Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III Digelar, Rumuskan Gagasan Penafsiran Al Qur’an yang Kontekstual Berkemajuan

Iklan Landscape Smamda
Konferensi Mufasir Muhammadiyah III Digelar, Rumuskan Gagasan Penafsiran Al Qur’an yang Kontekstual Berkemajuan
Suasana Konferensi Mufasir Muhammadiyah III oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah pada Jumat–Ahad (29–31/08) di Kulonprogo, DIY. (Agus Wahyudi/PWMU.CO).
pwmu.co -

PWMU.COMajelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Konferensi Mufasir Muhammadiyah III pada Jumat–Ahad (29–31/08/2025). Adapun kegiatan tersebut bertempat di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lebih lanjut, Forum strategis ini terselenggara sebagai upaya mempercepat penyusunan Tafsir at-Tanwir.

Tafsir ini merupakan sebuah karya monumental Muhammadiyah yang ditargetkan rampung pada tahun 2027 sekaligus bertepatan dengan seratus tahun Majelis Tarjih dan Tajdid.

Tujuan Konferensi Mufasir

Konferensi ini mengusung tema “Mewujudkan Tafsir at-Tanwir Muhammadiyah sebagai Landasan Gerak Pemikiran Tajdid yang Responsif dan Dinamis untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”. Turut hadir pada agenda ini para mufasir Muhammadiyah dari dalam dan luar negeri.

Tujuannya tidak semata memperkuat jejaring mufasir, tetapi juga merumuskan gagasan penafsiran al-Qur’an yang kontekstual, moderat, dan berkemajuan.

Dalam Khutbah Iftitah, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan bahwa urgensi utama penyusunan tafsir ini bukan semata untuk kepentingan internal Muhammadiyah. Melainkan juga kontribusi besar bagi khazanah tafsir al-Qur’an di dunia Islam.

Menurutnya, Tafsir at-Tanwir akan menjadi panduan umat memahami al-Qur’an secara utuh sebagai sumber nilai Islam yang membimbing manusia membangun peradaban khairu ummah.

“Lewat tafsir ini kita bisa menghadirkan Islam yang mencerahkan, yang bukan hanya relevan bagi umat dan bangsa. Tetapi juga memberi rahmat bagi kemanusiaan semesta” ujarnya.

Haedar juga menyinggung isi Tafsir at-Tanwir jilid pertama yang mengulas epistemologi dan kosmologi al-Qur’an. Khususnya penafsiran atas QS Al-Baqarah ayat 29–30, sebagai kunci penting dalam merelasikan ajaran ilahi dengan realitas kehidupan.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi sarana seleksi sekaligus penguatan kapasitas mufasir Muhammadiyah.

Dari 89 naskah tafsir yang masuk, sebanyak 51 terpilih untuk dipresentasikan dan disempurnakan melalui forum ini.

“Konferensi Mufasir ini bertujuan menjaring penulis Tafsir at-Tanwir yang kompeten. Sekaligus memperkuat kolaborasi dalam penulisan 30 juz secara sistematis” jelasnya.

Usai pembukaan, acara berlanjut dengan Seminar Nasional yang menghadirkan Menteri Agama, Nazaruddin Umar, yang menekankan pentingnya memahami al-Qur’an secara kontekstual dan transformatif.

Esensi Al-Quran

Menurutnya, al-Qur’an bukan hanya kitabullah, tetapi juga kalamullah. Sebuah himpunan makna yang luas seperti halnya bangunan yang tersusun dari beragam elemen.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ia menyayangkan masih banyak kalangan yang memahami al-Qur’an secara kaku dan tekstual. Sehingga sulit menghadirkan tafsir alternatif yang dinamis.

“Kelemahan umat kita hari ini adalah sangat paham masalah fikih, tapi tidak paham usul fikih. Mereka ibarat memanjat sebuah pohon, namun berpegang pada ranting rapuh ketimbang batang yang kokoh” tegasnya.

Di sinilah pentingnya mengembangkan tafsir yang tidak berhenti pada tataran tekstual. Melainkan menuntun umat pada pemahaman yang transformatif.

Senada dengan itu, Din Syamsuddin, dalam paparannya mengangkat tema “Manhaj Tafsir al-Qur’an Transformatif”. Ia menekankan perlunya metode penafsiran yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keotentikan pesan al-Qur’an.

Selain itu, konferensi juga menghadirkan Parallel Session pada Jumat-Sabtu (29-30/08/2025) yang menjadi ruang bagi para peserta untuk mempresentasikan sekaligus menyempurnakan naskah tafsir yang mereka tulis.

Dalam forum ini, para pemakalah tidak hanya menyampaikan gagasannya. Tetapi juga teruji argumentasinya oleh para pakar agar lahir penafsiran yang kokoh secara metodologis.

Peserta konferensi ini meliputi pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid, para mufasir Muhammadiyah, serta penulis terpilih dari call for paper.

Melalui forum ini, harapannya lahir jejaring mufasir yang solid, dan bertambahnya penulis Tafsir at-Tanwir yang berkompeten. Serta tersusunnya strategi penulisan 30 juz secara sistematis, termasuk rencana penyelesaian juz 25–30.

Setelah seluruh sesi selesai, pada Sabtu (30/08/2025) konferensi berakhir dengan rapat pleno yang merangkum hasil diskusi. Sekaligus merumuskan tindak lanjut penyusunan Tafsir at-Tanwir ke depan.

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III menandai langkah penting bagi Muhammadiyah dalam mempercepat penyusunan Tafsir at-Tanwir.

Melalui forum ini, para mufasir terhimpun untuk memperkuat kerja kolaboratif sekaligus memastikan lahirnya tafsir al-Qur’an yang relevan dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu