Rabu (25/2/2026) petang itu, halaman Masjid Taqwa di Jalan Kalimas Udik IC, Surabaya, tampak berbeda. Masjid peninggalan tokoh legendaris KH Mas Mansur itu berdenyut lebih hidup.
Di bawah tenda besar yang berdiri kokoh di depan masjid, kursi-kursi tersusun rapi. Aroma kuah soto mengepul, menyatu dengan semilir angin Kalimas yang pelan berembus.
Di sisi kiri halaman, rombong soto ayam dan soto daging berdiri siaga. Piring-piring sudah berjajar, masing-masing diberi potongan ayam.
Di sampingnya, kuali besar berisi kuah panas mengepul, seolah tak sabar menyapa perut-perut yang seharian menahan lapar. Di meja lain, kopi dan buah-buahan tertata.
Warga berdatangan. Ada yang mengenakan sarung dan peci, ada pula ibu-ibu dengan mukena yang masih terlipat di tangan. Mereka duduk, berbincang pelan, menunggu azan magrib.
Begitu azan berkumandang, suasana berubah khidmat. Satu per satu jamaah menerima susu, air mineral, dan kurma. Camilan pembatal puasa itu menjadi pembuka kebersamaan sebelum saf-saf salat Magrib dirapatkan.
Usai salat berjamaah, panitia bergerak cepat. Kupon-kupon dibagikan. Warga menukarnya dengan makanan yang telah disiapkan. Dalam waktu singkat, 170 porsi soto ayam ludes. Ditambah 85 nasi kotak, tak tersisa.
“Tiap hari kami menyediakan 200 sampai 250 porsi makanan untuk berbuka,” ujar Muhammad Attamimi, ketua panitia Ramadan Beragi Masjid Taqwa, kepada PWMU.CO.
Dia menuturkan, kegiatan ini bukan baru kemarin sore. Sejak 2025, tradisi berbagi telah dimulai. Namun formatnya berbeda.

“Waktu itu kami mendatangi rumah-rumah warga dengan membawa nasi kotak, khususnya untuk kaum perempuan,” kenangnya.
Tahun ini, pendekatannya berubah. Warga tidak lagi hanya menerima kiriman makanan. Mereka diundang datang ke masjid. Diajak meramaikan saf Magrib. Dilibatkan dalam suasana ibadah.
“Tahun ini panitia mengundang warga untuk datang ke Masjid Taqwa. Mereka diajak salat Magrib berjamaah, lalu dibagikan kupon untuk ditukar dengan makanan,” jelasnya.
Sekretaris panitia, Bilal Zubaidi, menambahkan, menu yang disajikan tidak monoton. Setiap hari selalu ada variasi.
“Menu-menunya beragam. Ada nasi kebuli, soto ayam, soto daging, nasi krawu, nasi campur. Tiap hari sedikitnya empat menu yang kami sediakan,” ujarnya.
Tak hanya untuk warga sekitar. Pengurus Masjid Taqwa juga berbagi dengan jamaah masjid dan musala lain di sekitarnya. Di antaranya Musala Fatur Rahman, Langgar Gipo, dan Masjid An-Nur.
“Tujuannya untuk syiar, saling membantu di bulan penuh berkah,” kata Bilal.
Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan para donatur. Panitia memilih membeli makanan dari pelaku UMKM setempat, agar manfaatnya berlipat: jamaah terbantu, ekonomi warga pun bergerak.
Jika ada bantuan makanan dari luar, panitia tetap melakukan sortir agar kualitas dan kelayakannya terjaga.
Lebih dari sekadar membagi takjil, Masjid Taqwa sedang menyalakan kembali semangat berbagi yang diwariskan para pendahulu.
Dari halaman masjid tua di Kalimas Udik itu, syiar Ramadan tak sekadar terdengar—ia terasa. Hangatnya menyentuh, hidangannya mengenyangkan, dan kebersamaannya merekatkan hati warga.
Di bawah cahaya lampu tenda dan langit senja Surabaya, suasana itu menjelma utuh. Ramadan mempertemukan orang-orang di hamparan yang sama, menyatukan tangan dalam doa yang sama, dan meneguhkan bahwa berbagi adalah cara paling indah untuk menjaga persaudaraan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments