Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengasah Logika, Mengokohkan Literasi: Membaca Strategi TKA di SD Mumtaz

Iklan Landscape Smamda
Mengasah Logika, Mengokohkan Literasi: Membaca Strategi TKA di SD Mumtaz
Kegiatan Drill TKA Siswa Kelas 6 saat mengerjakan latihan soal di SD MUMTAZ dengan penuh semangat (Indira/PWMU)
pwmu.co -

Di tengah riuh diskusi tentang kemampuan literasi dan numerasi anak-anak Indonesia, SD Muhammadiyah 1&2 Taman yang akrab disapa SD Mumtaz memilih langkah terukur. Sekolah tersebut menggelar drill ketiga Tes Kemampuan Akademik (TKA) Numerasi dan Literasi bagi seluruh siswa kelas 6, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 11.30 WIB di Gedung 1 sekolah tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Drill menjadi bagian dari program pendalaman akademik yang telah dirancang sejak awal semester sebagai ikhtiar sistematis membekali siswa menghadapi fase transisi menuju jenjang pendidikan berikutnya.

Ruang kelas tampak hidup sejak pagi. Para siswa datang dengan perlengkapan tulis dan semangat yang terpancar dari wajah mereka.

Kegiatan drill diawali dengan doa dan penguatan mental dari guru kelas. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif, tetapi juga aspek spiritual dan emosional siswa.

Rizky Johan Prasetyo, M.Pd., Waka Kurikulum SD Mumtaz, mencatat adanya peningkatan antusiasme siswa yang signifikan dibandingkan pertemuan sebelumnya.

“Alhamdulillah, pertemuan ketiga ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan,” ungkapnya.

Peningkatan tersebut menjadi refleksi dari kerja kolektif antara guru, siswa, dan pengelola kurikulum yang terus melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran.

Pada sesi numerasi kali ini, materi difokuskan pada satuan berat, satuan volume, dan satuan waktu. Ketiga materi tersebut kerap dianggap sederhana, tetapi dapat menjadi jebakan dalam ujian apabila siswa tidak memahami konsepnya secara tepat.

Pendekatan yang digunakan tidak sekadar mengandalkan hafalan rumus. Siswa diajak mengerjakan soal cerita kontekstual yang menghubungkan konsep matematika dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

Momen menarik terjadi ketika Fakhreza, siswa kelas 6D, maju ke depan kelas untuk menyelesaikan soal konversi satuan berat di papan tulis. Dengan percaya diri, ia berhasil memecahkan soal yang diberikan.

“Senang sekali bisa maju ke depan. Awalnya saya agak grogi, tapi setelah mencoba ternyata soal satuan berat tidak sesulit yang dibayangkan,” ujarnya dengan wajah berseri. “Semoga dengan sering latihan seperti ini, nilai TKA nanti bisa maksimal.”

Pengalaman Fakhreza menunjukkan bahwa keberanian untuk mencoba dan suasana belajar yang mendukung dapat membantu mengubah rasa takut menjadi tantangan yang menyenangkan.

Indah Nurma Sari, S.Pd., guru pengajar drill matematika, menegaskan bahwa metode drill dengan pendekatan santai tetapi tetap terstruktur dapat mendorong keterlibatan siswa dalam proses belajar.

SMPM 5 Pucang SBY

“Saya sangat senang melihat semangat anak-anak hari ini. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga aktif mencoba dan bertanya,” jelasnya.

Menurutnya, materi satuan berat, volume, dan waktu memang sering dianggap sederhana. Namun, materi tersebut justru menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman konseptual siswa.

“Dengan pendekatan soal cerita yang kontekstual, anak-anak lebih mudah memahami aplikasi sehari-hari,” tambahnya.

Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya berlatih menyelesaikan soal, tetapi juga memahami bagaimana konsep matematika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan drill yang diikuti secara bergiliran oleh delapan kelas paralel tersebut tidak berhenti pada materi numerasi. Siswa juga mendapatkan pendalaman materi literasi yang mencakup pemahaman bacaan dan tata bahasa.

Dua kompetensi tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis siswa. Kemampuan memahami informasi, membaca konteks, serta menggunakan bahasa secara tepat diperlukan tidak hanya untuk menghadapi TKA, tetapi juga dalam proses belajar pada jenjang berikutnya.

SD Mumtaz berkomitmen terus menggelar program pendalaman akademik secara berkala hingga mendekati jadwal TKA sebenarnya.

Tujuannya bukan sekadar mengejar nilai, tetapi membentuk generasi yang melek angka, peka terhadap bahasa, sekaligus memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Apa yang dilakukan SD Mumtaz menunjukkan bahwa pendidikan yang bermakna tidak lahir secara instan. Proses tersebut membutuhkan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan secara berkelanjutan.

Drill TKA bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu jembatan untuk membantu siswa membangun kemampuan akademik sekaligus karakter. Melalui proses yang terarah, siswa diharapkan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian, kedisiplinan, dan kerendahan hati dalam belajar.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu