Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjaga Ibadah Pasca Ramadan dengan Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah

Iklan Landscape Smamda
Menjaga Ibadah Pasca Ramadan dengan Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terus mengalirkan nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu kepada kita. Dia ntaranya adalah nikmat sehat, nikmat iman Islam dan takwa sehingga kita masih bisa menikmati manisnya Islam yang akan membawa kita selamat dunia akhirat.

Tiada kata lain yang patut diucapkan kecuali kalimat Alhamdulillahirabbil Alaamiin. Dengan terus bersyukur, insya Allah karunia nikmat yang diberikan akan terus ditambah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Allah berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmatKu, sesungguhnya adzabKu benar-benar sangat keras”. (QS. Surat Ibrahim: 7)

Syukur sebagai Wujud Ketakwaan

Syukur yang kita ungkapkan ini juga harus senantiasa direalisasikan dalam wujud nyata melalui penguatan ketawaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi laranganNya.

Dengan syukur dan takwa ini, maka kita akan senantiasa menjadi pribadi yang senantiasa diberi perlindungan dan petunjuk dalam mengarungi samudera kehidupan di dunia dan bisa terus menjalankan misi utama hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat ayat 56: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Ramadan sebagai Momentum Peningkatan Ibadah

Dalam putaran waktu dan keseharian umat Islam, bulan Ramadan menjadi momentum intensifnya kegiatan ibadah yang dilakukan baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Frekuensi ibadah seperti puasa, salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan ibadah-ibadah lainnya menjadi warna dominan di bulan mulia tersebut.

Semangat ini seiring dengan kemuliaan Ramadan yang di dalamnya banyak memiliki keutamaan dan keberkahan. Ramadan menjadi bulan ‘penggemblengan’ jasmani dan rohani umat Islam untuk menjadikannya pribadi yang senantiasa dekat dengan sang khalik, Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Muhasabah Pasca Ramadan

Namun pertanyaannya, bagaimana pasca Ramadan? Apakah kita mampu mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah kita? Apakah pasca Ramadan kita kembali seperti sedia kala dengan semangat ibadah seadanya? Apakah takwa, sebagai buah dari perintah puasa Ramadan, sudah kita rasakan dalam diri kita ?

Tentu pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri sebagai bahan muhasabah atau introspeksi diri agar spirit ibadah kita tidak mengendur pasca Ramadan.

Sehingga marilah kita semua untuk melihat kembali lintasan perjalanan ibadah kita selama Ramadhan untuk menjadi spirit dan motivasi agar pasca Ramadan, ibadah kita bisa ditingkatkan, atau minimal sama dengan Ramadan.

Melihat masa lalu itu penting sebagai modal untuk menghadapi masa depan sebagaimana

Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok akhirat; dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr :18) .

Makna Syawal sebagai Peningkatan Ibadah

Semangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sebenarnya sudah tergambar dari makna kata Syawal yang merupakan bulan setelah Ramadan sekaligus waktu perayaan Hari Idulfitri.

Dari segi bahasa, kata “Syawal” berasal dari kata “Syala” yang memiliki arti “irtafaá” yakni meningkatkan. Makna ini seharusnya menjadi inspirasi kita untuk tetap mempertahankan grafik kualitas dan kuantitas ibadah pasca Ramadhan.

Tiga Kunci Menjaga Ibadah Pasca Ramadan

Dalam mempertahankannya perlu upaya serius di antaranya adalah dengan melakukan
“3 M” yakni :

1. Muhasabah,
2. Mujahadah dan ,
3. Muraqabah.

Muhasabah: Introspeksi Diri

Adapun penjelasan dan arti dari ketiga hal tersebut adalah :

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

1. Muhasabah. Adalah melakukan introspeksi diri terhadap proses perjalanan ibadah di bulan Ramadan. Muhasabah ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri tentang:

Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadan? Apakah kita sudah memiliki niat yang benar dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan? Apa yang menjadikan kita semangat beribadah di bulan Ramadan ? Pernahkan kita melanggar kewajiban kewajiban di bulan Ramadan?

Dan tentunya pertanyaan – pertanyaan introspektif lainnya untuk mengevaluasi ibadah kita selama ini.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan memotivasi kita untuk semangat dan memperbaiki diri sehingga akan berdampak kepada kualitas dan kuantitas ibadah pasca Ramadan.

Terkait pentingnya Muhasabah ini Rasulullah bersabda: “Orang yang cerdas sukses adalah orang yang menghisab mengevaluasi dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)

Mujahadah: Bersungguh-sungguh dalam Ibadah

2. Mujahadah Yakni bersungguh sungguh dalam berjuang untuk mempertahankan tren positif ibadah bulan Ramadhan.

Di bulan Syawal ini, kita harus tancapkan tekad untuk terus melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif selama Ramadan. Perjuangan ini tentu akan banyak menghadapi tantangan, baik dari lingkungan sekitar kita maupun dari diri kita sendiri.

Oleh karenanya, kita harus memiliki tekad kuat dan benar agar hambatan dan tantangan yang bisa mengendurkan semangat ibadah kita ini bisa kita kalahkan.

Allah telah memberikan motivasi pada orang yang bersungguh sungguh dalam berjuang sebagaimana firmanNya dalam Al-Ankabut ayat 69 :

“Dan orang-orang yang berjihad bersungguh-sungguh untuk mencari keridhoan Kami,
Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut : 69)

Muraqabah: Merasa Diawasi oleh Allah

3. Muraqabah Yakni mendekatkan diri kepada Allah. Dengan muraqabah ini, akan muncul kesadaran diri selalu diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sekaligus memunculkan kewaspadaan untuk tidak melanggar perintah Allah sekaligus bersemangat untuk menjalankan segala perintah-Nya.

Sikap-sikap ini merupakan nilai-nilai yang ada dalam diri orang-orang yang bertaqwa.
Mereka adalah orang yakin dan percaya kepada yang ghoib dan tak tampak oleh mata.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat- Nya, sebab meski engkau tidak melihat-Nya, Allah melihatmu.” (HR Bukhari)

Penutup: Istiqamah Setelah Ramadan

Nilai-nilai ketaqwaan dengan senantiasa melakukan muraqabah ini seharusnya memang sudah tertancap dalam hati kita karena muara dari ibadah puasa di bulan Ramadhan sendiri adalah ketaqwaan.

Semoga kita bisa senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah kita pasca Ramadhan dengan Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah.

Insya Allah kita diberi kekuatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam mengemban misi ibadah ini . Aamiin. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡