Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hidup Seperti Secangkir Kopi

Iklan Landscape Smamda
Hidup Seperti Secangkir Kopi
Oleh : Prof Triyo Supriyatno Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Malang

Di banyak sudut kehidupan, secangkir kopi bukan sekadar minuman. Ia hadir sebagai teman perjalanan manusia.

Di meja guru yang menyiapkan pelajaran sebelum subuh, di tangan pekerja yang pulang larut malam, di ruang diskusi mahasiswa yang mengejar cita-cita, hingga di teras rumah sederhana tempat seorang ayah memikirkan masa depan keluarganya.

Kopi menemani manusia dalam sunyi, lelah, harapan, bahkan doa-doa yang belum selesai.

Ada orang yang menikmati kopi di tengah keberhasilan.

Ada pula yang menyeruputnya di antara himpitan masalah hidup. Namun, di situlah kopi seakan mengajarkan satu hal penting: hidup tidak selalu manis, tetapi tetap bisa dinikmati dengan syukur.

Syukur adalah salah satu nilai terbesar dalam ajaran Islam. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang bertambahnya materi atau kemewahan hidup.

Tambahan nikmat dapat berupa ketenangan hati, kekuatan menghadapi ujian, kesehatan, keluarga yang baik, ilmu yang bermanfaat, hingga kemampuan menikmati hidup dengan hati yang lapang.

Di era modern saat ini, manusia sering diukur dari pencapaian.

Media sosial dipenuhi keberhasilan, gelar, jabatan, perjalanan, dan kemewahan. Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya tertinggal.

Orang mudah membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain, padahal setiap manusia sedang memikul ujian yang berbeda.

Ada yang diuji dengan kekurangan, ada yang diuji dengan kelimpahan.

Ada yang diuji dengan kegagalan, ada pula yang diuji dengan kesuksesan.

Karena itu, syukur bukan hanya penting bagi orang yang hidup dalam keterbatasan, tetapi juga bagi mereka yang berhasil secara duniawi.

Tidak sedikit manusia yang tampak sukses, namun kehilangan ketenangan batin.

Mereka memiliki banyak hal, tetapi sulit menikmati hidup.

Mereka mencapai prestasi tinggi, tetapi lupa kepada Allah yang memberi kemampuan.

Di sinilah kopi menjadi simbol refleksi kehidupan.

Kopi yang nikmat lahir dari proses yang panjang.

Biji kopi harus dipetik, dijemur, disangrai, digiling, lalu diseduh.

Bahkan, rasa pahitnya sering menjadi bagian yang dicari penikmat kopi.

Jika terlalu manis, kopi justru kehilangan karakternya.

Begitulah kehidupan manusia. Tidak semua perjalanan terasa manis.

Ada fase pahit yang harus dilalui agar seseorang menjadi matang. Atau kegagalan yang mendidik kesabaran.

Ada air mata yang melahirkan kedewasaan. Ada penolakan yang justru mengantarkan pada jalan terbaik.

Banyak tokoh besar lahir dari kesulitan hidup. Para nabi pun menjalani ujian berat.

Nabi Yusuf ‘alaihis salam pernah dipenjara, Nabi Ayyub ‘alaihis salam diuji sakit bertahun-tahun.

Nabi Muhammad saw. mengalami penolakan, hinaan, bahkan pemboikotan. Namun, mereka tidak kehilangan syukur kepada Allah.

Rasulullah saw. memberi teladan luar biasa tentang syukur.

Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu baik baginya.”

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak menggantungkan kebahagiaan hanya pada keadaan.

Ketika berhasil, ia bersyukur. Saat gagal, ia bersabar. Bahkan ketika lapang, ia berbagi. Ketika sempit, ia tetap berharap kepada Allah.

Maka, syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah” di lisan, melainkan cara memandang kehidupan.

Orang yang bersyukur mampu melihat cahaya di tengah gelapnya masalah.

Ia tidak mudah putus asa karena yakin Allah masih memberinya banyak nikmat.

Napas yang masih berjalan adalah nikmat. Keluarga yang masih menemani adalah nikmat.

Kesempatan bertaubat adalah nikmat. Bahkan, kemampuan bertahan dalam ujian juga merupakan nikmat Allah.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebaliknya, orang yang jauh dari syukur akan selalu merasa kurang.

Hatinya mudah gelisah. Ia sulit menikmati apa yang sudah dimiliki karena sibuk mengejar apa yang belum didapatkan.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Orang ingin sukses secara instan.

Akibatnya, banyak yang kehilangan waktu untuk berhenti sejenak dan merenung.

Padahal, terkadang manusia membutuhkan jeda agar mampu melihat betapa besar karunia Allah dalam hidupnya.

Secangkir kopi sering menghadirkan jeda itu.

Ketika seseorang duduk sendiri sambil menikmati kopi hangat, ada ruang untuk berbicara dengan dirinya sendiri.

Ada kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup. Ada waktu untuk mengingat betapa banyak pertolongan Allah yang selama ini sering terlupakan.

Mungkin karena itulah banyak percakapan mendalam lahir di meja kopi.

Di sana orang berbicara tentang mimpi, perjuangan, keluarga, dakwah, pendidikan, bahkan masa depan umat.

Kopi menjadi saksi bahwa manusia sebenarnya membutuhkan ketenangan, bukan sekadar keramaian.

Dalam tradisi dakwah Muhammadiyah, syukur bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga energi sosial.

Orang yang bersyukur tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Ia terdorong untuk memberi manfaat bagi sesama.

Syukur melahirkan kepedulian.

Ketika seseorang sadar bahwa hidupnya adalah karunia Allah, ia akan lebih mudah membantu orang lain.

Ia tidak sombong dengan ilmunya, tidak angkuh dengan hartanya, dan tidak meremehkan orang yang sedang jatuh.

Syukur juga melahirkan optimisme. Bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak mudah mengeluh, generasi yang mampu bekerja keras sekaligus dekat dengan Allah, serta generasi yang memiliki prestasi tetapi tetap rendah hati.

Sebab, sejatinya ukuran kemuliaan manusia bukan hanya apa yang berhasil dicapai, melainkan bagaimana ia menjaga hati di hadapan Allah.

Kita bisa belajar dari filosofi kopi: semakin berkualitas kopi, semakin berat proses yang dilaluinya.

Demikian pula manusia. Ujian hidup tidak selalu menjadi tanda kebencian Allah.

Bisa jadi, itu adalah proses pendewasaan agar seseorang naik derajatnya.

Karena itu, jangan malu jika hidup sedang sulit.

Jangan merasa hina ketika sedang berjuang.

Bisa jadi hari-hari berat yang sedang dijalani justru sedang membentuk kekuatan besar dalam diri kita.

Dan jangan lupa bersyukur ketika berhasil. Sebab, keberhasilan tanpa syukur sering melahirkan kesombongan.

Banyak orang mampu naik tinggi, tetapi tidak semua mampu tetap rendah hati.

Akhirnya, hidup ini seperti secangkir kopi. Kadang pahit, kadang manis, kadang hangat, kadang dingin.

Namun, semuanya akan terasa lebih bermakna jika dinikmati dengan syukur.

Syukur membuat hati lebih tenang, langkah menjadi lebih ringan, membuat manusia tidak mudah iri terhadap kehidupan orang lain. Lebih dari itu, syukur menjadikan seseorang lebih dekat kepada Allah.

Mungkin kita tidak bisa memilih semua jalan hidup yang akan dilalui.

Namun, kita selalu bisa memilih bagaimana menyikapinya.

Dengan syukur  menjadikan hidup yang sederhana menjadi terasa cukup.

Bahkan luka menjadi pelajaran dan keberhasilan menjadi keberkahan.

Maka, di tengah dunia yang penuh persaingan dan kegelisahan ini, mari belajar menikmati hidup sebagaimana menikmati secangkir kopi: perlahan, hangat, penuh makna, dan tidak lupa mengucap, Alhamdulillah.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 14/05/2026 18:13
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu