Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kuatkan Ukhuwah di Hari Kemenangan: Catatan Seorang Khatib Idul Fitri 1447 H

Iklan Landscape Smamda
Kuatkan Ukhuwah di Hari Kemenangan: Catatan Seorang Khatib Idul Fitri 1447 H
Alfain Jalaluddin Ramadlan saat menjadi khatib Idul Fitri 1447 H. (Istimewa/PWMU.CO)

Pagi itu, Jum’at (20/3/2026) langit Moropelang Babat tampak cerah. Hamparan jamaah memadati Lapangan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), menghadirkan suasana khusyuk sekaligus haru. Takbir menggema, menyatu dengan desir angin pagi yang seakan ikut mengabarkan kemenangan.

Saya berdiri di hadapan mereka, bukan sekadar sebagai khatib, tetapi juga sebagai bagian dari umat yang sama-sama sedang belajar memaknai arti Idul Fitri.

Momentum ini selalu menghadirkan rasa yang berbeda. Di satu sisi, ada kebahagiaan karena telah menyelesaikan ibadah Ramadan. Namun di sisi lain, terselip kegelisahan: apakah amal-amal kita benar-benar diterima oleh Allah SWT?

Ingatan saya melayang pada kisah para salafus shalih. Mereka justru menangis saat Ramadan berlalu. Bukan karena kehilangan suasana, tetapi karena kekhawatiran yang mendalam. Apakah mereka masih diberi kesempatan bertemu Ramadan berikutnya? Apakah amal mereka diterima?

Di situlah saya mengajak jamaah untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga merenungkan.

Idul Fitri, bagi saya, bukan sekadar perayaan. Ia adalah titik awal. Awal untuk kembali menata hati, memperbaiki diri, dan yang paling penting; menguatkan ukhuwah.

Di tengah khutbah, saya menatap wajah-wajah jamaah. Ada yang tersenyum, ada yang menunduk khusyuk. Namun di balik itu semua, saya sadar, kita sedang hidup di zaman yang tidak sederhana.

Fitnah begitu mudah menyebar. Informasi datang tanpa jeda, tetapi kebenaran sering kali tersamarkan. Hari ini, orang bisa dengan mudah menilai, menghakimi, bahkan memutuskan hubungan hanya karena perbedaan yang sebenarnya tidak prinsipil.

Saya menyampaikan dengan penuh keprihatinan: betapa ukhuwah Islamiyah yang seharusnya menjadi kekuatan, justru seringkali rapuh oleh hal-hal yang sepele.

Perbedaan pendapat, perbedaan pilihan, bahkan perbedaan hari raya yang seharusnya disikapi dengan kedewasaan kadang berubah menjadi sumber perpecahan.

Padahal Allah telah mengingatkan dengan sangat jelas bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara.

Maka di mimbar itu, saya tidak ingin sekadar menyampaikan dalil, tetapi juga mengajak diri saya sendiri dan jamaah untuk bertanya: sudahkah kita menjadi saudara yang baik bagi sesama?

Namun kegelisahan saya tidak berhenti pada persoalan ukhuwah. Ada hal lain yang juga tak kalah penting: masa depan generasi kita.

Hari ini kita menyaksikan perubahan yang begitu cepat. Anak-anak tumbuh dalam dunia yang berbeda dari yang kita alami. Teknologi memberi kemudahan, tetapi juga membawa tantangan.

Adab kepada orang tua dan guru mulai terkikis. Pergaulan semakin bebas. Ibadah seringkali terabaikan. Dan yang lebih mengkhawatirkan, banyak anak belajar dari lingkungan yang tidak sepenuhnya kita kontrol.

Di titik ini, saya merasa perlu menyampaikan bahwa ini bukan kesalahan anak-anak semata. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Sebagai orang tua. Sebagai masyarakat. Dan sebagai jamaah.

Kita tidak bisa menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Kita juga tidak bisa membiarkan teknologi berjalan tanpa pendampingan.

Rumah harus kembali menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai. Masjid harus hidup sebagai pusat pembinaan. Lingkungan harus menjadi ruang yang aman bagi tumbuhnya akhlak.

Karena saya meyakini, jamaah yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat.

Menjelang akhir khutbah, suasana terasa semakin hening. Saya mencoba menutup dengan sesuatu yang sederhana, tetapi penting.

Bahwa Idul Fitri ini harus menjadi titik balik.

Kita tidak boleh kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelum Ramadan. Kita harus menjadi lebih baik. Lebih bijak dalam berbicara. Lebih hati-hati dalam menyebarkan informasi. Lebih lapang dalam menerima perbedaan.

Dan yang paling utama, kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan sumber masalah.

Saya sampaikan kepada diri saya sendiri dan jamaah:

Jadilah perekat, bukan pemecah.

Jadilah penyejuk, bukan pemicu keributan.

Takbir kembali menggema saat khutbah usai. Saya turun dari mimbar dengan satu harapan yang sederhana, semoga apa yang disampaikan tidak hanya didengar, tetapi juga dihidupkan dalam keseharian.

Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan hanya tentang kembali ke fitrah, tetapi tentang bagaimana kita menjaga fitrah itu tetap hidup dalam ukhuwah, dalam jamaah, dan dalam setiap langkah kehidupan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡