
Demokrat Penentu
Partai Demokrat bukan pemenang Pemilu 2019. Namun poros yang dimotori Partai Demokrat ini memiliki magnet tersendiri. Bahkan menjadi Sintesis antara Poros Hambalang-Istana dengan Poros Teuku Umar. Magnet poros ini terletak pada keberadaan SBY dan AHY selaku ketua umum Partai Demokrat yang sekaligus pemilik elektabilitas yang cukup baik untuk menutup kelemahan elektabilitas semua Capres yang ada.
Tesis saya menempatkan Partai Demokrat menjadi penentu arah koalisi Pilpres. Asumsi pertama, Partai Demokrat bisa menentukan kompetisi akan terjadi tiga pasangan, jika Anies Baswedan segera meminang AHY. Pilihan ini adalah pilihan yang sangat rasional bila dibaca dengan pendekatan voting behavior, sebab setiap disebut Anies selaku Capres, pemilih selalu mengaitkan wakilnya adalah AHY, secara natural Anies-AHY menjadi taksonomi melekat dwi-tunggal satu tarikan nafas pengucapan ‘Anies ya AHY’. Mengulang fenomena SBY-JK yang mendahului deklarasi dibanding pasangan lainnya tahun 2004.
“Puan sebagai putri Megawati tentu membawa misi politik ibunya, sama juga dengan AHY tentu membawa pesan politik dari ayahnya SBY.”
Asumsi kedua, Partai Demokrat bisa membuat kompetisi ke depan hanya diikuti oleh dua pasangan saja. Jika Partai Demokrat ambil keputusan koalisi dengan poros Teuku Umar, artinya PD berkoalisi dengan PDIP. Maka akan terjadi Poros Hambalang berhadapan dengan Poros Teuku Umar-Cikeas. Benih koalisi poros Teuku Umar-Cikeas ini sangat nyata untuk diwujudkan seiring pertemuan Puan-AHY yang sangat kekeluargaan sebagai Kakak-Adik.
Fenomena ini mesti dibaca utuh, Puan sebagai putri Megawati tentu membawa misi politik ibunya, sama juga dengan AHY tentu membawa pesan politik dari ayahnya SBY. Keduanya selaku pembawa misi orang tua yang sama-sama menjunjung keutuhan NKRI, pasti mereka mampu mewujudkannya demi Indonesia yang adil dan makmur bagi semuanya. Meskipun banyak kalangan berpandangan sangat sulit koalisi ini terbentuk, sebab sejarah perbedaan jalan politik diantara kedua orang tua masing-masing yakni Megawati dan SBY.
Sebaliknya dari pandangan kebanyakan pikiran umum, sebagai teoritisi politik saya meyakini ‘perjumapaan jalan politik antar anak muda Puan-AHY, akan semakin bersemangat diwujudkan, sekaligus menunjukkan gagasan dan jalan ‘Rekonsiliasi Nasional’ penting untuk terus dilakukan di tengah-tengah mulai terjadi pengerasan antar perbedaan-perbedaan identitas yang semakin menguat antar anak bangsa. Bila ini yang menjadi pijakan baik Megawati dan SBY, sebagai tokoh bangsa tentu akan merestui terus terciptanya kerukunan Bangsa yang bersatu, adil, makmur dan sejahtera.
Akhirnya wallahu a’lam bishawab … (*)
Editor Mohamamd Nurfatoni





0 Tanggapan
Empty Comments