Suasana khidmat kegiatan pembinaan guru dan karyawan menyelimuti Masjid Syuhada, Kompleks Pendidikan Gadung, Wonokromo, Surabaya, pada Jumat (13/12/2025). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo dengan mengusung tema “Mengajar sebagai Ibadah, Mengabdi sebagai Jalan Dakwah”.
Kegiatan pembinaan tersebut diikuti oleh guru dan karyawan dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan di lingkungan PCM Wonokromo. Agenda ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman peran pendidik dan tenaga kependidikan dalam menjalankan tugas profesional sekaligus pengabdian keagamaan.
Kegiatan dipandu oleh Puspita, guru SD Muhammadiyah 6 Surabaya. Acara diawali dengan pembacaan Surah Al-Mujadalah ayat 11 yang dibaca bersama oleh seluruh guru dan karyawan yang hadir sebagai pembuka rangkaian kegiatan.
Ketua Dikdasmen PCM Wonokromo, Anang Saifuddin, S.E., S.H., M.S.A., dalam sambutannya menyampaikan harapan agar seluruh guru dan karyawan di lingkungan PCM Wonokromo dapat memahami pengelolaan diri secara menyeluruh.
“Besar harapan dari saya agar guru dan karyawan selingkung Wonokromo memahami cara mengatur pribadi, organisasi, spiritual, hingga finansial,” ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua PCM Wonokromo, Ir. Lukman. Ia menjelaskan alasan menghadirkan Agus Siswantono sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut.
“Salah satu yang membuat kami tertarik mendatangkan Pak Agus sebagai pemateri karena beliau mampu membawa kemajuan di Lumajang. Contoh kecilnya, mengubah panti menjadi rumah sakit hingga memajukan SMK Muhammadiyah,” ungkapnya.
Materi pembinaan kemudian disampaikan oleh Agus Siswantono, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang Bidang Dikdasmen. Dalam pemaparannya, Agus menceritakan perjalanan hidupnya yang tumbuh besar di panti asuhan hingga dipercaya menjadi pengasuh serta terlibat dalam pendirian rumah sakit di Lumajang.
Ia juga berbagi pengalaman saat diamanahi mengelola SMK Muhammadiyah Lumajang. Agus menyampaikan bahwa sejak awal berdiri, kegiatan salat Duha menjadi pembiasaan yang dijalankan secara tertib oleh guru dan siswa.
“Sejak tahun pertama berdiri, saat salat Duha tidak ada satu pun guru maupun siswa yang berbicara ketika ibadah berlangsung,” jelasnya.
Dalam perjalanan berikutnya, Agus menjelaskan upaya peningkatan jumlah peserta didik dari 108 siswa menjadi sekitar ratusan siswa hingga saat ini. Ia juga menceritakan proses pengajuan akreditasi sekolah yang akhirnya memperoleh hasil sesuai harapan.
Selain itu, Agus menyampaikan beberapa prinsip dalam mengelola AUM pendidikan, di antaranya penataan niat, perubahan pola pikir dengan pendekatan 3S (sepenuh hati dan menyenangkan), serta memegang prinsip “bermanfaat bagi sesama”.
Ia juga menjelaskan ciri-ciri pribadi yang cenderung mudah mengeluh, seperti bersikap acuh terhadap lingkungan, menunggu perintah, mengedepankan ego, dan berorientasi pada penyelesaian pekerjaan semata. Sementara itu, individu yang berada di zona nyaman, menurutnya, memiliki kecenderungan merasa cukup, takut salah, enggan bersaing, dan minim kreativitas.
Kesan terhadap kegiatan ini disampaikan oleh Faza Nurinda Elok, S.Pd., guru SD Muhammadiyah 24 Surabaya.
“Sebagai salah satu guru baru di AUM ini, saya jadi tersadarkan bahwa dibutuhkan niat yang ikhlas, usaha yang gigih, dan kerja sama di tempat saya mengabdi,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Fandi, karyawan SMA Muhammadiyah 3 Surabaya.
“Motivasi yang disampaikan oleh Pak Agus menggugah diri saya agar dapat melakukan yang terbaik guna memajukan bersama tempat saya mengabdi ini,” katanya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments