Kaderisasi adalah jantung dari keberlangsungan sebuah organisasi, komunitas, maupun pergerakan sosial keagamaan. Tanpa kaderisasi yang baik, sebuah lembaga akan kehilangan regenerasi, stagnan, bahkan perlahan-lahan mati.
Realitas ini semakin tampak di desa-desa, di mana banyak organisasi keagamaan maupun sosial kesulitan mencetak kader muda yang siap tampil, berdakwah, maupun memimpin kegiatan.
Salah satu penyebab utama lemahnya kaderisasi di desa adalah terbatasnya ruang bagi anak muda untuk tampil. Banyak pemuda yang sebenarnya memiliki potensi dalam berpidato, berceramah, atau berdakwah, namun jarang diberikan kesempatan oleh para senior.
Ruang kegiatan lebih sering didominasi orang-orang yang sama (orang tua), sehingga anak muda merasa tidak diberdayakan.
Tidak jarang, kegiatan di masjid, mushalla, atau forum keagamaan hanya diisi oleh tokoh tertentu. Padahal, jika pemuda dilibatkan sejak dini, mereka bisa belajar dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
Fakta Kasus di Lapangan
Sebagai contoh, di salah satu desa di Lamongan, kegiatan pengajian remaja masjid justru semakin sepi karena kurangnya kader yang berani tampil. Ketika ada acara, panitia lebih sering mengundang penceramah yang itu-itu saja. Akibatnya, anak-anak muda desa tersebut hanya menjadi penonton, bukan pelaku. Begitu juga ketika shalat berjamaah di Masjid sepi pemuda, karena tidak diberi ruang.
Di desa lain, sebuah TPQ/Pondok pernah mengalami krisis tenaga pengajar. Padahal banyak remaja alumni TPQ/Pondok yang seharusnya bisa mengajar, namun tidak diberi kesempatan atau arahan. Akhirnya, kegiatan TPQ itu hanya bertahan karena dedikasi ustaz senior yang sudah lanjut usia.
Kasus-kasus ini menggambarkan bahwa kaderisasi tidak berjalan baik karena kurangnya keberpihakan pada anak muda.
Dampak yang Timbul
Kurangnya kaderisasi dan minimnya ruang tampil bagi anak muda melahirkan beberapa dampak serius:
Satu, Regenerasi Terputus: Tanpa regenerasi, organisasi akan mengalami stagnasi. Tokoh yang ada akan terus menua, sementara tidak ada penerus yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Hal ini menyebabkan organisasi keagamaan di desa kehilangan daya hidupnya.
Dua, Pemuda Kehilangan Kepercayaan Diri: Anak muda yang jarang diberi kesempatan akan merasa tidak mampu. Mereka akhirnya minder, malas mencoba, dan lebih memilih menjadi penonton. Ini berbahaya karena mentalitas inferior bisa terbawa sampai dewasa.
Tiga, Kegiatan Keagamaan Melemah: Kegiatan yang hanya mengandalkan tokoh senior akan terbatas. Ketika senior sudah tidak mampu aktif, kegiatan bisa berhenti total. Inilah mengapa banyak desa yang pengajian remajanya mati suri karena tidak ada yang melanjutkan.
Empat, Eksodus ke Luar Desa: Pemuda desa yang haus akan ruang ekspresi akhirnya mencari peluang di kota. Mereka aktif di organisasi mahasiswa atau komunitas luar, sementara desanya sendiri tidak mendapat manfaat. Akhirnya, desa kekurangan kader potensial.
Masukan dan Solusi
Untuk menjawab tantangan ini, penulis memberikan beberapa langkah bisa dilakukan:
Pertama, Memberikan Panggung Sejak Dini: Biarkan pemuda memimpin doa, kultum, imam, atau menjadi MC di acara desa. Meski awalnya belum sempurna, pengalaman ini akan melatih mental mereka. Pepatah mengatakan: “Pengalaman adalah guru terbaik.”
Dua, Pelatihan Kader: Organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah atau remaja masjid perlu mengadakan pelatihan dakwah, public speaking, dan kepemimpinan. Dengan bekal ini, pemuda akan lebih percaya diri tampil di depan masyarakat.
Tiga, Pendampingan Tokoh Senior: Para senior tidak seharusnya mendominasi, melainkan menjadi mentor. Mereka bisa mendampingi pemuda saat berceramah atau memimpin acara. Dengan begitu, ilmu dan pengalaman bisa diwariskan secara langsung.
Empat, Membangun Komunitas Kreatif: Desa bisa memfasilitasi pemuda dengan ruang diskusi, kajian rutin, atau bahkan media dakwah digital. Dengan memanfaatkan teknologi, anak muda bisa menyalurkan bakatnya sekaligus berdakwah lebih luas.
Lima, Menghargai Peran Anak Muda: Setiap usaha pemuda, sekecil apapun, harus diapresiasi. Dengan penghargaan, mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berkembang. Sebaliknya, kritik yang menjatuhkan hanya akan mematikan semangat.
Pandangan Tokoh
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, pernah menegaskan:
“Kaderisasi adalah ruh gerakan. Tanpa kaderisasi, organisasi akan kehilangan daya hidupnya. Maka, memberi ruang kepada anak muda bukan pilihan, melainkan sebuah keharusan.”
Senada dengan itu, KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua PBNU, juga menyampaikan:
“Generasi muda adalah aset bangsa. Jika tidak diberi tempat untuk berperan, kita sedang menyiapkan kehampaan di masa depan.”
Intinya, Kaderisasi di desa bukan hanya persoalan internal organisasi, tetapi menyangkut masa depan desa itu sendiri. Jika anak muda tidak diberi ruang untuk tampil, berdakwah, atau berorganisasi, maka desa akan kehilangan generasi penerus yang berdaya.
Oleh karena itu, perlu kesadaran bersama untuk menciptakan ruang ekspresi, mendampingi, dan mempercayai anak muda. Dengan begitu, kaderisasi tidak hanya terjaga, tetapi juga melahirkan pemimpin masa depan yang lahir dari desa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments