Waktu terus berlalu, tanpa terasa hari demi hari terlewati. Pagi berganti siang, siang berganti malam, dan malam kembali menjemput pagi.
Dalam putaran yang terus berulang itu, sering kali kita tersadar—atau justru terlambat menyadari—bahwa ada begitu banyak waktu yang telah terbuang sia-sia. Penyesalan pun perlahan hadir, mengetuk hati yang lalai.
Kita sering membuat rencana-rencana baik. Berharap setiap malam mampu membaca minimal lima lembar Al-Qur’an.
Namun kenyataannya, waktu justru habis untuk nongkrong, bercengkerama tanpa arah, atau sekadar berjalan-jalan yang tak membawa manfaat.
Niat baik itu kalah oleh kebiasaan yang tampak ringan, tetapi perlahan menggerogoti waktu dan iman.
Begitu pula dengan niat untuk bangun di sepertiga malam. Dalam hati terbersit keinginan kuat untuk melaksanakan tahajud dan witir, walau hanya tiga rakaat.
Kita membayangkan suasana hening, doa yang khusyuk, dan kedekatan dengan Allah yang begitu dalam. Namun apa daya, tubuh yang lelah karena begadang membuat mata sulit terbuka. Alarm dimatikan, dan kesempatan emas itu kembali terlewat.
Saat fajar menyingsing, kita pun kembali kalah. Salat sunah dua rakaat sebelum subuh yang begitu utama belum sempat dikerjakan. Salat subuh berjamaah pun tertinggal. Tiba-tiba pagi telah terang, aktivitas dunia sudah menanti, dan kita memulai hari dalam keadaan kehilangan keberkahan awal waktu.
Zikir pagi yang seharusnya menjadi benteng diri juga sering terabaikan. Kita terlalu sibuk dengan ponsel, pekerjaan, atau rutinitas yang tak ada habisnya. Tanpa terasa, matahari sudah meninggi, dan waktu terbaik untuk mengingat Allah telah berlalu begitu saja.
Kita pun merencanakan salat duha. “Nanti jam 9 saya salat,” begitu tekad dalam hati. Namun pekerjaan datang silih berganti, notifikasi tak henti berbunyi, dan fokus pun terpecah. Tanpa disadari, adzan zuhur telah berkumandang, sementara duha hanya tinggal rencana.
Dalam urusan dunia pun demikian. Kita berniat bersedekah hari ini, ingin membayar utang, ingin membantu sesama.
Namun kebiasaan menunda membuat semua itu tak pernah terwujud. Uang yang seharusnya menjadi jalan kebaikan justru habis untuk kesenangan sesaat—makan berlebihan, belanja tanpa kebutuhan, atau hiburan yang melalaikan.
Dan yang paling mengkhawatirkan, kita sering berkata: “Nanti saja saya bertaubat, nanti kalau sudah tua, nanti kalau sudah mapan.”
Seolah-olah kita memiliki jaminan umur panjang. Padahal, siapa yang tahu kapan ajal akan datang? Bisa jadi, kematian datang di saat kita belum sempat memperbaiki diri, belum sempat menunaikan tobat, dan masih bergelimang kelalaian.
Sungguh ironi jika semua itu benar-benar terjadi.
Bayangkan seseorang yang setiap hari berkata “besok saya berubah,” namun tidak pernah memulainya. Ia seperti orang yang terus menunda keberangkatan, sementara kereta kehidupan sudah hampir tiba di stasiun terakhir. Ketika akhirnya ia ingin berlari mengejar, pintu telah tertutup rapat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat banyak ilustrasi nyata. Seorang mahasiswa yang menunda belajar hingga akhirnya gagal ujian.
Seorang pekerja yang menunda tugas hingga kehilangan kesempatan promosi. Seorang anak yang menunda berbakti hingga orang tuanya telah tiada. Semua berawal dari satu hal yang sama: menunda.
Begitu pula dalam urusan iman.
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah pernah mengingatkan bahwa puncak harapan orang-orang yang telah meninggal adalah kembali ke dunia walau sesaat, hanya untuk memperbaiki apa yang telah terlewat—bertobat dan memperbanyak amal shalih. Namun kita yang masih hidup justru sering menyia-nyiakan kesempatan itu.
Padahal, iman itu tidak selalu stabil. Ia bisa naik dan turun, bahkan bisa “usang” jika tidak dirawat. Seperti pakaian yang lama tidak dipakai, lama-lama akan kusam dan rusak.
Oleh karena itu, Rasulullah saw mengajarkan cara sederhana namun sangat dalam maknanya: memperbaharui iman dengan memperbanyak mengucapkan laa ilaaha illallaah.
Kalimat ini bukan sekadar ucapan, tetapi pengingat akan tujuan hidup. Ia menegaskan bahwa tidak ada yang layak disembah selain Allah. Ketika kalimat ini sering diucapkan dengan hati yang sadar, ia akan menghidupkan kembali ruh keimanan yang mulai redup.
Orang yang selalu mengingat Allah ibarat orang yang hidup. Sedangkan yang lalai dari dzikir, seperti orang yang mati—meskipun jasadnya masih bergerak.
Maka sebelum semuanya terlambat, sebelum penyesalan menjadi sesuatu yang abadi, mari kita mulai dari langkah kecil. Tidak perlu langsung sempurna, tetapi harus dimulai.
Mulailah dengan menjaga zikir, memperbanyak membaca laa ilaaha illallaah di sela-sela aktivitas. Sisihkan waktu walau sedikit untuk Al-Qur’an. Usahakan bangun walau hanya beberapa menit di sepertiga malam. Jangan tunda sedekah, jangan tunda taubat.
Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Yaa Allah, ampunilah kami yang sering lalai. Jangan Engkau jadikan kematian sebagai awal penyesalan kami. Berikan kami kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal saleh.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta memberi kekuatan untuk terus menjaga iman hingga akhir hayat.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments