Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kurikulum Berbasis Cinta Bagian dari Transformasi Pendidikan Islam

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Gambar ilustrasi kurikulum berbasis cinta. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kementerian Agama (Kemenag) sedang mempersiapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai bagian dari transformasi pendidikan Islam.

Kurikulum ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan kemanusiaan dalam pembelajaran, sehingga pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek kognitif tetapi juga membentuk karakter peserta didik.

Beberapa poin utama dari KBC:
• Pendekatan Humanis: Menekankan pembelajaran yang lebih hangat dan penuh nilai kasih sayang.
• Tiga Pilar Implementasi: Guru yang mengajar dengan cinta, siswa yang belajar dengan cinta, dan orang tua yang mendampingi dengan cinta.
• Integrasi Nilai Spiritual dan Sosial: Mengajarkan cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa.
• Madrasah Percontohan: Sebanyak 12 madrasah telah ditunjuk sebagai piloting untuk mengimplementasikan KBC.

Kurikulum ini tidak menggantikan kurikulum yang ada, tetapi menjadi pengayaan yang memberikan ruh baru dalam pendidikan Islam. Implementasi terbatas akan dimulai pada tahun ajaran 2025/2026, dengan tahap uji publik dan penyusunan modul sebelum diterapkan secara luas.

Para ahli pendidikan memberikan beragam pandangan mengenai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diperkenalkan oleh Kemnag. Secara umum, mereka mengapresiasi pendekatan ini sebagai upaya memperkaya pendidikan dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga menyoroti tantangan implementasinya.

Beberapa pendapat dari para pakar:
• Rudi Susilana (Guru Besar UPI), menyebut KBC sebagai “infused water” dalam pendidikan—kurikulum tetap ada, tetapi diberi nilai-nilai kemanusiaan agar lebih menyegarkan. Ia menekankan bahwa KBC tidak menambah beban guru atau siswa, melainkan memperkuat refleksi dan kolaborasi dalam pembelajaran.
• Alissa Qotrunnada Wahid, menyoroti pentingnya pendampingan bagi guru agar kebijakan ini tidak hanya berhenti di dokumen. Ia juga menekankan perlunya panduan sikap digital yang penuh kasih sayang agar anak-anak tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional.
• Rusman (Pakar Kurikulum BSKAP Kemendikbudristek), menjelaskan bahwa cinta dalam pendidikan memiliki indikator jelas, seperti penerimaan, komitmen, rasa aman, dan dukungan emosional. Ia menegaskan bahwa KBC bukan produk instan, melainkan dibangun atas fondasi Pancasila, keragaman sosial, dan pendekatan psikologis.
• Yudi Latif (Akademisi Nasional) melihat KBC sebagai solusi atas krisis moral akibat absennya cinta dalam pendidikan. Ia menekankan bahwa cinta terhadap ilmu, bangsa, dan lingkungan adalah fondasi karakter yang kokoh, serta dapat membantu mengatasi persoalan seperti korupsi dan kerusakan lingkungan.
• Fasli Jalal, menilai KBC selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, tetapi mengingatkan bahwa implementasi harus diperkuat secara praksis agar tidak berhenti pada konsep normatif. Ia juga menyoroti tantangan seperti kesiapan guru dan teknologi.
• M. Febriyanto Firman Wijaya (Dosen UM Surabaya), melihat KBC sebagai inovasi penting dalam pendidikan agama, yang dapat menanamkan nilai kasih sayang dan toleransi. Namun, ia mengingatkan bahwa konsep ini harus diuji secara kritis agar tidak menyimpang dari esensi pendidikan agama yang sebenarnya.

Pendekatan ini memang menarik, tetapi tantangan implementasi tetap perlu diperhatikan.

Agar KBC benar-benar efektif dalam membentuk karakter peserta didik, implementasinya harus dirancang dengan strategi yang matang dan berorientasi pada praktik nyata. Berikut adalah beberapa langkah penting untuk memastikan keberhasilannya:

  1. Pelatihan Guru yang Holistik
    Guru berperan sebagai role model utama dalam menerapkan KBC. Oleh karena itu, mereka harus mendapatkan pelatihan khusus yang mencakup:
    • Pendekatan pedagogis berbasis kasih sayang, bukan sekadar transfer materi.
    • Penguatan keterampilan sosial dan emosional, agar interaksi guru-siswa lebih hangat.
    • Integrasi nilai cinta dalam berbagai mata pelajaran, termasuk pendidikan karakter.
  2. Lingkungan Belajar yang Mendukung
    Sekolah dan madrasah perlu menciptakan suasana yang kondusif untuk pembentukan karakter, seperti:
    • Mengadopsi sistem reward berbasis apresiasi, bukan sekadar angka atau ranking.
    • Mendorong kegiatan reflektif, seperti jurnal harian atau diskusi kelompok tentang nilai kemanusiaan.
    • Membangun budaya komunikasi positif, baik dalam interaksi formal maupun informal.
  3. Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat
    Karakter tidak terbentuk hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan sosial. Langkah yang bisa dilakukan:
    • Pendampingan orang tua, agar mereka memahami nilai-nilai KBC dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
    • Kolaborasi dengan komunitas, seperti kegiatan sosial atau program kemanusiaan.
    • Penerapan nilai cinta dalam digitalisasi pendidikan, seperti mendorong etika berinternet yang santun.
  4. Evaluasi Berbasis Pengalaman
    Alih-alih menggunakan penilaian berbasis angka saja, KBC perlu sistem evaluasi berbasis pengalaman:
    • Portfolio karakter, di mana siswa merekam pengalaman mereka dalam menerapkan nilai-nilai KBC.
    • Observasi perilaku dan interaksi sosial, untuk mengukur sejauh mana siswa telah menginternalisasi konsep cinta.
    • Refleksi mandiri, seperti diskusi terbuka tentang bagaimana nilai kasih sayang telah memengaruhi pola pikir mereka.
  5. Adaptasi dan Fleksibilitas
    KBC bukan sekadar konsep yang diterapkan secara kaku, tetapi harus disesuaikan dengan dinamika setiap sekolah dan kebutuhan peserta didik:
    • Pendekatan yang inklusif, sehingga semua anak dapat merasakan manfaatnya tanpa terkendala aspek sosial atau ekonomi.
    • Penyesuaian dengan kurikulum utama, sehingga tidak menjadi beban tambahan tetapi justru memperkaya pembelajaran.
    • Ruang inovasi, agar konsep cinta tidak bersifat normatif, tetapi bisa diterjemahkan dalam berbagai metode kreatif.

Jika strategi-strategi ini diterapkan dengan baik, KBC dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pembentukan karakter generasi muda yang lebih berempati, memiliki etika sosial yang tinggi, dan memahami pentingnya nilai-nilai kemanusiaan.

Pendapat Guru Madrasah tentang Kurikulum Berbasis Cinta

Pendapat guru madrasah mengenai KBC cukup beragam, tetapi secara umum mereka menyambut baik konsep ini sebagai langkah positif dalam pendidikan berbasis nilai kemanusiaan. Berikut beberapa tanggapan dari guru madrasah berdasarkan uji publik dan evaluasi awal:

Tanggapan Positif
• Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Banyak guru mengapresiasi bahwa KBC tidak hanya berfokus pada akademik tetapi juga membentuk karakter siswa dengan pendekatan yang lebih humanis.
• Membantu Guru dalam Pendekatan Pedagogis: Guru merasa bahwa kurikulum ini memberikan panduan yang lebih jelas dalam mengajarkan nilai-nilai kasih sayang dan empati.
• Menciptakan Lingkungan Belajar yang Lebih Nyaman: Beberapa guru menyatakan bahwa KBC membantu menciptakan suasana kelas yang lebih inklusif dan penuh perhatian terhadap kesejahteraan siswa.

Tantangan dan Masukan
• Kesiapan Implementasi: Sebagian guru mengkhawatirkan bagaimana KBC akan diterapkan secara teknis tanpa menambah beban administrasi.
• Perlu Pelatihan Lebih Lanjut: Ada permintaan agar guru mendapatkan pelatihan khusus untuk memahami cara mengintegrasikan nilai cinta dalam pembelajaran sehari-hari.
• Evaluasi yang Lebih Jelas: Beberapa guru mempertanyakan bagaimana keberhasilan KBC akan diukur, mengingat nilai cinta dan empati sulit untuk dinilai secara kuantitatif.

Secara keseluruhan, KBC dianggap sebagai inovasi yang menarik dan relevan dengan kebutuhan pendidikan madrasah saat ini. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan guru, dukungan kebijakan, dan metode evaluasi yang tepat.(*)

M Mahmud, Guru MI Muhammadiyah 08 Kandangsemangkon Paciran Lamongan. (Istimewa/PWMU.CO)

Penulis M Mahmud Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu