disampaikan Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Prof Dr Biyanto MAg dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Al-Fattah, Kepatihan, Tulungagung, Ahad (05/04/2026). “Bapak-bapak, ibu-ibu, lebih mudah minta maaf atau memberi maaf? tanya Biyanto kepada ratusan jamaah yang memadati aula masjid.
Pertanyaan itu kontan dijawab jamaah dengan suara berintonasi rendah: memberi maaf. Pertanyaan ini dikemukakan karena ayat Qur’an menyatakan salah satu ciri ihsan adalah memberi maaf. Bukan meminta maaf.
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan,” kutip Biyanto pada QS Ali Imran ayat 134 beserta terjemahnya.
Tentang memberi maaf ini, Biyanto menceritakan kisah inspiratif dari Buya Hamka. Sang penulis Tafsir Al-Azhar sekaligus salah satu tokoh Muhammadiyah. Ketiganya direkam oleh Irfan Hamka dalam buku “Ayah”. “Beliau adalah ulama yang keras pendiriannya, tapi punya hati yang lembut,” jelas Biyanto tentang sosok Buya Hamka.
Kisah pertama adalah Buya Hamka dengan Presiden pertama RI, Soekarno atau Bung Karno. Pada zaman Orde Lama, Bung Karno adalah orang yang memenjarakan Buya Hamka tanpa pengadilan yang fair. Buya Hamka dituding terlibat dalam upaya pembunuhan Soekarno dan Menteri Agama.
Namanya dihancurkan, perekonomiannya dimiskinkan, kariernya dimatikan dan buku-bukunya dilarang beredar sejak itu. “Bahkan salah satu penerbit di Minangkabau pernah mendatangi Bu Buya Hamka untuk menyerahkan royalti ke Jakarta. Sebab, kalau, saat itu masih pakai wesel, pasti disita oleh pemerintah,” begitu cerita Biyanto.
Tetapi, Hamka yang seorang ulama besar Indonesia tidak pernah menyimpan dendam. Pada tahun 1970, ajudan Presiden Soeharto, datang ke rumah Hamka membawa pesan dari keluarga Sukarno. Pesannya, Buya Hamka dengan sangat hormat diminta mengimami shalat jenazah Sukarno.
Tanpa pikir panjang, Buya Hamka langsung melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Sesuai wasiat Sukarno, Buya Hamka pun memimpin shalat jenazah mantan presiden yang pernah menjebloskannya ke penjara selama 2 tahun 4 bulan itu.
“Jamaah yang fanatiknya memang ada yang protes kepada Buya Hamka. Bukankah Pak Karno adalah orang memenjarakan Buya, kenapa masih mau menshalatkan. Tapi Buya menjawab, urusan pribadi diselesaikan dengan maaf. Sementara urusan hati Soekarno adalah urusan Allah,” jelas Biyanto tentang jawaban Hamka pada jamaah fanatiknya itu.
Kisah yang kedua adalah Hamka dengan Pramoedya Ananta Toer. Melalui koran Harian Bintang Timur yang diasuhnya, Pramoedya menuduh Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka adalah hasil plagiat. Di koran yang berafiliasi PKI ini, Pramoedya menyatakan karya Hamka itu menjiplak pengarang Perancis. Hingga berbulan-bulan lamanya, koran itu terus mengkritik karya Hamka. Bahkan, tulisan-tulisan yang terbit mulai menyerang Hamka secara pribadi.
Namun, setelah peristiwa Gerakan 30 September PKI, Pramoedya ditangkap dan diasingkan di Pulau Buru hingga bebas pada 1979.Tiba-tiba, pada suatu kesempatan, Hamka kedatangan sepasang tamu. Seorang perempuan Jawa dengan nama Astuti dan seorang lelaki keturunan Tionghoa bernama Daniel Setiawan. “Saat Astuti memperkenalkan siapa dirinya adalah putri Pram,” kata biyanto.
Astuti kemudian menyampaikan maksud kedatangannya kepada Hamka. Ia memohon agar Hamka membimbing sang kekasih yang merupakan calon suaminya belajar dan memeluk agama Islam. Sebab, sang ayah, tidak setuju jika ia menikah dengan laki-laki yang berbeda agama. Tanpa ragu, Hamka meluluskan permohonan Astuti. Hamka pun membimbing Daniel
Oleh sastrawan Hoedaifah, lanjut Biyanto, dalam majalah Horison, keputusan Pramoedya mengirim putrinya ke Hamka menunjukan permintaan maaf kepada Hamka. Hamka yang langsung menerima maksud kedatangan Astuti pun secara tak langsung menunjukkan sikap memaafkan. “Jadi, menurut para sastrawan, memang ada cara tersendiri untuk bermaafan.”

Hamka juga bersikap serupa kepada Mohamad Yamin, seterunya di Dewan Konstituante. Pertentangan keduanya amat sengit, hingga perbedaan pandangan politik di antara keduanya tak lagi dapat disatukan.
Namun, pada 1962 Yamin jatuh sakit. Chaerul Saleh, ketika itu Menteri Perindustrian Dasar & Pertambangan, menyambangi Hamka di rumahnya untuk menyampaikan pesan Yamin.
Bersama Chaerul Saleh, Hamka bersegera ke RSPAD, tempat Yamin dirawat. Melihat kedatangan Hamka, Yamin meneteskan air mata. Ia menggenggam tangan bekas seterunya di Konstituante itu. Hamka menalkinkan Yamin, hingga ia meninggal dengan tangan keduanya saling menggenggam.
Usai wafat, melalui istrinya, Yamin rupanya ternyata minta dimakamkan di Sawahlunto, tanah lahirnya. Namun, Yamin punya kekhawatiran masyarakatnya menolak memakamkan jenazahnya. “Hamka pun langsung pergi ke Sawahlunto untuk memakamkan seterunya itu. Karena Hamka menjadi jaminan, maka warga yang awalnya keberatan pun bersikap sebaliknya.”
Dalam kajian halabihalal itu, Biyanto menekankan pentingnya mempererat tali silaturahmi sebagai fondasi kekuatan umat. Dia berpesan agar momentum halalbihalal dijadikan titik balik untuk menyambung kembali hubungan yang retak. Sebab persatuan adalah modal utama dalam memajukan dakwah.





0 Tanggapan
Empty Comments