Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Meneguhkan Etika dan Inovasi Digital Menuju Indonesia Emas 2045

Iklan Landscape Smamda
Meneguhkan Etika dan Inovasi Digital Menuju Indonesia Emas 2045
M. Hasan Chabibie menghadiri SiberMu National Seminar on Business, Technology, and Health. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Transformasi digital bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal nilai dan etika. Hal ini ditegaskan oleh Staf Ahli Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, M. Hasan Chabibie, dalam SiberMu National Seminar on Business, Technology, and Health (SINABTECH) yang digelar Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu) di Ballroom SMTORIUM, SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Kamis (16/10/2025).

Dalam pemaparannya, Hasan memaparkan bahwa visi Indonesia Emas 2045 tidak dapat dilepaskan dari beberapa pilar utama, yaitu pengembangan sumber daya manusia (SDM), pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, pemantapan ketahanan nasional, dan tata kelola pemerintahan.

Ia menegaskan bahwa pengembangan SDM merupakan tantangan abadi yang tidak akan pernah selesai, mengingat perkembangan zaman yang terus bergerak dinamis.

“Jangan pernah membayangkan urusan SDM akan selesai dalam satu periode. Ini adalah persoalan yang terus-menerus mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Hasan memuji inisiatif Muhammadiyah yang sejak sebelum kemerdekaan telah berkontribusi dalam pendidikan melalui pendirian sekolah, kampus, dan universitas, termasuk inovasi terbaru berupa SiberMu sebagai universitas berbasis cyber yang mengusung konsep pendidikan jarak jauh (PJJ).

Menurutnya, pendekatan ini relevan dengan kebutuhan zaman, di mana konten digital, desain kuriosum berbasis teknologi, serta dukungan dan keterlibatan mahasiswa menjadi kunci keberhasilan.

Mengacu pada visi Indonesia Emas 2045, Hasan menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi muda saat ini, yang rata-rata berusia 20-an tahun, untuk menjadi tulang punggung pada tahun 2045.

“Jika mahasiswa kita saat ini berusia 20-an, pada 2045 mereka akan berusia sekitar 40-45 tahun. Mereka adalah generasi yang akan menikmati bonus demografi, tetapi bisa menjadi kerugian demografis jika kita tidak mempersiapkan SDM dengan baik,” tegasnya.

Ia memperingatkan bahwa lembaga pendidikan, termasuk Kementerian Pendidikan Tinggi dan kampus-kampus, akan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab jika gagal mempersiapkan generasi ini.

Hasan juga berbagi pengalaman tentang Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI) yang baru-baru ini diadakan di ITB, Bandung, dan dihadiri lebih dari 2.000 ilmuwan terbaik Indonesia berdasarkan high index rank.

Acara yang dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan memperkuat ekosistem riset dan industri yang tidak hanya berhenti pada publikasi atau prototipe, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kami sadar para dosen sudah sibuk mengajar, menilai, dan melakukan pengabdian masyarakat. Tapi, untuk mencapai hasil luar biasa, kita tidak bisa bekerja dengan cara biasa,” ungkapnya.

Ia menekankan perlunya paradigma transformatif di luar aktivitas tridarma perguruan tinggi, yang mencakup penelitian, pengembangan, dan ekosistem sains-teknologi yang terkolaborasi. Dampak dari inovasi ini, menurut Hasan, dapat diukur dari tiga aspek: academic impact, social impact, dan economical impact.

Sebagai contoh, ia menyebutkan kebijakan ekonomi seperti penyaluran Rp800 triliun ke bank-bank untuk meningkatkan daya beli masyarakat, yang menunjukkan bagaimana kebijakan dapat memberikan dampak ekonomi yang terukur.

Empat Pilar Tata Kelola Digital

Berbekal pengalaman 10 tahun sebagai programmer dan pengembang konten digital, Hasan memaparkan empat pilar penting dalam tata kelola institusi digital, khususnya untuk kampus seperti SiberMu yang 99% aktivitasnya berbasis digital. Pilar-pilar tersebut adalah:

Pertama, membentuk budaya, kebiasaan, dan perilaku yang mendukung ekosistem digital. Kedua, mengelola sumber daya manusia dan kepemimpinan digital. Ketiga, memastikan proses tidak lagi manual, tetapi relevan dengan perkembangan teknologi. Keempat, menyediakan infrastruktur dan tata kelola yang mendukung ekosistem digital.

Hasan memperingatkan bahwa banyak kampus mengklaim sebagai institusi digital, tetapi prosesnya masih menggunakan pendekatan manual dari era 20-30 tahun lalu. Ia menegaskan bahwa hanya empat dari sekitar 4.500 perguruan tinggi di Indonesia yang benar-benar menjalankan PJJ secara penuh, termasuk SiberMu, dan keberhasilan mereka bergantung pada penerapan keempat pilar ini.

Untuk mendukung tata kelola digital, Hasan memperkenalkan kerangka inovasi berbasis teknologi yang disebut DUAT Framework (Discover, Use, Adapt, Transform). Langkah-langkahnya meliputi:

  • Discover: Mengidentifikasi teknologi baru yang relevan dengan konteks Indonesia, termasuk kearifan lokal.
  • Use: Mengimplementasikan teknologi secara tepat guna pada skala kecil untuk uji coba (proof of concept).
  • Adapt: Menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan lokal.
  • Transform: Mengintegrasikan teknologi secara sistemik ke dalam kebijakan kurikulum dan praktik pendidikan.

Dia mencontohkan kegagalan teknologi MMS (Multimedia Messaging Service) pada era 2000-an yang muncul di waktu yang salah, meskipun secara teknologi sudah siap. “Teknologi harus relevan dengan zaman dan konteksnya. Jika tidak, seperti MMS yang kalah oleh SMS dan BBM, teknologinya tidak akan berhasil,” jelasnya.

Etika Digital dan Nilai Spiritual

Hasan juga menyoroti tantangan etika dalam pengembangan teknologi, khususnya AI. Ia menyebutkan fenomena iklan kesehatan atau konten digital yang dibuat oleh AI, seperti video yang menyerupai tokoh tertentu, yang sulit dibedakan antara asli dan buatan.

“Kita hampir tidak bisa membedakan apakah itu benar-benar Pak Rektor atau replika AI. Ini menimbulkan persoalan etika, tata kelola, dan regulasi,” ungkapnya.

Mengutip ayat Al-Qur’an, Hasan mengingatkan bahwa inovasi teknologi harus dilandasi oleh nilai-nilai spiritual dan keagamaan agar memberikan manfaat bagi peradaban, bukan malah menghancurkannya.

“Kita belajar teknologi, ekonomi, atau IT bukan untuk mengambil hak orang lain, seperti carding atau menjual data, tetapi untuk menjadi enabler perubahan budaya yang positif,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai spiritual ini relevan sepanjang zaman, meskipun teknologi, ekonomi, dan politik terus berubah.

Hasan menyampaikan apresiasi atas inisiatif SiberMu dalam menggelar seminar bertema “Transformasi Digital yang Berdampak: AI, Pendidikan, dan Kolaborasi Lintas Sektor Menuju Indonesia Emas 2045”.

Ia berharap hasil dari seminar ini dapat menjadi masukan berharga bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk memperkuat ekosistem pendidikan dan inovasi di Indonesia.

“Dunia teknologi bukan hanya soal coding atau sistem, tetapi juga tentang etika, dampak sosial, dan filosofi yang mendasarinya. Mari kita kembalikan pada nilai Iqra bismi rabbikalladzi khalaq agar riset dan inovasi kita memberikan manfaat nyata bagi peradaban,” pungkas Hasan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu