Muhammadiyah Jawa Timur menyiapkan program rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), selama lima bulan, mulai Oktober 2026 hingga Februari 2027. Didukung Lazismu Jatim, program ini menyasar pemulihan hunian, pendidikan, akses air bersih, tempat ibadah, hingga penguatan ekonomi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Untuk menjalankan program tersebut, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur memberangkatkan lima personel tim awal dari Gedung Kemanusiaan Lazismu Jatim di kawasan Buduran, Sidoarjo, Sabtu (10/10/2026).
Pemberangkatan ini menandai peralihan operasi kemanusiaan dari fase tanggap darurat ke rehabilitasi dan rekonstruksi setelah pemerintah daerah di sejumlah wilayah terdampak mencabut status tanggap darurat.
Perwakilan Lazismu Jawa Timur sekaligus penata laksana bantuan, Aditio Yudono, mengatakan MDMC Jatim telah menjalankan respons tanggap darurat selama sekitar 60 hari sejak dua hari setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
“Alhamdulillah MDMC Jawa Timur dengan dukungan Lazismu Jatim telah melaksanakan giat respons tanggap darurat bencana selama kurang lebih 60 hari. Kini tahapan respons bencana telah beralih dari tanggap darurat ke fase rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Aditio saat melepas tim awal.
Menurutnya, dukungan Lazismu Jatim akan terus berlanjut pada fase pemulihan. Pendampingan diperlukan agar warga penyintas tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi juga kembali membangun kehidupan dan memperkuat ketahanan keluarga.
“Lazismu Jatim terus memberikan dukungan terhadap upaya MDMC Jatim dalam mendampingi warga penyintas dengan berbagai program penguatan pada area yang menjadi dampingan Muhammadiyah Jawa Timur,” ujarnya.
Sembilan Program Pemulihan di Flores
Ketua Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (MLHPB) PWM Jawa Timur yang juga Ketua MDMC Jatim M Rofii MT menjelaskan, program rehabilitasi dan rekonstruksi akan dilaksanakan secara bertahap di sejumlah wilayah terdampak, terutama Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada.
Program terpadu tersebut dirancang berlangsung intensif selama lima bulan. Perencanaan dan koordinasinya dibahas dalam rapat gabungan MDMC dan Lazismu Jatim di kawasan Jemursari, Surabaya, Selasa (6/10/2026).
“Muhammadiyah hadir tidak hanya saat tanggap darurat memuncak, tetapi teguh mendampingi hingga masyarakat bangkit, mandiri, dan tangguh menghadapi masa depan,” kata Rofii.
Ada sembilan program utama yang disiapkan untuk mendukung pemulihan warga di Reo, Pota, Riung, dan kawasan sekitarnya.
Pertama, dukungan pendidikan melalui penyaluran 856 paket perlengkapan sekolah bagi pelajar di wilayah terdampak Reo, Pota, dan Riung. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung keberlangsungan kegiatan belajar-mengajar setelah gempa.
Kedua, pembangunan hunian darurat sebagai prototipe hunian transisi yang layak. MDMC Jatim merencanakan pembangunan 30 unit hunian darurat lengkap dengan perangkat pendukung di Reo, Pota, dan Riung.
Selanjutnya, sekitar 500 kepala keluarga (KK) direncanakan memperoleh bantuan bahan dan alat dari Lazismu untuk membangun hunian darurat secara mandiri dengan mengacu pada prototipe yang telah disediakan.
Ketiga, pemulihan akses air bersih melalui revitalisasi dan pemasangan jaringan pipa air di Pota, Manggarai Timur. Keempat, pembangunan sumur bor yang dilengkapi bak penampungan dan jaringan distribusi air di Baar, Riung, Kabupaten Ngada.
Kelima, pemulihan sarana ibadah melalui pembangunan atau penyelesaian Masjid Ahmad Dahlan berukuran 10 x 10 meter beserta fasilitas penunjangnya di Baar, Riung.
Keenam, pemulihan pendidikan anak usia dini melalui pembangunan kembali TK ABA ‘Aisyiyah Paralando di Reok Barat, Kabupaten Manggarai. Fasilitas yang direncanakan meliputi dua ruang belajar, ruang kantor, sanitasi atau toilet, serta teras sekolah.
Ketujuh, pemberdayaan ekonomi keluarga melalui pelatihan pengolahan hasil pertanian dan perikanan berbasis potensi lokal di Reo, Pota, dan Riung.
Kedelapan, penguatan kesiapsiagaan masyarakat melalui pelatihan kebencanaan berbasis komunitas, termasuk pengelolaan posko mandiri dan mitigasi risiko bencana.
Kesembilan, penguatan keselamatan lingkungan pendidikan melalui penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), agar sekolah dan warga sekolah memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi risiko bencana.
Tim Spesialis Diterjunkan Bertahap
M. Rofi’i mengaungkapkan, untuk memastikan program berjalan sesuai sasaran, MDMC Jatim menyiapkan tim relawan dengan keahlian lintas sektor.
“Mereka akan mendampingi pembangunan hunian darurat, pemulihan sekolah dan tempat ibadah, perbaikan infrastruktur air bersih, pemberdayaan ekonomi, serta penguatan kesiapsiagaan masyarakat,” katanya.
Dia menmbahkan, tim teknis dan logistik bangunan bertugas mendampingi pembangunan hunian serta rehabilitasi fasilitas pendidikan dan ibadah. Tim air, sanitasi, dan kebersihan atau Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) menangani revitalisasi jaringan perpipaan dan pembangunan sumur bor.
Sementara itu, tim pemberdayaan dan psikososial akan memfasilitasi pelatihan pengolahan hasil pertanian dan perikanan serta pendampingan psikososial di lingkungan sekolah. Tim pengurangan risiko bencana bertugas mendampingi pengelolaan posko dan pelaksanaan program SPAB bersama warga serta pihak terkait.
“Pengiriman relawan akan dilakukan melalui sistem rotasi berkala hingga Februari 2027. Pola ini dirancang untuk menjaga stamina relawan sekaligus memastikan pendampingan teknis dan sosial tetap berjalan selama program berlangsung,” ujarnya.
Rofii menegaskan, pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pembangunan fisik. Warga juga perlu mendapatkan dukungan untuk memulihkan penghidupan, memperkuat kemandirian ekonomi, dan meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman bencana berikutnya.
“Karena itu, pelaksanaan program akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tokoh masyarakat, serta jejaring kemanusiaan setempat,” tandasnya.
Atas nama MDMC Jatim, Rofii menyampaikan apresiasi kepada para muzakki, donatur, relawan, Lazismu Jatim, seluruh jajaran Muhammadiyah dan Aisyiyah, Lazismu se-Jatim, serta perusahaan dan komunitas yang turut mendukung operasi kemanusiaan tersebut.
Dukungan bersama itu diharapkan membantu warga Flores melewati masa pemulihan, mendapatkan kembali akses terhadap kebutuhan dasar, dan membangun kehidupan yang lebih tangguh setelah bencana. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments