Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lima Menit yang Mengubah Hidup

Iklan Landscape Smamda
Lima Menit yang Mengubah Hidup
Foto: Deenin.
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Seringkali rasa malas datang menyelinap begitu saja ke dalam hati kita untuk melakukan amal ketaatan yang sebenarnya ringan. Bukan karena amal itu berat, tetapi karena setan pandai membisikkan penundaan.

“Nanti saja…”, “sebentar lagi…”, atau “besok kalau sudah semangat…” Begitulah cara setan mempermainkan manusia, hingga sesuatu yang kecil terasa berat dilakukan.

Padahal banyak ibadah tidak membutuhkan waktu lama. Kadang hanya lima menit, namun nilainya sangat besar di sisi Allah SWT.

Di antara cara sederhana untuk melawan rasa malas itu adalah dengan menyederhanakan sebuah amalan dalam pikiran kita. Yakinkan diri bahwa ibadah tersebut ringan, mudah, dan hanya membutuhkan sedikit waktu. Katakan pada diri sendiri:

“Ini cuma lima menit saja…”

Kalimat sederhana itu seringkali mampu mengalahkan rasa malas yang semula terasa besar.

Ketika malas melaksanakan salat sunah dua rakaat sebelum atau sesudah salat wajib, maka lihatlah jam sejenak lalu katakan:

“Hanya kurang dari lima menit. Masa pelit beramal untuk diri sendiri?”

Bukankah kita bisa berlama-lama menggulir media sosial tanpa terasa? Lima menit berubah menjadi setengah jam, bahkan satu jam.

Tetapi ketika diajak sujud kepada Allah beberapa menit saja, hati justru terasa berat. Di situlah kita perlu melawan diri sendiri.

Begitu pula saat malas membaca Al-Qur’an. Kadang setan membuat kita merasa harus membaca satu juz agar dianggap baik.

Akhirnya karena merasa berat, kita tidak membaca sama sekali. Padahal satu halaman pun sangat berharga.

Cobalah berkata pada diri sendiri:

“Baca Qur’an lima menit saja… pahala untuk selamanya.”

Ajaibnya, seringkali ketika sudah mulai membaca, hati menjadi tenang dan ingin melanjutkan lebih lama. Yang sulit biasanya bukan menjalankan, melainkan memulai.

Begitulah jiwa manusia. Langkah pertama sering terasa paling berat.

Ada seorang pekerja yang pulang dalam keadaan lelah setelah seharian bekerja. Tubuhnya penat, pikirannya penuh masalah. Ketika waktu Isya tiba, ia merasa ingin langsung tidur. Namun ia berkata pada dirinya:

“Aku zikir lima menit saja sebelum tidur.”

Lima menit itu ternyata mengubah suasana hatinya. Dadanya yang sesak menjadi lebih lapang. Pikirannya yang kacau menjadi lebih tenang.

Karena ternyata hati manusia memang membutuhkan hubungan dengan Allah, sebagaimana tubuh membutuhkan makanan.

SMPM 5 Pucang SBY

Ada pula seorang mahasiswa yang sibuk dengan tugas kuliah. Ia merasa tidak punya waktu untuk tilawah.

Namun suatu hari ia mencoba membaca Al-Qur’an setelah Subuh selama lima menit saja. Tidak lama. Tidak berat. Tetapi dilakukan setiap hari.

Beberapa bulan kemudian, lima menit itu berubah menjadi kebiasaan. Hatinya menjadi lebih lembut, lisannya lebih terjaga, dan hidupnya terasa lebih terarah. Amal kecil yang istikamah ternyata jauh lebih kuat daripada semangat besar yang hanya muncul sesekali.

Demikian pula zikir setelah sholat. Banyak orang langsung berdiri dan beranjak setelah salam, seakan tidak ada lagi waktu tersisa. Padahal dzikir hanya memerlukan beberapa menit saja.

Katakan pada diri sendiri:

“Tidakkah engkau mau berzikir meski hanya lima menit? Bukankah sudah begitu banyak waktu terbuang tanpa pahala?”

Seringkali kita tidak sadar berapa banyak waktu yang hilang sia-sia dalam sehari. Menunggu, melamun, membuka hal-hal yang tidak bermanfaat, berbincang tanpa arah, atau sekadar melihat layar ponsel tanpa tujuan. Jika sebagian kecil saja dari waktu itu diisi dengan amal, mungkin timbangan kebaikan kita akan jauh berbeda.

Bilangan “lima menit” di sini hanyalah simbol. Jika masih terasa berat, kurangi menjadi empat menit, tiga menit, bahkan satu menit. Dan bila terasa ringan, tambahkan menjadi sepuluh atau lima belas menit. Yang terpenting adalah membiasakan diri memulai amal, bukan menunggu sempurna.

Karena setan sering menghalangi manusia bukan dengan dosa besar terlebih dahulu, tetapi dengan menunda amal-amal kecil. Lama-kelamaan hati menjadi keras dan jauh dari ketaatan.

Metode amal ringan ini sebenarnya tersirat dalam banyak hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Di antaranya sabda beliau:

“Ada dua kalimat yang ringan di lisan, dicintai Ar-Rahman, dan berat dalam timbangan: Subhaanallohi wabihamdih, Subhaanallohil ‘Azhim.”

Hadits ini mengajarkan bahwa sesuatu yang ringan menurut manusia bisa sangat berat nilainya di sisi Allah. Hanya beberapa detik mengucapkannya, namun timbangannya luar biasa.

Betapa banyak pintu pahala yang sebenarnya mudah dibuka. Masalahnya bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena sering menunda.

Maka jangan remehkan lima menit.

Lima menit untuk sholat sunah.
Lima menit untuk tilawah.
Lima menit untuk zikir.
Lima menit untuk berdoa.
Lima menit untuk bersedekah ilmu atau membantu orang lain.

Boleh jadi, amal kecil yang dilakukan terus-menerus itu justru menjadi penyelamat kita di hadapan Allah SWT kelak.

Karena hidup manusia sebenarnya juga hanya sebentar. Seperti kumpulan menit-menit yang terus berjalan. Dan orang yang beruntung adalah mereka yang mampu mengubah menit-menit biasa menjadi ladang pahala yang luar biasa. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/05/2026 09:39
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡