Kelompok 99 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah-Aisyiyah (KKN MAs) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi pangan berbahan dasar susu sapi.
Melimpahnya potensi susu sapi di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, berhasil diolah menjadi dua produk UMKM unggulan berupa minuman dan camilan. Keduanya adalah SUKA (Susu Karot), minuman susu sapi yang dipadukan dengan sari wortel, dan MOOCHI (Moo + Crispy), kerupuk berbahan dasar susu sapi.
KKN MAs merupakan program pengabdian masyarakat berskala nasional yang diikuti mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Pada pelaksanaan tahun 2026, UMM menjadi tuan rumah program tersebut.
Inovasi tersebut merupakan bagian dari program kerja yang berjalan sepanjang Agustus 2026. Tujuannya mengoptimalkan potensi lokal sekaligus mendorong pengembangan produk UMKM masyarakat Desa Tawangsari.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang, populasi sapi perah di Kecamatan Pujon mencapai 25.490 ekor.
Ide tersebut berangkat dari kondisi desa yang memiliki banyak peternak sapi perah. Selama ini, pemanfaatan susu mayoritas masih didominasi sebagai produk minuman biasa dan dikirimkan ke koperasi.
“Selama ini susu lebih sering dimanfaatkan sebagai minuman, sehingga kami mencoba mencari bentuk olahan lain yang inovatif agar bisa menjadi produk unggulan,” ujar perwakilan kelompok, Monica Marchelina Iskandar.
Pemisahan satu bahan utama menjadi dua bentuk produk, yakni camilan dan minuman, menjadi daya tarik sekaligus pembeda utama dari program tersebut.
Produk SUKA memadukan susu sapi dengan hasil pertanian Tawangsari, yakni wortel. Proses pembuatannya dimulai dari pencucian dan pengupasan wortel, kemudian diolah menjadi sari dan dicampur dengan susu sesuai takaran.
Sementara itu, MOOCHI mengubah susu sapi menjadi camilan berupa kerupuk. Susu dijadikan bahan utama adonan, kemudian dicampur dengan tepung dan bumbu alami seperti garam dan bawang.
Adonan selanjutnya dicetak, dikeringkan, dan digoreng hingga menghasilkan kerupuk yang renyah.
Dari sisi ekonomi, MOOCHI dan SUKA dibanderol dengan harga terjangkau, yakni Rp10 ribu per kemasan. MOOCHI dikemas dengan berat 85 gram, sedangkan SUKA menggunakan botol berukuran 120 ml.
Pada produksi awal, tim mengeluarkan modal sekitar Rp85 ribu untuk membeli tepung, wortel, minyak, dan kemasan. Sementara bahan utama berupa susu diperoleh secara gratis dari warga sekitar.
Sebelum diluncurkan, tim terlebih dahulu melakukan pengamatan terhadap potensi bahan baku, menentukan konsep produk, serta melakukan uji coba resep berulang kali.
Produksi kemudian dilakukan dengan berkolaborasi bersama peternak lokal untuk memastikan ketersediaan pasokan susu.
Rangkaian program KKN MAs tersebut ditutup dengan peluncuran resmi produk pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 RI.
Pada ajang Expo dan Bazar Kecamatan Pujon, kelompok tersebut memperkenalkan tujuh kemasan MOOCHI dan delapan botol SUKA.
Respons masyarakat dinilai positif. MOOCHI menarik perhatian karena inovasi mengolah susu sapi menjadi kerupuk masih terbilang langka. Sementara SUKA mendapat respons baik berkat perpaduan susu dan wortel.
Saat ini, pemasaran dan promosi terus dilakukan melalui jejaring media sosial untuk memperluas jangkauan produk.
“Kami ingin produk ini tetap dikembangkan oleh masyarakat atau pihak desa yang tertarik melanjutkannya,” tambahnya.
Ke depan, inovasi tersebut diharapkan dapat mendorong warga untuk terus memberikan nilai tambah pada hasil peternakan dan pertanian desa.
Dengan demikian, potensi alam Tawangsari tidak sekadar menjadi komoditas mentah, tetapi dapat bertransformasi menjadi produk unggulan yang berkelanjutan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments