Ujian hidup sering kali tidak datang dari orang jauh, melainkan justru dari mereka yang paling dekat dengan kita.
Dalam sebuah ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengupas tuntas bagaimana menghadapi persoalan, terutama yang bersumber dari keluarga dan lingkungan terdekat, dengan pendekatan Al-Qur’an, hadis, serta praktik tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Menurut UAH, kehidupan manusia tidak pernah lepas dari tiga lingkaran ujian. Pertama, dari diri sendiri (aqabah). Kedua, dari lingkungan terdekat (wustha). Ketiga, dari lingkungan yang lebih jauh (ula).
“Kalau sudah lulus pada yang terdekat, yang terjauh tidak ada hitungan,” ujarnya seperti dilansir di kanal Youtube MUSAWARAH.
UAH mencontohkan para nabi sebagai teladan. Nabi Muhammad saw menghadapi tantangan berat dari pamannya sendiri, Abu Lahab. Nabi Nuh as diuji oleh keluarganya. Nabi Luth as juga menghadapi ujian dari orang-orang terdekatnya.
“Kalau sudah bisa melewati yang dekat, yang jauh akan lebih mudah,” jelasn Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Namun, dia menekankan bahwa ujian paling pertama sesungguhnya ada dalam diri manusia sendiri.
Banyak persoalan terasa berat bukan karena peristiwanya, melainkan karena ketidakmampuan mengendalikan perasaan.
UAH memberi contoh sederhana, ketika seseorang yang kita kenal melewati kita tanpa menyapa. Rasa tidak enak yang muncul bukan semata-mata karena dia tidak menyapa, tetapi karena kita tidak mampu mengelola persepsi dan perasaan di hati.
“Kita bisa saja menyimpulkan, mungkin dia buru-buru, mungkin tidak melihat, mungkin sedang sakit. Itu lebih menenangkan hati,” tuturnya.
Takwa dan Fujur
Mengutip Surah Asy-Syams ayat 7–10, UAH menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat dua potensi: takwa (kecenderungan pada kebaikan) dan fujur (kecenderungan pada keburukan).
“Asy-syamsi wa nafsin wa ma sawwaha, fa alhamaha fujuraha wa taqwaha. Qad aflaha man zakkaha…”
Menurutnya, kebahagiaan diraih ketika seseorang mampu menampilkan takwanya dan menekan fujurnya.
dia mengibaratkan jiwa seperti pakaian yang kotor. Ketika mencuci, yang dibuang adalah kotorannya, bukan pakaiannya. Demikian pula jiwa, yang dibersihkan adalah sifat-sifat buruknya, bukan potensi dasarnya.
“Kotoran itu diciptakan agar kita tahu mana yang bersih. Kalau tidak ada kotor, kita tidak tahu itu bersih,” jelasnya.
Marah, misalnya, bukan diciptakan agar manusia menjadi pemarah, tetapi agar kesabaran bisa muncul. Tanpa ada pemicu marah, kesabaran tidak akan pernah teruji.
Menjawab pertanyaan jamaah tentang bagaimana jika persoalan datang dari keluarga atau saudara, UAH kembali menekankan prinsip mencari “lawan” dari sifat negatif.
Jika seseorang marah, munculkan sabar. Jika ada cemberut, balas dengan senyum. “Kita tidak bisa melarang Allah menitipkan ujian pada siapa. Tapi kita bisa memilih respons kita,” katanya.
Dia mencontohkan keteguhan Asiyah, istri Firaun, yang tetap beriman meski hidup bersama penguasa zalim. Dalam kondisi terikat sebelum dieksekusi, Asiyah memohon kepada Allah:
“Rabbi ibni li ‘indaka baitan fil jannah…” (Ya Rabb, bangunkanlah untukku rumah di sisi-Mu dalam surga).
Allah memperlihatkan istananya di surga sebelum ia wafat, dan ia meninggal dalam keadaan tersenyum.
“Itulah aqabah,” ujar UAH, menggambarkan puncak keteguhan jiwa menghadapi ujian terdekat.
UAH juga mengaitkan ujian hidup dengan filosofi lempar jumrah dalam ibadah haji. Lemparan itu bukan sekadar simbol, tetapi ajakan untuk mengoreksi diri.
“Lempar jumrah bismillahi Allahu akbar. Lempari koreksi diri kita pelan-pelan,” katanya.
Ketika seseorang sudah mampu mengatasi ujian di lingkaran terdekat, ujian dari luar akan lebih mudah dihadapi.
Jika di rumah baik-baik saja, tetapi kemudian pindah kerja dan bertemu lingkungan yang mengajak pada kemaksiatan, maka di situlah ujian lingkaran berikutnya muncul.
Doa Pelapang Dada dan Tata Cara Membacanya
Untuk mendapatkan ketenangan hati dan kemampuan move on dari persoalan, UAH menganjurkan membaca doa yang terdapat dalam Surah Thaha:
“Rabbi syrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan min lisani, yafqahu qawli.” (Ya Rabb, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, lepaskan kekakuan dari lisanku agar mereka memahami ucapanku).
Doa ini dibaca ketika ingin berdamai, berkomunikasi, atau menyelesaikan masalah secara baik-baik.
Adapun doa dan zikir setelah salat, UAH menjelaskan bahwa berdasarkan riwayat, bacaan tersebut dilakukan setelah salam, bukan saat sujud atau rukuk.
Urutannya bisa dimulai dengan membaca istigfar tiga kali:
“Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah.”
Bisa juga dengan redaksi yang lebih panjang:
“Astagfirullahal ‘azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih.”
Kemudian dilanjutkan dengan:
“Allahumma antas salam wa minkas salam…”
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, serta Ayat Kursi sebagai perlindungan dari godaan setan.
“Jangan dibikin rumit. Sederhanakan sesuai kemampuan,” pesannya.
UAH menegaskan, ilmu yang disampaikannya hanyalah titipan dari Allah. Jika benar, itu dari Allah dan Rasul-Nya. Jika ada kekeliruan, itu semata keterbatasan dirinya.
“Tidak ada kemampuan apa pun yang saya miliki. Itu titipan untuk disampaikan,” tuturnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments