Kajian Ahad Pagi K.H. Ahmad Dahlan PDM Kota Batu edisi khusus kembali digelar dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Ketua MKPU PWM Jawa Timur sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Kajian yang berlangsung di Masjid At-Taqwa Kota Batu, Ahad (17/5/2026), ini mengangkat tema “Bersedekah dan Kesehatan Mental”.
Kegiatan dimulai pukul 06.00 WIB dan dihadiri jamaah dari berbagai kalangan yang antusias menyimak pemaparan mengenai hubungan sedekah, kebahagiaan, dan kesehatan mental manusia dari sudut pandang psikologi, sosial, hingga neurosains.
Dalam pemaparannya, Prof. Mundakir menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki dorongan untuk bertindak dan memberi kepada orang lain.
Ia mengutip teori motivasi manusia yang menyebutkan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan utama, yakni kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement), kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosial (need for affiliation), dan kebutuhan untuk diakui sebagai pribadi yang berhasil (need for power).
“Manusia itu memiliki kebutuhan untuk dihargai, diterima, dan merasa bermakna. Ketika kebutuhan itu terpenuhi dengan cara yang sehat, maka seseorang akan lebih bahagia,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan teori self determination yang menyatakan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis manusia dipengaruhi oleh tiga hal penting, yaitu adanya kebebasan atau otonomi tanpa tekanan, memiliki kompetensi atau kemampuan, serta mempunyai hubungan sosial yang baik dengan orang lain.
Menurutnya, sedekah menjadi salah satu bentuk nyata yang mampu memperkuat hubungan sosial sekaligus menghadirkan ketenangan batin.
“Orang yang suka memberi biasanya memiliki relasi sosial yang lebih baik dan hatinya lebih damai,” tambahnya.
Dalam kajian tersebut, Prof. Mundakir turut mengutip pemikiran Viktor Frankl melalui teori logotherapy.
Ia menjelaskan bahwa manusia sejatinya akan menemukan kebahagiaan ketika hidupnya memiliki makna dan manfaat bagi sesama.
“Orang tidak bahagia hanya karena harta atau jabatan. Orang akan benar-benar bahagia ketika hidupnya bermakna dan bermanfaat bagi orang lain,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengulas buku The Gift karya Marcel Mauss yang menjelaskan bahwa kehidupan sosial manusia dibangun atas budaya memberi, menerima, dan membalas kebaikan.
Dari sinilah hubungan sosial dan rasa kemanusiaan tumbuh di tengah masyarakat.
Kajian semakin menarik ketika Prof. Mundakir memaparkan penjelasan ilmiah dari sudut pandang neurosains.
Ia menyebutkan bahwa ketika seseorang bersedekah dengan sadar dan ikhlas, otak akan mengaktifkan sistem penghargaan yang memunculkan hormon-hormon kebahagiaan seperti dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin.
“Hormon-hormon itu membuat manusia lebih rileks, lebih tenang, mengurangi kecemasan, dan memunculkan rasa kasih sayang,” terangnya.
Sebaliknya, hormon kortisol yang menjadi penyebab stres, marah, sedih, dan cemas akan menurun ketika seseorang terbiasa melakukan kebaikan dengan tulus.
Melalui kajian tersebut, jamaah diajak memahami bahwa sedekah bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi kesehatan mental dan fisik.
Memberi dengan ikhlas ternyata mampu menghadirkan ketenangan jiwa, mempererat hubungan sosial, sekaligus meningkatkan kualitas hidup seseorang.





0 Tanggapan
Empty Comments