Di sebuah sudut Kecamatan Barat, Magetan, puluhan tahun silam, tidak ada alat berat yang meraung-raung. Tidak ada truk pengangkut material, apalagi kontraktor yang mengatur pembangunan.
Yang ada hanyalah warga yang datang berbondong-bondong sambil memanggul batu bata, membawa pasir, kayu, dan peralatan seadanya.
Mereka bekerja tanpa upah. Ada yang menyumbangkan tenaga, ada yang mengorbankan waktu, ada pula yang mengeluarkan sebagian rezekinya untuk membeli material. Tradisi itu dikenal masyarakat Jawa sebagai gugur gunung—bergotong royong demi sebuah cita-cita bersama.
Di tengah kerumunan itulah berdiri seorang tokoh Muhammadiyah bernama Kusmen.
Bersama Wajib Dwijo Utomo, dia mendapat amanah dari Pengurus Besar Pusat Muhammadiyah pada penghujung 1930-an untuk menjadi guru di Sekolah Moehammadijah (HIS) Barat. Tugas itu bukan sekadar mengajar di ruang kelas. Mereka juga harus membangun sekolah dari titik nol.
Semangat masyarakat saat itu luar biasa. Warga Persyarikatan Muhammadiyah dan masyarakat sekitar melakukan urunan batu bata, kayu, pasir, serta berbagai material bangunan lainnya. Tidak sedikit yang menyumbangkan tenaga dan pikiran agar sekolah itu segera berdiri.
Dari semangat kebersamaan itulah akhirnya terbangun tiga ruang kelas pertama. Bangunan sederhana tersebut kemudian menjadi tonggak sejarah lahirnya pendidikan Muhammadiyah di Kecamatan Barat, bahkan menjadi salah satu fondasi penting perkembangan Muhammadiyah di Kabupaten Magetan.
Namun, warisan terbesar Kusmen ternyata bukan hanya bangunan sekolah.
Pada Ahad, 27 November 2024, penulis bersilaturahim ke rumah salah seorang sesepuh Muhammadiyah Barat, H. Basuki. Di sela perbincangan, Basuki mengenang satu pesan yang terus melekat dari sosok Kusmen.
“Orang yang hidupnya terus bekerja untuk menggerakkan dan membesarkan Muhammadiyah tidak akan hidup kelaparan. Allah pasti akan mencukupkan kehidupannya,” tutur Basuki mengulang pesan yang pernah dia dengar dari Mbah Kusmen.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung keyakinan yang kuat. Bagi Kusmen, mengabdi kepada Muhammadiyah bukanlah jalan menuju kemiskinan, melainkan bentuk ikhtiar yang akan dijaga oleh Allah SWT.
Basuki juga mengenang bagaimana Kusmen, meski berprofesi sebagai seorang militer, tidak pernah meninggalkan perjuangannya di Muhammadiyah.
Di tengah kesibukan sebagai aparat negara, ia tetap aktif membesarkan Persyarikatan. Bahkan, ia menjadi penyokong utama perjuangan sang istri bersama para perempuan Aisyiyah ketika merintis lembaga pendidikan Aisyiyah di Magetan pada sekitar tahun 1950.
Baginya, membangun pendidikan adalah bagian dari jihad yang harus terus diwariskan.
Cerita tentang Kusmen tidak berhenti di ruang kelas. Saat penulis berkunjung ke rumah Sunardi, mantan guru SMP Muhammadiyah Magetan, pada 4 September 2021, kembali muncul kisah lain tentang besarnya pengaruh tokoh tersebut.
Menurut Sunardi, banyak kader muda Muhammadiyah Magetan yang akhirnya memperoleh kesempatan menjadi pegawai negeri berkat perjuangan dan perhatian Kusmen.
“Banyak kader muda Muhammadiyah yang diangkat menjadi pegawai negeri. Itu semua tidak lepas dari jasa dan perjuangan beliau,” kenangnya.
Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa Kusmen bukan hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga membangun masa depan kader-kader Muhammadiyah. Ia membuka jalan agar mereka memiliki kesempatan mengabdi kepada bangsa melalui berbagai bidang pekerjaan.
Peran Kusmen ternyata juga melampaui dunia pendidikan. Dari sejumlah sumber terpercaya yang dihimpun penulis, saat Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, ketika situasi pemerintahan di Magetan mengalami kekosongan, Kusmen disebut ikut berperan dalam upaya mempertahankan eksistensi Republik. Salah satu langkah yang dikenang adalah keterlibatannya dalam pembuatan uang Republik di wilayah Magetan.
Langkah tersebut bukan sekadar tindakan administratif. Pada masa revolusi, keberadaan mata uang menjadi simbol bahwa pemerintahan Republik masih hidup dan berdaulat.
Semua itu dilakukan bukan demi popularitas, melainkan sebagai wujud kecintaannya kepada bangsa Indonesia sekaligus kepada Muhammadiyah yang telah menjadi jalan pengabdiannya.
Hari ini, mungkin nama Kusmen tidak banyak dikenal generasi muda. Namun jejaknya masih dapat dibaca dari sekolah-sekolah Muhammadiyah yang terus berdiri, dari kader-kader yang tumbuh menjadi pemimpin, dan dari nilai gotong royong yang dahulu diwujudkan lewat sepotong batu bata.
Dia membuktikan bahwa sejarah besar sering kali tidak dibangun oleh orang-orang yang mencari sorotan, melainkan oleh mereka yang diam-diam bekerja, menggerakkan masyarakat, dan mengabdikan hidupnya demi pendidikan, umat, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments