Abdul Hamid BKN, yang meninggal dunia di Yogyakarta pada 6 Juli 1977, dikenal sebagai salah satu santri didikan K.H. Ahmad Dahlan. Ia merupakan sosok penting dalam sejarah Muhammadiyah dan turut berperan besar dalam perkembangan dunia olahraga di Indonesia. Sejak muda, Abdul Hamid aktif di organisasi kepanduan Muhammadiyah, Hizbul Wathan (HW), serta menjadi salah satu tokoh yang terlibat dalam pendirian Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1930.
Lahir di Kauman, Yogyakarta, Abdul Hamid adalah putra dari Kartoirono, sehingga dikenal dengan nama lengkap Abdul Hamid Bin Kartoirono atau disingkat BKN. Ia juga memiliki saudara bernama Dalhar BKN yang sama-sama aktif dalam gerakan Muhammadiyah. Sebagai santri K.H. Ahmad Dahlan, Abdul Hamid bergabung dalam pengajian Fathul Asrar Wa Miftahus Sa’adah (FAMS) bersama tokoh-tokoh muda lainnya seperti H.M. Sudja, H.M. Mochtar, dan H. Wasool Djafar. Setelah Muhammadiyah berdiri, ia kemudian mengabdikan diri dalam kegiatan Hizbul Wathan.
Dedikasinya terhadap Muhammadiyah tidak berhenti di HW. Abdul Hamid juga aktif di Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) pada periode 1936–1949 dan turut mengelola Madrasah Muallimin. Selain itu, ia pernah menjadi Direktur Percetakan Persatuan serta menjabat sebagai Kepala Pengarang atau Pemimpin Redaksi majalah Bintang Islam yang didirikan oleh H. Fachroddin pada tahun 1923. Kiprah jurnalistiknya memperlihatkan kepeduliannya terhadap dakwah dan pendidikan umat melalui media cetak.
Pada masa kepemimpinan K.H. Mas Mansur (1937–1942), Abdul Hamid dipercaya sebagai Bendahara Pengurus Besar Muhammadiyah. Kepemimpinan K.H. Mas Mansur dikenal sebagai masa pembaruan di tubuh Muhammadiyah, dengan dorongan kuat bagi kaum muda untuk berperan aktif dalam kehidupan sosial dan politik. Di sinilah peran Abdul Hamid menjadi penting, karena selain mengelola keuangan organisasi, ia juga ikut mendorong Muhammadiyah agar memiliki posisi strategis dalam dinamika kebangsaan kala itu.
Dalam bidang politik, Abdul Hamid turut mendirikan Partai Islam Indonesia (PII) dan menjabat sebagai bendahara. PII dipimpin oleh tokoh nasional seperti Mr. Sukiman Wiryosanjoyo dan R. Wiwoho Purbohadijoyo, serta diikuti oleh sejumlah tokoh Muhammadiyah ternama seperti K.H. Mas Mansur, K.H. Abdul Kahar Muzakkir, dan K.H. Farid Makruf. Setelah Indonesia merdeka, Abdul Hamid dipercaya menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Yogyakarta pada tahun 1945. Ia kemudian aktif di Partai Masyumi dan sempat menjabat sebagai Ketua DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta dari unsur partai tersebut. Pada Pemilu 1955, ia diberi amanah sebagai Ketua Panitia Pemilihan Daerah (PPD) DIY.
Selain dikenal sebagai organisatoris dan politisi, Abdul Hamid juga meninggalkan jejak berharga di bidang olahraga. Bersama masyarakat Kauman yang gemar bermain sepak bola, ia mendirikan Kauman Voetball Club (KVC) pada tahun 1915. Meski klub tersebut tidak bertahan lama, semangat olahraga di kalangan warga Kauman terus tumbuh.
Pada tahun 1918, Abdul Hamid bersama rekan-rekannya mendirikan Persatuan Sepakbola Hizbul Wathan (PS HW), menjadikan sepak bola sebagai sarana dakwah dan pembinaan generasi muda. Semangat ini kemudian diakui secara resmi oleh Hoofdbestuur Muhammadiyah pada tahun 1930 sebagai bagian dari gerakan dakwah modern.
Peran Abdul Hamid dalam sejarah sepak bola nasional semakin penting ketika pada tahun 1930 ia ikut serta dalam pendirian Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) yang dipimpin oleh Soeratin Sosrosoegondo. Dalam pertemuan bersejarah itu, berbagai klub daerah turut bergabung, seperti VIJ (Jakarta), BIVB (Bandung), PSM (Mataram/Yogyakarta), VVB (Solo), MVB (Madiun), IVBM (Magelang), dan SIVB (Surabaya). Muhammadiyah, melalui perwakilannya Abdul Hamid BKN, menunjukkan komitmen terhadap persatuan bangsa melalui olahraga.
Abdul Hamid BKN adalah sosok yang memadukan semangat dakwah, nasionalisme, dan pembaruan. Melalui kiprahnya di Muhammadiyah, dunia politik, dan olahraga, ia menjadi teladan bagi generasi muda akan pentingnya berjuang dengan ilmu, iman, dan pengabdian. Hingga akhir hayatnya, dedikasi Abdul Hamid terhadap umat dan bangsa tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah penting perjuangan Islam modern di Indonesia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments