Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Abdul Mu’ti ternyata seorang mudiker yang militan. Dirinya mengaku selalu mudik selama lebaran, dan sudah harus berada di kampung halaman sebelum adzan Maghrib berkumandang.
Demikian disampaikan Abdul Mu’ti dalam acara Halalbihalal Nasional bertajuk Semangat Syawal Meningkatkan Mutu Pendidikan. Kegiatan diikuti jajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), baik pimpinan dan karyawan di Jakarta serta melalui online se Indonesia, Selasa (30/3/2026).
“Saya termasuk mudiker militan. Selalu mudik dan sudah harus berada di kampung halaman sebelum adzan magrib berkumandang,” tuturnya. Sejak masuk Jakarta pada tahun 2002, tambah Mu’ti, selama 24 kali mudik tidak pernah mengalami pengalaman yang sama.
Mudik adalah istilah yang unik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Arti harafiahnya kembali ke udik. Makna secara spiritual tidak sekadar kembali ke udik, tapi kembali kepada keaslian fitrah manusia.
Disampaikan juga selain mudik yang yang khas asli Indonesia adalah halalbihalal. Halalbihalal telah menjadi sebuah tradisi khas yang hanya ada di Indonesia, tidak di negara lain. Halalbihalal tidak berkaitan dengan syariat suatu agama, tetapi tradisi yang berangkat dari pengamalan ajaran agama yang nilai dasarnya tidak hanya berkaitan dengan bagaimana agama itu dipahami. Tapi juga bagaimana agama diamalkan secara kreatif. Sehingga nilai universal agama bisa diterima oleh semua kalangan.
Dalam acara itu, Abdul Mu’ti mengupas makna halalbihalal dan mudik menggunakan rumus 3-R, 3-O, dan 3-S, apa itu. Refreshing, Reunion, Recreation (3R). R pertama, refreshing. Mudik menurut Mu’ti mengandung dua pengertian spiritual refreshing dan social refreshing.
Spiritual refreshing penyegaran spiritual setelah selesai berpuasa selama Ramadan kembali kepada fitrahnya. Yaitu makan dan minum seperti biasa. Makna idul fitri kembali kepada manusia yang lahir ke dunia dalam keadaan bersih dari segala dosa setelah selama Ramadan membersihkan jiwanya dengan beribadah dan menjalankan berbagai amalan agar bersih dari segala dosa.
Namun kebersihan spiritual belum sempurna, harus diikuti social refreshing. “Menyegarkan relasi sosial dengan saling bermaafan antara satu dengan yang lainnya, saling mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.”
R kedua, reunion adalah bersatu kembali setelah saling memaafkan. Reuni menjadikan kuat karena bersatu saling memaafkan, “klir semuanya mulai dari yang baru”, tandasnya.
R ketiga, recreation, mudik adalah rekreasi. Walaupun macet tetap dinikmati. Ketika pikiran dan hati segar, gagasan dan semangat baru muncul. Rekreasi bukan piknik tapi suasana saat mendapatkan pencerahan dari banyak bertemu orang selama dalam perjalanan.
Setelah menjalankan 3R akan munculah sikap 3O. O pertama adalah Open Mind, orang yang terbuka pikirannya, mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dengan sikap terbuka bisa melihat berbagai macam persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Dengan halalbihalal pikiran menjadi terbuka mau belajar, mendengar dan menerima masukan dari siapa pun dia.
Nasihat sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib, “Unzhur maa qaala walaa tanzhur man qaala,” berarti “perhatikan apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan”.
“Saya kalau turun ke lapanan, banyak ide bagus saya peroleh dari mereka. Mereka yang tidak pernah kita kenal sebelumnya,”tutur Mu’ti.
O kedua adalah Open Hearth, hati yang lapang menjadi kunci untuk bisa memaafkan orang lain. “Dalam Bahasa Jawa jembar manahe,” kata Mu’ti. Kalau hatinya sempit tidak salah pun disalahkan, padahal ada ungkapan Bahasa Arab, al-insanu mahaalul khatha’ wan nis-yaan, “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa,” lanjut Mu’ti.
O ketiga adalah Open House, semua membuka rumahnya dengan berbagai hidangan khas lebaran. Open menjadi tempat menjalin dan membangun relasi lebih baik.
3 S: Sejahtera, Sehat, Smart
Mengutip buku seorang psikolog Susan Pinker berjudul The Village Effect: How Face-to-Face Contact Can Make Us Healthier, Happier, and Smarter (2014), menceritakan tentang sebuah desa di Italia yang masyarakatnya memiliki harapan hidup di atas 90 tahun. Mengapa harapan hidupnya panjang? Kata kuncinya karena mereka menjadi masyarakat yang terbuka.
Masyarakat desa umumnya ramah, berjiwa gotong-royong, peduli kepada orang lain, terbuka segala sesuatu diceritakan kepada orang lain.
“Temu muka dengan sahabat secara rutin membuat tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak punya sahabat,” kata Mu’ti .
Man ahabba an yubsatha lahu fii rizqihi, wa yunsa-a lahu fii atsaarihi, falyashil rahimahu. “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahim,” begitu bunyi hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang dikutip Abdul Mu’ti
Serangkaian kegiatan halalbihalal bisa membuat hidup lebih sehat (Healthier) , lebih bahagia (Happier), lebih cerdas (smart), karena banyak silaturahim temu muka seperti digambarkan dalam buku Susan Pinker.
“Insyaallah dengan mengamalkan 3R kemudian 3O itu kita mencapai 3S. Inilah yang perlu kita bangun di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, rumah kita bersama”, imbau Mu’ti.
“Mari kita bangun relasi di mana kita ini memperkuat budaya ramah, memperkuat budaya dan tata kelola yang santun. Karena dengan itu insyaallah kita bisa mencapai keberhasilan dan kesuksesan bersama-sama,” pesan penutup Abdul Mu’ti.





0 Tanggapan
Empty Comments