Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mendidik Jiwa dengan Shalat dan Mengingat Mati

Iklan Landscape Smamda
Mendidik Jiwa dengan Shalat dan Mengingat Mati
Ustadz Raden Mas Mohammad Fatih Cokrodiningrat ( Dahlansae/PWMU.CO)
pwmu.co -

“Mendidik Jiwa dengan Shalat dan Mengingat Mati” menjadi tema Kajian Rutin Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung di halaman Klinik Rawat Inap Pelayanan Medik Dasar Siti Fatimah Muhammadiyah Pare, Ahad (11/1/2026).

Pada kesempatan tersebut, PCM Pare menghadirkan mubaligh asal Kota Blitar, Ustadz RM Mohammad Fatih Cokrodiningrat, sebagai pemateri kajian.

Dalam wawancara bersama PWMU.CO usai sarapan pagi di Kantor PCM Pare, Ustadz Raden Mas Mohammad Fatih Cokrodiningrat mengajak jamaah untuk merenungi firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’un ayat 5:

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ

“(Yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.” (QS. Al-Ma’un [107]: 5)

Menurutnya, banyak orang yang melaksanakan shalat, namun lalai terhadap hakikat dan kualitas shalat itu sendiri. Akibatnya, shalat tidak memberikan dampak yang nyata bagi pembinaan jiwa dan perilaku.

“Al-Qur’an diturunkan Allah untuk membina jiwa manusia. Jika jiwa dibina dengan Al-Qur’an, maka jiwa akan menjadi kuat. Shalat adalah ibadah yang sangat dominan dalam menguatkan jiwa dan saraf, tentu jika dilakukan dengan benar, tuma’ninah dalam rukuk, sujud, i’tidal, dan seluruh gerakannya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa setiap gerakan shalat memiliki keterkaitan satu sama lain, termasuk posisi berdiri dan keseimbangan tubuh. Lebih dari itu, shalat tidak hanya disaksikan oleh diri sendiri, tetapi juga direkam oleh Allah Swt., jiwa pelakunya, orang-orang di sekitarnya, bahkan alam semesta.

“Alam sekitar, tumbuhan, dan binatang pun merekam apa yang kita lakukan. Maka hati-hatilah dalam hidup. Bisa jadi seseorang lolos dari hukum manusia, tetapi ada banyak ‘rekaman’ yang kelak akan kembali kepada dirinya,” tuturnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ustadz Fatih juga menjelaskan bahwa shalat yang baik akan membawa pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Rumah tangga menjadi sakinah, alam terasa nyaman, dan tubuh manusia berfungsi sebagai filter kebaikan.

“Tubuh kita tidak tahu apakah makanan yang masuk itu halal atau haram. Yang membuat saraf menjadi peka adalah ibadah, seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, zikir, sedekah, istighfar, dan shalawat. Jika dilakukan sesuai syariat, semua itu akan mencegah perbuatan keji dan mungkar,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menyinggung tentang perbedaan perlakuan Allah terhadap orang beriman dan orang yang lalai dari shalat. Orang beriman yang berbuat salah, kata dia, sering kali mendapatkan teguran atau hukuman secara langsung sebagai bentuk ujian dan penghapus dosa. Sementara itu, orang yang jauh dari shalat bisa jadi dibiarkan dalam kelapangan dunia, yang justru merupakan bentuk istidraj.

“Maka shalat yang baik akan melahirkan jiwa yang toleran, rendah hati, dan peduli. Sedangkan meninggalkan shalat adalah kerusakan jiwa yang serius, meskipun secara lahir tampak sehat dan berkecukupan,” tegasnya.

Ustadz Fatih menutup kajiannya dengan menekankan pentingnya mendidik jiwa melalui shalat yang khusyuk dan kebiasaan mengingat mati. Mengingat kematian dalam shalat, seolah-olah shalat itu adalah shalat terakhir, akan membantu seseorang lebih fokus, tenang, dan memperbaiki amal.

“Mengingat mati membuat dunia terasa secukupnya dan akhirat menjadi tujuan utama. Ini yang melahirkan ketenangan jiwa, memperbaiki akhlak, mengikis kesombongan, dengki, serta menumbuhkan kepedulian sosial,” pungkasnya.

Dengan menggabungkan shalat yang khusyuk dan kesadaran akan kematian, jiwa akan terdidik menjadi lebih baik, tenang, dan siap menghadapi kehidupan dunia hingga akhirat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

1 Tanggapan

  1. Masyaallah, kajian nya ssngat mantab dan emas semua, menyangkut ilmu anthropology, sociology, psychology..

Search
Menu