Ada nama yang selalu muncul ketika orang-orang Muhammadiyah Tabagsel berbicara tentang ketekunan, ketulusan, dan ingatan kolektif. Nama itu adalah Mansur Suaidi Siregar. Ia bukan orator besar yang menghiasi panggung nasional, tetapi justru karena kesederhanaan itulah ia menjadi pilar penting yang menghidupkan denyut Muhammadiyah di sudut Sumatera Utara. Banyak tokoh lahir dan pergi, namun tidak semuanya meninggalkan napas sejarah. Mansur Suaidi adalah salah satu dari sedikit yang melakukannya—dalam diam, dalam keteguhan, dalam cinta yang tidak menuntut balasan.
Penjaga Memori Muhammadiyah Tabagsel
Di antara sekian banyak kontribusinya, yang paling membekas adalah kemampuannya mendokumentasikan perjalanan Muhammadiyah Tabagsel. Ia menulis bukan untuk dipuji, melainkan karena merasa bertanggung jawab menjaga ingatan organisasi. Laporan-laporannya, catatan kecilnya, hingga artikel panjangnya, menjadi saksi bagaimana Muhammadiyah tumbuh dari ruang-ruang kecil pengajian hingga berdiri menjadi kekuatan sosial-keagamaan di daerah.
Di Tabagsel, sangat sedikit orang yang mau mengerjakan “pekerjaan sunyi” seperti itu: menulis sejarah saat sejarah sedang berjalan. Namun Mansur Suaidi melakukannya dengan penuh cinta. Karena baginya, dokumentasi bukan sekadar tulisan, melainkan cara agar perjuangan tidak hilang ditelan waktu.
Ayah yang Lembut, Pemimpin yang Tegas
Di rumah, ia adalah sosok yang dipenuhi kasih, yang lebih memilih menjadi teman daripada sekadar ayah. Putranya, Ahmad Nazar Siregar, mengenang bagaimana ayahnya mendengar setiap keluhan, menenangkan setiap kecemasan, dan memberi solusi tanpa membuat jarak. Tetapi ketika bicara amanah, ia berubah menjadi pemimpin yang tegas, seperti ketika ia memimpin Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan.
Sebagai Rektor UM Tapsel (2000–2005), gaya kepemimpinannya sederhana: beri amanah, percaya, lalu tagih pertanggungjawaban. Kalimatnya yang terkenal, “Aha do gunana ubaen ko disi, anggo lek au do mamikirkonna,” menjadi mantra kepemimpinan. Ia ingin setiap orang tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, bukan hanya pengikut struktur.
Keluarganya kini merasakan hasil dari keteladanan itu. Empat anaknya tumbuh menjadi dokter, tenaga kesehatan, dan aparatur negara. Semua dibesarkan dengan pesan yang selalu mereka ingat:
“Berbuat baiklah tanpa berharap balasan. Biarkan Allah yang membalasnya.”
Kepergian yang Menghentak dan Menyentuh Banyak Hati
Kepergiannya datang begitu tiba-tiba. Setelah salat Isya, ia mengeluhkan tangannya yang kaku. Lalu tubuhnya menyusul. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, keluarga memeluk harapan tipis, namun di IGD sekitar pukul 23.00 dokter menyatakan ia telah tiada. Cerita itu dituturkan Nazar dengan suara lirih; air mata yang jatuh bukan hanya miliknya, tetapi milik siapa pun yang pernah mengenal almarhum.
Di Muhammadiyah Tabagsel, kabar kepergiannya mengguncang banyak tokoh. Dr. Lazuardi, Ketua PDM Tapsel, menyebutnya bukan hanya seorang kader, tapi “guru, pemandu, abang, dan bapak.” Sementara jurnalis senior Syaiful Hadi mengenangnya sebagai penulis tangguh yang menjaga suara Tabagsel tetap terdengar di tengah hiruk pikuk dunia jurnalistik Medan.
Warisan Teladan yang Tak Pernah Padam
Jika sejarah Muhammadiyah Tabagsel hari ini terasa kokoh, sebagian dari kekokohan itu berasal dari tangan-tangan seperti Mansur Suaidi Siregar—mereka yang memilih bekerja dalam sunyi, tetapi dengan hati yang penuh cahaya. Ia tidak membangun monumen batu, tetapi membangun ingatan, jiwa, dan karakter. Jejaknya tidak dapat dihapus oleh waktu karena ia menulisnya sendiri dengan kerja, tutur, dan keteladanan.
Dan ketika tubuhnya telah kembali ke tanah, cahaya itu tetap menyala: pada para kader yang ia bangunkan semangatnya, pada pesan-pesan moral yang ia tinggalkan, dan pada generasi muda Muhammadiyah yang hari ini membaca kisah hidupnya dengan mata basah, sembari membatin: “Beginilah seharusnya kader itu hidup.”(*)





0 Tanggapan
Empty Comments