Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H, umat Islam kembali bersiap menghidupkan salah satu syiar paling agung, yakni ibadah kurban. Namun, atmosfer Iduladha kali ini membawa rasa kehilangan yang mendalam bagi dunia pemikiran Islam di Indonesia.
Berpulangnya Hamim Ilyas, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah (Sabtu, 23 Mei 2026), meninggalkan duka dan sekaligus warisan intelektual yang sangat berharga untuk direfleksikan, terutama dalam memandang hakikat ibadah kurban.
Salah satu catatan pemikiran monumental yang beliau tinggalkan ialah gagasan tentang Transformasi Nilai Ibadah Kurban.
Melalui pemikirannya, Kiai Hamim mengajak umat Islam melihat ritual penyembelihan hewan bukan sekadar rutinitas fikih tahunan, melainkan sebagai proklamasi kemanusiaan dan kasih sayang yang melintasi zaman.
Dari Agama Demoniak Menuju Agama Etis
Dalam salah satu pengajiannya, Kiai Hamim membedah akar sejarah kurban dengan sangat jeli.
Beliau mengontraskan praktik keagamaan kuno yang bersifat demoniak—di mana persembahan kepada dewa-dewa melalui darah dan pengorbanan manusia—dengan agama Ibrahimiyah yang bersifat etis.
Peristiwa menggantikan Ismail dengan seekor domba bukan sekadar mukjizat sesaat, melainkan antitesis terhadap teologi maut yang merendahkan martabat manusia.
Menurut Kiai Hamim, agama Ibrahim hadir sebagai agama yang menunjukkan kasih sayang Tuhan kepada manusia.
“Tuhan menunjukkan kebaikan kepada manusia. Agama yang jahat pada manusia itu simbolnya adalah kurban persembahan kepada Tuhan dengan manusia. Sementara agama Ibrahim itu agama etis, yaitu agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu baik kepada manusia, simbolisasinya dengan mengganti Ismail menjadi seekor domba,” ulasnya.
Pesan spiritual dari fragmen sejarah tersebut sangat tegas: Islam datang untuk menyelamatkan manusia, bukan mengorbankannya.
Kurban menjadi manifestasi kasih sayang Allah agar manusia berhenti saling menumpahkan darah dan mulai saling berbagi kesejahteraan.
Menemukan Sunah dalam Tradisi Pengalengan
Kontribusi besar Kiai Hamim dalam konteks fikih kontemporer tampak pada kemampuannya melakukan kontekstualisasi teks (manhaj tarjih) secara progresif.
Ketika Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LazisMu) menginisiasi program pengalengan daging kurban seperti RendangMu, sebagian kalangan memandang inovasi tersebut sebagai sesuatu yang keluar dari tradisi klasik.
Namun, di tangan Kiai Hamim, inovasi itu justru menemukan pijakan sunah yang kuat melalui pelacakan historis istilah Hari Tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Secara bahasa, tasyrik berarti menjemur atau mengeringkan sesuatu di bawah terik matahari.
Kiai Hamim menjelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW, masyarakat mengeringkan daging kurban menjadi dendeng agar dapat bertahan lama dan dikonsumsi sepanjang tahun, bukan dihabiskan dalam satu hari.
Beliau kemudian menarik benang merah antara tradisi masa lalu dengan teknologi modern.
Pada zaman Nabi SAW, daging di-tasyrik-kan melalui proses penjemuran demi ketahanan pangan.
Sementara pada era modern, pengalengan daging menjadi produk siap saji dengan bantuan teknologi.
Secara substansi, pengalengan daging kurban hari ini merupakan representasi sejati dari tradisi Nabi SAW.
Metodenya berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi spirit-nya tetap sama, yakni memperpanjang manfaat kurban demi kemaslahatan umat.
Kurban sebagai Ketahanan Pangan dan Kemanusiaan
Melalui perspektif pemikiran Kiai Hamim, ibadah kurban bertransformasi dari sekadar kesalehan ritual-individual menjadi instrumen ketahanan pangan dan mitigasi bencana yang bersifat struktural.
Daging kurban yang telah berada dalam kaleng tidak lagi membawa resiko membusuk ketika terjadi surplus distribusi.
Sebaliknya, penyaluran daging tersebut dapat sepanjang tahun ke daerah pelosok, wilayah dengan angka stunting tinggi, maupun kawasan terdampak bencana alam.
Ketika akses logistik terputus akibat gempa bumi atau banjir, kaleng-kaleng daging siap saji dapat menjadi penyelamat nutrisi bagi para korban.
Di titik inilah gagasan “berkurban dengan kasih sayang” menemukan makna yang lebih luas.
Kasih sayang tidak berhenti ketika hewan kurban roboh di tangan jagal, melainkan terus mengalir melalui distribusi pangan kemanusiaan yang memberi manfaat berbulan-bulan setelah Iduladha berlalu.
Meneladani Sang Mujaddid
Kepergian KH. Hamim Ilyas menjadi kehilangan besar bagi dunia pemikiran Islam moderat dan berkemajuan di Indonesia.
Beliau telah mencontohkan bagaimana seorang intelektual mampu berpijak kuat pada khazanah klasik, namun tetap lincah dan berani menjawab tantangan modernitas.
Menyambut Iduladha tahun ini menjadi momentum penting untuk merawat warisan pemikirannya.
Memaknai kurban tidak lagi semata sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi sebagai jalan menghadirkan kasih sayang, merawat kemanusiaan, dan membangun ketahanan pangan bagi sesama.
Selamat jalan, Kiai Hamim Ilyas. Jejak intelektualmu akan terus hidup dalam setiap kaleng daging kurban yang membawa maslahat bagi semesta.





0 Tanggapan
Empty Comments