
PWMU.CO – Majelis Kesejahteraan Sosial (Makesos) Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Surabaya bersama perwakilan Makesos dari tiap cabang se- Surabaya mengadakan kunjungan studi tiru ke Griya Lansia Husnul Khatimah yang berlokasi di Jalan Suropati, Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Ahad (6/7/2025).
Rombongan berangkat pukul 07.00 WIB dari Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya. Rombongan ini didampingi oleh Ketua PDA Surabaya, Alifah Hikmawati, serta Koordinator Bidang (Koorbid), Luluk Humaidah. Mereka tiba di Griya Lansia Husnul Khatimah tepat pukul 10.23 WIB.
Setibanya di Griya Lansia Husnul Khatimah, rombongan disambut hangat oleh pengelola, Nur Hadi bersama para pengasuh muda yang penuh semangat.
Yang tak kalah istimewa, rombongan langsung dipertemukan dengan para lansia, baik laki-laki maupun perempuan yang tampak rapi mengenakan seragam merah dan duduk dengan tenang.
Di bagian depan, tampak para lansia laki-laki (eyang kakung), beberapa di antaranya duduk di atas kursi roda. Sementara itu, di bagian belakang, para lansia perempuan (eyang putri) duduk anggun dengan hijab yang serasi.
Acara diawali dengan sesi ramah tamah yang berisi kisah berdirinya Griya Lansia Husnul Khatimah, lengkap dengan berbagai suka dan duka dalam proses pengelolaannya.
Menurut Nur Hadi, Griya Lansia Husnul Khatimah merupakan lembaga sosial murni, yaitu lembaga yang sepenuhnya dikelola secara mandiri tanpa menerima bantuan dari pemerintah.
Ia menyebutkan bahwa anggaran operasional yang dibutuhkan setiap bulannya mencapai kurang lebih Rp200 juta. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, pihak pengelola memanfaatkan jaringan media sosial seperti YouTube, Facebook, TikTok, dan Instagram sebagai sarana dakwah sekaligus untuk menarik para donatur.
Berkat strategi ini, banyak donatur yang turut mewakafkan hartanya untuk mendukung keberlangsungan Griya Lansia Husnul Khatimah. Salah satu di antaranya adalah Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Zainul Muslimin.
“Lembaga sosial Griya Lansia Husnul Khatimah ini didirikan pada tahun 2021. Griya lansia ini bukan milik perorangan maupun lembaga tertentu. Griya Lansia ini milik umat,” tegas Nur Hadi.
Ia menjelaskan bahwa di luar sana memang banyak berdiri griya lansia atau panti jompo, namun sebagian besar dikelola oleh pihak nonmuslim. Kalaupun ada yang dikelola oleh umat Islam, banyak yang kini sudah tidak beroperasi.
Saat ini, Griya Lansia Husnul Khatimah menampung 190 penghuni, dan sekitar 90 orang di antaranya membutuhkan perhatian khusus. Mereka termasuk Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) serta lansia yang tidak bisa berdiri dan hanya bisa duduk atau berada dalam posisi berbaring.
Griya Lansia Husnul Khatimah, yang disebut-sebut sebagai salah satu griya lansia terbesar se-Asia, mengusung konsep pesantren. Meskipun tidak sepenuhnya seperti pesantren pada umumnya, tempat ini tetap menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan para penghuninya.
“Konsepnya sak isok-isok e. Karena mereka ini para santri yang sudah sepuh—eyang kakung dan eyang putri. Tapi tetap kami arahkan untuk beribadah,” kata Nur Hadi.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar penghuni sebelumnya belum mengenal ibadah dengan baik.
“Banyak dari mereka yang bahkan tidak tahu shalat itu apa dan bagaimana caranya,” jelasnya.
Setiap penghuni memiliki kisah perjalanan hidup yang unik dan menyentuh. Salah satunya adalah Mbah Wardoyo yang berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta.

Saat pertama kali datang ke Griya Lansia Husnul Khatimah, Mbah Wardoyo bahkan tidak tahu berapa rakaat shalat Shubuh. Ia lebih sering menunjukkan sikap marah dan emosional. Namun, setelah menjalani pembinaan selama 10 hari, terjadi perubahan besar. Kini, Mbah Wardoyo dikenal sebagai salah satu penghuni yang paling taat beribadah dan paling bersemangat, termasuk dalam menghafal bacaan al-Quran.
Menurut Nur Hadi, jika di luar dikenal dengan kegiatan “Jumat Berkah”, maka di Griya Lansia Husnul Khatimah kegiatan serupa dinamakan “Jumat Bergas”.
Kegiatan ini diikuti oleh para eyang kakung dan eyang putri untuk melakukan bersih-bersih lingkungan. Di antara mereka, Mbah Wardoyo dikenal sebagai yang paling rajin dan getol dalam membersihkan area griya serta merawat tanaman.
“Perlu dimaklumi, kondisi para lansia ini sangat beragam. Ada yang akalnya masih normal tapi fisiknya sudah lemah karena usia. Ada juga yang fisiknya cukup kuat, namun mengalami gangguan secara mental atau emosional,” sambungnya.
Setelah acara ramah tamah selesai, para lansia disuguhkan makan siang bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan shalat Dhuhur berjamaah.
Sementara itu, rombongan ‘Aisyiyah Kota Surabaya melanjutkan kegiatan dengan berkeliling area Griya Lansia, dipandu oleh istri dari Nur Hadi, Ibu Mufakhiroh.
Rombongan diarahkan menuju area khusus bagi lansia dengan kebutuhan khusus, yaitu para perempuan dengan gangguan jiwa, yang ruangannya berhadapan langsung dengan ruang para lansia laki-laki. Meskipun secara akal tidak sepenuhnya normal, para penghuni di area ini terlihat sehat dan tampak segar.
Ibu Mufakhiroh, yang merupakan mantan perawat dan rela mengundurkan diri dari status Aparatur Sipil Negara (ASN) demi mengabdi di Griya Lansia, tampak sangat akrab dan dekat dengan para penghuni. Kepeduliannya yang tulus membuat para lansia merasa nyaman dan terlayani dengan penuh kasih sayang.
Selanjutnya, rombongan mengikuti arahan Ibu Mufakhiroh untuk mengunjungi kamar-kamar para lansia yang kondisi fisiknya sudah sangat lemah. Para penghuni di kamar-kamar ini umumnya hanya bisa berbaring dan berselimut karena keterbatasan fisik yang dimiliki. Menariknya, di setiap kamar di Griya Lansia Husnul Khatimah tertera nama pewakaf yang menyumbangkan dana untuk pembangunan atau perawatan ruangan tersebut.
Di salah satu kamar, rombongan melihat papan nama yang menunjukkan bahwa ruangan tersebut merupakan wakaf dari Lazismu Jawa Timur.
Perjalanan dilanjutkan menuju area pencucian pakaian lansia, yang letaknya bersebelahan dengan dapur dan ruang pemulasaraan jenazah. Semua fasilitas tersebut tertata rapi dan bersih. Griya Lansia Husnul Khatimah juga memberdayakan tenaga muda sebagai bagian dari pelayanannya, baik sebagai pengasuh, juru masak, maupun tenaga kebersihan.
Saat rombongan hendak keluar menuju aula, mereka sempat berpapasan dengan keluarga dari salah satu penghuni yang sedang berkunjung untuk menjenguk sanak saudaranya. (*)
.
Penulis Suhartini Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments