Seminar Parenting KB-TK Aisyiyah 20 Surabaya menghadirkan Heru Tjahyono, Konseptor Sekolah Kreatif Indonesia, sebagai pemateri dengan tema Menjadi Orang Tua Cerdas dalam Menghadapi Dampak Perubahan Teknologi. Kegiatan berlangsung pada Sabtu (6/2/2025) di Hall lantai tiga Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Baratajaya Surabaya dan diikuti seluruh wali murid KB-TK Aisyiyah 20 Surabaya.
Pada awal pemaparan materi, Heru—sapaan akrabnya—menyampaikan adanya sejumlah tantangan nyata yang dihadapi orang tua dan sekolah saat ini. “Mulai dari siswa kecanduan gawai, siswa kehilangan arah hidup, anak semakin emosional dan mudah stres, hingga orang tua sibuk dan pasrah ke sekolah,” katanya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, lanjutnya, diperlukan strategi baru. “Bimbingan Konseling (BK) bukan hanya soal teknik, tapi soal hati dan peradaban,” ujarnya.
Heru menjelaskan, salah satu solusi untuk menghadapi dampak teknologi pada anak adalah mengajak mereka melakukan banyak kegiatan.
“Anak usia dini saat ini termasuk dalam Gen Alpha. Mereka tumbuh dengan teknologi di ujung jari mereka, terbiasa dengan layar sentuh, asisten virtual, dan berbagai aplikasi interaktif sejak usia dini,” ungkapnya.
Menurut dia, gaya belajar Gen Alpha kebanyakan kinestetik. “Yakni lebih suka belajar melalui pengalaman langsung dan praktik. Mereka cenderung aktif bergerak saat belajar dan lebih cepat memahami materi melalui aktivitas fisik,” terangnya.
Heru menambahkan, orang tua saat ini harus bersedia bersusah payah dalam mendampingi anak. “Berapa menit waktu khusus yang kita luangkan untuk anak?” tanyanya.
Ia menjelaskan bahwa anak membutuhkan kehadiran orang tua secara utuh.
“Minta kehadiran kita. Bukan hanya kehadiran fisik, namun kehadiran emosional juga,” ujarnya.
Heru mengajak orang tua meningkatkan kedekatan dengan anak. “Kedekatan fisik, finansial, dan emosional adalah tiga pilar utama dalam membangun hubungan yang kuat, sehat, dan baik dalam keluarga,” katanya.
Ia mendorong orang tua membuat jadwal khusus untuk anak meskipun terbatas. “Kalau bisa begitu insyaallah luar biasa. Yang penting konsisten dan istiqamah,” ujarnya.
Menurutnya, membangun hubungan baik dengan anak juga memerlukan kerja sama antara rumah dan sekolah. “Anak-anak diajak belajar berpendapat,” tuturnya.
Heru menambahkan bahwa kedekatan dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana. “Orang tua sering mengajak pergi ke suatu tempat, itu yang akan diingat anak-anak sampai dewasa. Orang tua menabung memori pada anak,” ucapnya.
Di akhir sesi, Heru mengajak orang tua membuat status WhatsApp atau story Instagram yang berisi doa untuk anak-anak mereka. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments