Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan Berlalu, Jangan Biarkan Ibadah Ikut Layu

Iklan Landscape Smamda
Ramadan Berlalu, Jangan Biarkan Ibadah Ikut Layu
Foto: rawpixel.com
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Usai bulan suci Ramadan, tantangan terbesar bagi umat Islam bukan lagi menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga konsistensi ibadah dan amal kebaikan. Momentum spiritual yang telah dibangun selama sebulan penuh seharusnya tidak berhenti begitu saja, tetapi justru menjadi titik awal untuk memperkuat istikamah dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak amal kebaikan yang dilakukan pada bulan Ramadan yang meningkat dan berbeda dari sebelum datangnya bulan Ramadan. Amalan tersebut seperti membaca Al-Qur’an, bangun di malam hari untuk mendirikan salat tahajud, beriktikaf, bermuhasabah diri, melakukan banyak kegiatan sosial, dan sebagainya.

Setelah berakhirnya bulan Ramadan 1447 H, seharusnya ibadah-ibadah yang kita lakukan bisa bertahan, berjalan terus menerus. Tidak hanya sesaat apalagi menurun.

Ketika sudah memasuki bulan Syawal 1447 H, cenderung amalan yang menjadi kebiasaan kita mulai menurun, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Yang dulunya ketika bulan Ramadan amalan yang dilakukan mencapai pada tingkat puncak. Namun ketika berakhirnya Ramadan, perlahan kebiasaan itu menurun layaknya hari-hari biasa sebelum datangnya Ramadan.

Walaupun negeri ini masih dilanda masalah setelah, jangan sampai semangat di bulan puasa Ramadan yang lalu menurun.

Muncullah anggapan tentang seseorang yang “mendadak alim” ketika datangnya bulan Ramadan. Apabila niatnya baik dalam menjalankan ibadah dan senantiasa mengikuti ajaran Rasul, ini tidak salah.

Namun, berbeda halnya jika diniatkan hanya sekedar gaya, pamer dan kepentingan dunia lainnya, maka tidak diperbolehkan.

Imam Nawawi menyebutnya Ramadhaniyyun, yakni mereka yang hanya beribadah di bulan Ramadan dan menemukan Tuhannya di bulan Ramadan.

Maka, alangkah meruginya orang- orang seperti itu.

Puasa menjadikan orang-orang bertaqwa, senantiasa menjalankan perintah Allah, dan menjauhi perbuatan buruk.

Ciri lain dari orang bertakwa ialah selalu ada rasa khawatir dalam dirinya, di dalam hati ditanamkan rasa khawatir apakah puasa yang dilakukan diterima atau tidak.

Dengan kekhawatiran itulah yang menjadikan kita selalu ingat kepada Allah dan senantiasa berhati-hati dalam berbuat.

Ingat kepada Allah itu bagian dari ciri orang bertawa. Namun, untuk orang yang berpuasa hingga sampai pada derajat taqwa tidaklah mudah, harus melalui proses, ada jalan yang harus ditempuh.

Seseorang yang berpuasa perlu dilandasi dengan keimanan, rida akan kewajiban puasa.
Orang itu senantiasa mengharap pahala dan ganjaran puasa. Ibarat seseorang yang sedang menanam.

Jika ia terus merawat, memupuk tanamannya tersebut dengan baik, maka dia akan memetik hasilnya. Itulah hasil dari takwa.

Dalam hadisnya, Rasulullah bersabda,: Bahwa amalan yang dicintai Allah ialah yang istikamah.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari Muslim)

Hendaknya kita sebagai seorang Muslim untuk selalu beristiamah dalam beribadah, baik ketika bulan Ramadan maupun bulan-bulan setelahnya.

“Jika Rasulullah mengerjakan amal kebaikan, maka beliau/Rasul akan merutinkannya.”
(HR. Muslim)

Maka dari itu, ada makna tersirat dengan adanya puasa-puasa sunnah sebelum dan sesudah bulan Ramadhan, seperti di bulan Rajab, Sya’ban, dan juga Syawal atau bulan-bulan lainnya. Di antaranya dapat menjadikan amalan amalan bulan Ramadhan terutama puasa senantiasa membekas pada bulan-bulan berikutnya.

Salah satu contoh tentang disyariatkannya puasa 6 hari pada bulan Syawal. “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian mengikutkannya enam hari di bulan syawal, maka dia akan mendapat pahala seperti setahun penuh.”
(HR. Muslim)

Diharapkan, berbagai amal kebaikan yang telah umat Islam perbuat selama bulan Ramadhan yang telah lalu menjadi karakter kita sebagai seorang muslim yang taat. Sehingga akan terus berlanjut meskipun Ramadhan telah usai. Juga perilaku di bulan Ramadhan seharusnya menjadikan kita pribadi yang berakhlak baik.

Dalam penjelasan mengenai akhlak, yaitu akhlak Rasul. Sebagaimana dijelaskan Aisyah ra. Bahwa akhlak Rasul adalah Qur’an.

Maka, di bulan Ramadan tersebut merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk terus meningkatkan akhlak terpuji.

Tidak hanya amalan yang dipertahankan, tapi segala sesuatu yang berkaitan dengan hawa nafsu dan penyakit hati yang terkadang kita lakukan. Seperti sombong, iri, dengki, hasad dan lain sebagainya.

Ketika di bulan Ramadan kita berhasil mengendalikan dan mempertahankan itu semua.
Tujuannya ialah agar kita bisa terus mengontrol jiwa dari hawa nafsu dan bisa mengendalikan diri di bulan-bulan berikutnya.

Puasa di bulan Ramadan merupakan sebuah arena pematangan emosi, intelektual, dan juga spiritual.

Salah satu keberhasilan muslim pada bulan Ramadhan yaitu diterimanya amal kita.
Tanda amalan kita diterima bisa dilihat ketika dimudahkannya untuk melakukan amal kebaikan selanjutnya.

Itu karena Allah telah memberinya taufiq sehingga ia bisa istikamah melakukan ibadah-ibadah lain.

Di antara tanda diterimanya amal kebaikan seorang muslim di bulan Ramadan adalah menjadi lebih baik dari sebelum Ramadan. Karena kebaikan akan mengajak kepada kebaikan selanjutnya dan amal sholih akan mengajak pada amal sholih lainnya.

Dengan datangnya bulan Syawal, umat Islam diharapkan mampu untuk menjalani hari-hari setelah bulan Ramadhan dengan hati yang suci, bersih, setelah saling bermaaf-maafan. Agar lebih meningkatkan lagi ibadah, amal kebaikan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 22/03/2026 06:24
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡