Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Labuhan Hati kepada Sang Pemilik Kesudahan

Iklan Landscape Smamda
Labuhan Hati kepada Sang Pemilik Kesudahan
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Hanya Allah yang mengetahui bagaimana kesudahannya adalah pernyataan keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki pengetahuan mutlak tentang masa depan, takdir, dan akhir dari segala sesuatu.Termasuk urusan manusia, peristiwa alam semesta, hingga hari Kiamat.

Hal itu menegaskan bahwa manusia tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau bagaimana nasib akhirnya, dan hal ini menunjukkan kekuasaan serta kebesaran-Nya sebagai Maha Tahu (Al-Alim) dan Maha Mengetahui (Al-Khabir).

Segala sesuatu telah dituliskan takdirnya sebelumnya. Anas bin Malik telah meriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

وَكَّلَ اللَّهُ بِالرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ أَي رَبِّ نُطْفَةٌ، أَي رَبِّ عَلَقَةٌ، أي رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهَا قَالَ أي رَبِّ ذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى أَ شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ صحيح البخاري حديث رقم6595.

“Sesungguhnya Allah menugaskan satu malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata, ‘Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah. Ya Rabb, segumpal daging.’ Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, malaikat itu bertanya, ‘Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rezeki dan ajalnya?’ Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya.” (Sahih Al-Bukhari, hadits nomer 6595).

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid membahas firman Allah Azza wa Jalla,

ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan faedah lainnya dari ayat di atas, “Di antara hikmah yang terkandung di dalam ayat ini ialah jika seorang hamba menginginkan kesudahan yang baik dalam setiap urusannya, maka ia dituntut untuk menyerahkan segala urusannya kepada Allah Yang Maha Mengetahui akibat segala urusan, serta ridha atas pilihan dan ketentuan Allah Azza wa baginya.

Hikmah lainnya yang dikandung ayat ini ialah seorang hamba tidak berhak mengajukan usul kepada Rabb-nya, tidak berhak mendikte Rabb-nya agar memenuhi pilihannya dan tidak berhak memohon agar diberikan sesuatu yang dia sendiri tidak mengetahui bagaimana kesudahannya.

Sebab, boleh jadi sesuatu yang dimintanya justru membahayakan dan membinasakannya karena ia tidak mengetahui akibat dan dampak negatifnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Atas dasar itu, manusia sama sekali tidak boleh memaksa suatu pilihan kepada Rabb-nya. Yang sebaiknya dilakukan adalah hendaknya ia memohon pilihan yang terbaik dari Allah Azza wa Jalla dan meminta agar hatinya rida atas pilihan tersebut. Sebab, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dirinya selain daripada itu.

Hikmah lainnya adalah apabila seorang hamba telah menyerahkan urusannya kepada Rabb-nya dan rida atas pilihan Allah Azza wa Jalla untuk dirinya niscaya Allah Azza wa Jalla akan membantunya menerima pilihan itu dengan menganugerahkan ketegaran, kebulatan tekad, dan kesabaran hati…

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

من وَطَّنَ قلبَه عند ربه سكن واستراح، ومن أرسله في الناس اضطرب واشتد به القلق

“Barangsiapa memfokuskan hatinya kepada Rabb-nya maka ia akan tenang dan nyaman. Dan barangsiapa melepaskan hatinya kepada manusia maka ia akan goncang dan sangat gelisah.”

Orang yang baik memberi kita kebahagiaan. Orang yang buruk memberi kita pengalaman. Orang yang jahat memberi kita hikmah dan pelajaran…

Setiap orang yang hadir dalam kisah kehidupan kita, bukanlah suatu kebetulan. Mereka dihadirkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk senantiasa memberi hikmah dan pelajaran dalam perjalanan hidup kita.

Dunia ini Allah Azza wa Jalla ciptakan bukan untuk bersenang-senang, karena hakikatnya dunia merupakan tempat hukuman, seperti Adam dan Hawa dahulu. Lalu kapan linangan air mata akibat kesedihan, perpisahan, rasa sakit, kesulitan itu sirnadan berhenti?

Nanti, saat Allah Azza wa Jalla mengatakan udkhulul jannata la khaufun ‘alaikum wala yahzanun “Masuklah kalian ke dalam surga tanpa rasa takut dan kesedihan.” Justru kita seharusnya khawatir kalau hidup kita senang terus, mudah terus, jangan-jangan Allah Azza wa Jalla segerakan nikmat kita di dunia tapi tidak di akhirat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu