Di ujung timur negeri ini, di tanah Merauke, langkah kaki saya terhenti sejenak. Bukan karena lelah, tetapi karena hati yang tiba-tiba dipenuhi rasa haru.
Dalam rihlah dakwah Ramadan 1447 H ini, saya dipertemukan dengan wajah-wajah kecil di perbatasan Papua Nugini—anak-anak yang menyambut dengan senyum tulus, tanpa sekat, tanpa prasangka.
Mereka berlari mendekat, seolah tak ada jarak di antara kami. Mata mereka berbinar, penuh rasa ingin tahu, namun juga menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan. Di tengah keterbatasan, mereka justru mengajarkan arti kecukupan. Di tengah kesunyian, mereka menghadirkan kehangatan yang tak bisa dibeli dengan apa pun.
Sebagai bagian dari perjalanan saya bersama Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah, saya menyadari bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan kata-kata, tetapi tentang menyapa, merangkul, dan menghadirkan cinta dalam setiap pertemuan. Ramadan di sini terasa berbeda—lebih sunyi, namun justru lebih dalam menyentuh jiwa.
Saya menyapa siapa saja. Tanpa bertanya suku apa, agama apa, atau dari golongan mana. Karena di hadapan kemanusiaan, semua batas itu seakan luluh. Yang tersisa hanyalah rasa bahwa kita adalah saudara—yang dipertemukan oleh takdir untuk saling menguatkan.
Di tanah yang masih begitu alami ini, saya belajar bahwa kesederhanaan adalah bentuk syukur yang paling jujur. Mereka hidup dengan apa adanya, namun wajah mereka memancarkan ketenangan yang mungkin sulit kita temukan di hiruk-pikuk kota. Alam mengajarkan mereka untuk cukup, dan kehidupan mengajarkan mereka untuk tetap tersenyum.
Perjalanan ini bukan sekadar rihlah dakwah. Ini adalah perjalanan hati—yang mengingatkan saya bahwa dakwah sejatinya adalah tentang menghadirkan harapan di tempat yang jauh dari sorotan. Tentang menyalakan cahaya kecil di sudut negeri, agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri.
Dan ketika saya melangkah pergi, meninggalkan perbatasan itu, yang saya bawa bukan hanya kenangan. Tetapi pelajaran tentang cinta yang sederhana, tentang persaudaraan yang tulus, dan tentang makna Ramadan yang sesungguhnya—menghadirkan kebaikan, di mana pun kita berada. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments