Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 11 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) melaksanakan Demonstrasi Teknologi Tepat Guna (TTG) bertajuk APEKSO GANDA (Alat Pencacah dan Komposter Sampah Organik Manual Pemotong Ganda) di Desa Alassapi, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam memberikan solusi pengelolaan sampah organik rumah tangga agar dapat diolah menjadi kompos padat dan pupuk organik cair yang bernilai guna.
Kegiatan ini dihadiri oleh Penanggung Jawab Desa Alassapi beserta jajaran perangkat desa, Kepala LPP Desa Alassapi, Ketua dan anggota Tim Penggerak PKK Desa Alassapi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Desa Alassapi beserta jajaran, Ketua Pimpinan Ranting Aisyiyah Desa Alassapi beserta jajaran, ibu-ibu kader Desa Alassapi, Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Surabaya, serta tamu undangan yang turut berpartisipasi dalam kegiatan Demonstrasi Teknologi Tepat Guna (TTG) APEKSO GANDA.
Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut dipandu oleh Dewi Fortuna Puspita Sari selaku pembawa acara. Acara dibuka dengan pembacaan basmalah bersama, kemudian dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Mohammad Aditya Gupta sehingga rangkaian kegiatan berlangsung dengan khidmat.
Koordinator Desa KKN Kelompok 11 UMSURA, Arya Budi Rahman Fadylah, dalam sambutannya berharap inovasi Teknologi Tepat Guna yang diperkenalkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Alassapi, khususnya dalam mengatasi permasalahan sampah organik rumah tangga.
Sementara itu, Penanggung Jawab Desa Alassapi, Bapak Latifudin, S.Ag., M.M. menyampaikan apresiasi kepada Mahasiswa KKN UMSURA atas program yang telah dijalankan. Ia berharap inovasi tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat desa.
Selain itu, beliau mengucapkan terima kasih atas penyerahan alat kepada pemerintah desa sebagai bentuk keberlanjutan program serta menyampaikan permohonan maaf apabila penyambutan dari pihak desa masih memiliki banyak keterbatasan.
“Alat ini sebenarnya sangat efektif. Kalau alat seperti ini dimiliki per KK, pasti sangat berguna karena efektif ditaruh di dapur dan tidak berbau. Tinggal bagaimana masyarakat mencari cara yang mudah dan murah untuk memilikinya, misalnya lewat tabungan kelompok selawatan, kelompok PKK, atau arisan. Ini sangat bagus untuk mengurangi risiko penumpukan sampah di lapangan,” ujar Latifudin, S.Ag., M.M.
Memasuki acara inti, Mohammad Aqsa Fitrananda, Arsya Nur Azizah dan Muhammad Ainur Rosyid mempresentasikan sekaligus mendemonstrasikan cara kerja APEKSO GANDA. Alat ini dirancang untuk mencacah sampah organik menjadi ukuran kecil sehingga proses pengomposan berlangsung lebih cepat sekaligus menghasilkan dua produk, yaitu kompos padat dan pupuk organik cair.
Antusiasme peserta terlihat pada sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari lama proses fermentasi, biaya pembuatan alat, mekanisme penambahan sampah setiap hari, komposisi pupuk cair, penggunaan bahan bekas sebagai material alat, jumlah mata pisau, hingga ciri pupuk organik cair yang telah matang dan siap digunakan.
Pengurangan Sampah Organik Rumah Tangga
Pada kesempatan tersebut, Penanggung Jawab Desa Alassapi, Latifudin, S.Ag., M.M. juga menyampaikan harapannya agar setiap kepala keluarga di Desa Alassapi suatu saat dapat memiliki satu unit APEKSO GANDA yang ditempatkan di dapur rumah masing-masing.
Menurutnya, pengadaan alat dapat dilakukan melalui sistem arisan maupun tabungan bersama karena manfaatnya sangat besar dalam mengurangi sampah organik rumah tangga.
Tidak hanya menyaksikan demonstrasi alat, peserta juga diperlihatkan secara langsung hasil pencacahan sampah organik serta perbedaan antara pupuk organik cair yang telah matang dan yang belum matang. Hal ini memberikan pemahaman yang lebih nyata kepada masyarakat mengenai proses pengolahan sampah menggunakan APEKSO GANDA.
Di akhir kegiatan, pemateri menyampaikan terima kasih atas perhatian dan antusiasme masyarakat selama demonstrasi berlangsung. Mereka juga mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga karena selain berbagi ilmu kepada masyarakat, tim KKN juga memperoleh pembelajaran baru dalam proses pembuatan pupuk organik.
Acara kemudian ditutup secara resmi dengan pembacaan hamdalah yang dipandu oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara peserta yang hadir dan Mahasiswa KKN Kelompok 11 Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagai dokumentasi akhir kegiatan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments