
Oleh: Izza El-Dien Purnama Winardi – Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih UMM, izzaeldien13@gmail.com.
PWMU.CO – Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji atau umrah datang ke Tanah Suci sebagai dhuyufurrahman tamu Allah. Namun, menjadi tamu Allah bukan sekadar perkara pergi ke Ka’bah, melainkan bagaimana pulang dari Baitullah dengan membawa pesan perubahan.
Dari lambaian Ka’bah yang sakral hingga hiruk-pikuk masyarakat yang kompleks, ada tugas dakwah yang lebih besar menanti. Ibadah ini adalah panggilan spiritual sekaligus momentum sosial, dan Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid mengajak kita membacanya secara tajdid, mendalam, dan berkemajuan.
Antara tuntunan syariat dan semangat dakwah dalam Islam, haji adalah kewajiban agung bagi yang mampu. Allah ﷻ berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ
“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana“. (QS. Āli ‘Imrān: 97)
Rasulullah ﷺ bersabda:
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ… وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Islam dibangun atas lima perkara… di antaranya haji ke Baitullah“. (HR. Bukhari dan Muslim)
Majelis Tarjih Muhammadiyah menegaskan bahwa haji hukumnya fardhu ‘ain sekali seumur hidup, dan harus dilaksanakan sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku manasik kalian“. (HR. Muslim)
Sedangkan umrah, menurut Tarjih, merupakan sunnah muakkadah. Meskipun ada ulama yang memandangnya wajib, Muhammadiyah menekankan pemahaman yang rasional dan kontekstual terhadap ayat:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah“. (QS. Al-Baqarah: 196)
Ayat ini tidak menunjukkan kewajiban umrah secara mutlak, melainkan dorongan untuk menyempurnakan bagi yang telah memulai ibadah tersebut.
Ibadah haji dan umrah jalan tazkiyah dan dakwah dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, ibadah haji dan umrah tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi harus menjadi jalan tazkiyah al-nafs penyucian jiwa dan pembinaan akhlak. Haji yang benar bukan hanya bebas dari kerusakan fisik, tetapi juga dari kerusakan moral. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barangsiapa berhaji dan tidak berkata keji serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan ibunya“. (HR. Bukhari dan Muslim)
Muhammadiyah memandang pentingnya manasik berbasis tauhid dan tarjih: menjauh dari tahayul, bid‘ah, dan khurafat, serta menanamkan kesadaran bahwa ibadah ini adalah taqarrub ilallah dan persiapan menjadi manusia yang memberi manfaat setelah kembali ke masyarakat.
Ka’bah sebagai titik awal perubahan social bukan hanya kiblat shalat, tetapi juga simbol kesatuan dan kesetaraan. Di Tanah Suci, jutaan Muslim dari berbagai bangsa dan latar belakang larut dalam satu misi spiritual labbayk allahumma labbayk.
Di sanalah ruh ukhuwah Islamiyah tumbuh. Namun, ruh itu tidak boleh tertinggal di Arafah. Jamaah haji dan umrah mesti membawa pulang nilai-nilai Ka’bah ke rumah, ke tempat kerja, ke masyarakat menjadi agen dakwah dan pelopor peradaban berkemajuan.
Inilah makna mendalam dari dakwah purna haji yang dihidupkan oleh Muhammadiyah: menjadikan haji sebagai energi perubahan sosial, bukan hanya ibadah personal.
Menjadi haji yang mencerahkan haji yang mabrur adalah haji yang memberi dampak. Dalam kerangka dakwah Muhammadiyah, nilai ibadah mesti berubah menjadi amal sosial, penguatan pendidikan, keteladanan akhlak, dan pembangunan masyarakat yang tercerahkan.
Menjadi tamu Allah bukan akhir perjalanan. Justru, itu awal dari misi besar membawa pancaran nilai-nilai ilahiyah ke bumi. Dari Ka’bah, kita belajar tunduk kepada Allah, dan dari masyarakat, kita belajar bahwa ibadah sejati adalah yang berdampak.
Sebagai penutup, bahwa Muhammadiyah melalui Manhaj Tarjih mengajak umat untuk menjadikan haji dan umrah bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan titik balik peradaban.
Kita bukan hanya pulang dengan oleh-oleh dari tanah suci, tapi membawa pulang kesadaran spiritual dan semangat pembaruan untuk menebar maslahat. sebab, menjadi tamu allah adalah kemuliaan, tetapi menjadi pelayan umat setelahnya adalah keharusan, dari ka’bah menuju masyarakat berkemajuan itulah haji yang sejati.(*)
Editor Zahrah Khairani Karim





0 Tanggapan
Empty Comments