Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) merupakan ujung tombak dan garda terdepan dakwah persyarikatan. Hidup matinya gerakan Muhammadiyah sangat bergantung pada aktivitas di tingkat ranting. Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan berbagai tantangan.
Pengajian rutin ranting kerap sepi dan hanya dihadiri segelintir pengurus senior. Sementara itu, ruang digital persyarikatan juga minim interaksi.
Kondisi ini menuntut strategi baru untuk menghidupkan kembali gerakan Muhammadiyah dari akar rumput.
Di sinilah kehadiran influencer menjadi penting. Dalam konteks ini, influencer bukan sekadar selebritas media sosial dengan jutaan pengikut.
Mereka adalah individu yang memiliki daya pengaruh, komitmen, dan energi untuk menggerakkan masyarakat. Mereka mampu membangun pengaruh secara kultural di dunia nyata maupun digital.
Strategi ini akan lebih progresif jika influencer tidak sekadar meramaikan dunia maya. Mereka perlu hadir secara fisik sebagai jamaah tetap dalam pengajian ranting.
Kehadiran mereka dapat memicu antusiasme, mencairkan suasana, dan mengundang masyarakat untuk ikut serta.
Dalam ranah sosial, mereka juga dapat menjadi motor penggerak kegiatan dan penyokong donasi.
Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) berperan menyediakan dukungan pendanaan strategis.
Lazismu sekaligus menjadi influencer kelembagaan yang memperluas jangkauan gerakan sosial persyarikatan.
Menggerakkan Potensi Internal Persyarikatan
Pertanyaan mendasarnya, dari mana kita dapat menghadirkan para influencer akar rumput?
Muhammadiyah sebenarnya memiliki sumber daya manusia yang melimpah.
Kita dapat merekrut pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), seperti guru, dosen, dan staf rumah sakit.
Kita juga dapat melibatkan simpatisan loyal dari berbagai lapisan masyarakat.
Para pengurus Cabang dan Ranting sendiri memiliki potensi untuk menggerakkan jamaah.
Kolaborasi berbagai unsur ini dapat memperkuat dakwah sekaligus memperluas basis partisipasi masyarakat.
Secara khusus, Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) perlu menjadi motor penggerak utama.
LPCRPM bertugas memetakan, melatih, dan mendistribusikan para aktivis dakwah.
Dengan demikian, mereka dapat menjadi pemantik semangat di ranting yang mulai meredup.
Menghargai Penggerak Dakwah
Pentingnya peran influencer menuntut perhatian terhadap keberadaan dan kesejahteraan mereka.
Keikhlasan memang menjadi ruh perjuangan Muhammadiyah.
Namun, pengelolaan dakwah profesional dan berkemajuan membutuhkan sistem pendukung yang adil.
Pegawai AUM yang mencurahkan waktu ekstra untuk menghidupkan ranting layak memperoleh perhatian.
Manajemen AUM dapat memberikan insentif khusus atau penghargaan struktural.
Langkah ini menyelaraskan profesionalisme kerja dengan loyalitas terhadap persyarikatan.
Lazismu juga perlu memperhatikan aktivis dakwah dan kader LPCRPM.
Dukungan dapat berupa dana operasional dakwah, beasiswa pendidikan keluarga, dan program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Dukungan tersebut membantu penggerak menjalankan aktivitas dakwah secara berkelanjutan.
Ketika kebutuhan dasar dan operasional terpenuhi, para penggerak dapat bekerja lebih optimal.
Mereka bisa berfokus menghidupkan jamaah tanpa terbebani kendala logistik yang menghambat dakwah.
Strategi influencer akar rumput mempertemukan potensi AUM, kelincahan LPCRPM, dan kekuatan finansial Lazismu.
Kolaborasi ini menjadikan influencer peserta aktif pengajian sekaligus penggerak kegiatan sosial.
Dengan dukungan penghargaan yang layak, ranting tidak lagi menjadi ujung tombak yang tumpul.
Ranting dapat kembali menjadi pusat peradaban Islam yang ramah, dinamis, berkemajuan, dan senantiasa dirindukan jamaahnya.***





0 Tanggapan
Empty Comments