
PWMU.CO – Sebanyak 12 siswa SMP Muhammadiyah 2 (Santri Aisyiyah Quranic Boarding Ponorogo) ikut serta dalam asesmen Capaian Pembelajaran Tahfidz yang bertempat di Pendopo Kabupaten Ponorogo pada Rabu (21/05/2025).
Acara ini diikuti oleh 4.217 peserta yang berasal dari SMP Negeri dan Swasta se-Kabupaten Ponorogo.
Kegiatan ini menjadi momen membanggakan karena salah satu siswa, Farzana Auni Khoirunnisa dari kelas 9 menjadi bagian dari 20 wisudawan terbaik dengan capaian hafalan 10 juz.
Kegiatan diawali dengan murajaah bersama Juz 30, kemudian dilanjutkan dengan sesi uji publik, yaitu menguji hafalan para peserta melalui sambung ayat. Dalam sesi ini, peserta diminta untuk melanjutkan ayat yang dibacakan. Peserta yang berhasil menjawab dengan benar akan mendapatkan amplop sebagai bentuk apresiasi.
Pada uji publik tersebut, salah satu siswi SMP Muhammadiyah 2, Vania Keysa Putri Aqila, berhasil melanjutkan ayat yang dibacakan dengan baik.
Kepala Dinas Pendidikan, Nurhadi Hanuri menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah implementasi dari Peraturan Bupati Ponorogo Nomor 37 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pendidikan berbasis keagamaan.
“Kami berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik agar dapat melahirkan generasi yang unggul. Salah satu tugas kami adalah mencetak anak-anak yang cerdas, terampil, dan berakhlakkul karimah,” ujarnya.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan prosesi sungkeman oleh 20 wisudawan terbaik kepada orang tua mereka. Momen haru ini menjadi wujud ungkapan rasa hormat dan terima kasih atas doa, pengorbanan, serta kasih sayang yang tiada batas. Prosesi sungkeman ditutup dengan penyematan mahkota kepada orang tua sebagai simbol penghargaan dan rasa terima kasih dari para wisudawan.
Sebanyak 20 wisudawan terbaik dikukuhkan secara langsung oleh Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, dengan penyematan gordon, penyerahan sertifikat, dan pemberian reward.
Dalam sambutannya, Sugiri Sancoko menyampaikan harapannya agar acara yang luar biasa ini dapat menggugah hati semua pihak, serta menjadi langkah awal menuju lahirnya peradaban baru yakni Kota Santri yang tidak sekadar menjadi slogan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Al-Quran tidak hanya dihafal sebagai bacaan, tetapi lebih dari itu, al-Quran adalah standar operasional kehidupan yang menjadi pedoman dalam menjalani keseharian. Cara paling gagah dan berani untuk menghadapi tantangan dunia ke depan adalah dengan menghafalnya, memahami isinya, dan mengamalkannya. Sebab itulah yang menjadi jaminan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat,” ucapnya.
Sugiri Sancoko juga menyampaikan harapan dan mimpi besarnya, bahwa ke depan tidak hanya 4.217, tetapi seluruh generasi muda Ponorogo dapat menjadi penghafal al-Quran.
“Dengan begitu, Ponorogo akan menjadi pesantren terbesar di dunia, tak ada sejengkal tanah pun yang tidak digunakan untuk menghafal al-Quran,” pungkasnya.
Setelah memberikan sambutan, Sugiri Sancoko juga menyapa seluruh peserta Asesmen Capaian Pembelajaran Tahfidz al-Quran. Para peserta pun menyambut kehadiran Bupati Ponorogo dengan penuh antusias, termasuk para siswa SMP Muhammadiyah 2 Ponorogo. Selain itu, mereka juga berkesempatan untuk berfoto bersama dengan Bupati sebagai momen kebanggaan dan kenangan berharga.
Penulis Enjllina Vitasondang Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments