Tauhid bukan sekadar konsep teologis yang diucapkan dalam kalimat lā ilāha illallāh, tetapi harus hadir dan terwujud dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang ditekankan oleh KH Nadjih Ihsan saat mengupas makna tauhid sehar-hari secara mendalam, sekaligus mengingatkan bahaya syirik tersembunyi seperti riya yang kerap tidak disadari oleh umat Islam.
Menurut dia, tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah atau ifrādullāhi fil ‘ibādah, yakni menjadikan Allah satu-satunya zat yang berhak disembah. Konsekuensinya, segala bentuk penghambaan kepada selain Allah harus ditinggalkan.
“Dalam kalimat lā ilāha illallāh itu ada unsur nafi (peniadaan) dan isbat (penetapan). ‘Lā’ berarti meniadakan segala sesuatu yang diilahkan, baik benda, manusia, bahkan diri sendiri. Sementara ‘illā Allāh’ menetapkan hanya Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah,” jelasnya seperti dikutip daam kanal Youtube Masjid Al Falah Surabaya Official.
Kiai Nadjih menjelaskan, ajaran tauhid sejak dahulu sudah menghadapi penolakan. Pada masa Nabi Muhammad SAW, kaum kafir merasa heran ketika ajaran Islam menegaskan Tuhan itu satu.
Dia mengutip ungkapan dalam Al-Qur’an tentang keheranan tersebut: bagaimana mungkin Tuhan yang banyak dijadikan satu. Padahal, sebelum Islam datang, masyarakat jahiliah terbiasa dengan konsep banyak tuhan.
“Orang yang belajar tauhid tidak mencari musuh, tetapi realitasnya justru dimusuhi,” ujarnya.
Alam Semesta sebagai Bukti Tauhid
Dalam ceramahnya, Kiai Nadjih juga mengutip pandangan ulama, seperti Syekh Jamil Zainu, bahwa Allah menciptakan alam semesta untuk satu tujuan: beribadah kepada-Nya. Selain itu, Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab sebagai pedoman hidup yang berisi ajaran keadilan, kebenaran, dan kejujuran.
Menurutnya, fenomena alam sejatinya adalah manifestasi tauhid. Segala sesuatu di alam telah “tunduk” pada hukum Allah.
Dia mencontohkan hukum alam sederhana: air yang dimasukkan ke dalam freezer pasti akan membeku, tanpa melihat siapa yang melakukannya.
“Bukan karena kepintaran manusia semata menciptakan alat, tetapi karena di dalam air itu ada hukum Allah. Inilah yang disebut tauhid kauniyah,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar cara pandang terhadap ilmu pengetahuan tidak menghilangkan dimensi tauhid, karena hal tersebut dapat merusak akidah.
Kiai Nadjih juga mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW menangis dalam salat malam setelah menerima ayat Al-Qur’an tentang penciptaan langit dan bumi.
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa pergantian siang dan malam serta penciptaan alam semesta merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir.
“Rasulullah menangis karena memikirkan umatnya, apakah mereka memahami bahwa semua ini adalah tanda-tanda tauhid,” ungkapnya.
Tauhid dalam Diri Manusia
Selain alam, tanda-tanda tauhid juga terdapat dalam diri manusia. Ia mencontohkan detak jantung manusia yang dalam kondisi normal berada pada kisaran tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa tubuh manusia juga tunduk pada hukum Allah yang telah ditetapkan.
“Di dalam diri kita ada ayat-ayat Allah. Persoalannya, apakah kita mau berpikir dan menyadarinya,” ujarnya.
Kiai Nadjih juga menyinggung fenomena angin, yang dalam Al-Qur’an disebut memiliki fungsi, salah satunya membantu proses penyerbukan tumbuhan.
Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah lebih dahulu menjelaskan fenomena yang kemudian dipelajari dalam ilmu pengetahuan modern.
Karena itu, ia menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum agar tidak terjadi dikotomi atau pemisahan yang berujung pada pola pikir sekuler.
“Seharusnya Al-Qur’an diajarkan lebih dahulu, baru kemudian ilmu-ilmu lainnya, agar semua dipahami dalam kerangka tauhid,” jelasnya.
Tantangan Tauhid dalam Amal Ibadah
Pada bagian akhir, KH Nadjih Ihsan mengingatkan bahwa tidak semua ibadah otomatis mencerminkan tauhid. Ia mencontohkan praktik riya, yaitu melakukan ibadah karena ingin dilihat orang lain.
“Orang salat belum tentu mentauhidkan Allah jika di dalamnya ada riya. Ini yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah,” tegasnya.
Karena itu, dia menekankan pentingnya ilmu sebagai fondasi utama dalam bertauhid. Umat Islam, menurutnya, wajib memahami tiga hal utama: mengenal Allah (ma’rifatullah), mengenal Nabi, dan memahami agama Islam berdasarkan dalil.
“Tauhid tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus dipelajari dan diamalkan dengan benar dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments