Forum Ruang Gagasan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menarik lebih dari 100 peserta dalam diskusi kritis yang mengupas konflik Amerika Serikat–Iran serta dampaknya terhadap stabilitas global dan posisi Indonesia.
Digelar di RBC A. Malik Fadjar Institute, Kamis (23/4/2026), kegiatan ini menegaskan pentingnya literasi geopolitik dan sikap strategis Indonesia di tengah dinamika internasional yang semakin kompleks.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM bekerja sama dengan Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar dan Program Studi Hubungan Internasional UMM.
Hadir sebagai pembicara, Prof. Hikmahanto Juwana, Prof. Gonda Yumitro, dan Airlangga Pribadi. Ketiganya menyoroti bahwa konflik AS–Iran bukan sekadar persoalan bilateral, melainkan memiliki dampak luas terhadap stabilitas global, termasuk bagi Indonesia.
Guru Besar Hukum Internasional, Prof. Hikmahanto Juwana, menilai posisi Indonesia berada dalam situasi yang tidak sederhana.
“Sebagai negara nonblok, Indonesia berada dalam posisi dilematis. Namun, Indonesia tetap harus memiliki sikap yang jelas, terutama dalam melihat dampak kemanusiaan dari konflik yang terjadi,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Gonda Yumitro, yang merupakan guru besar pada Prodi Hubungan Internasional UMM, mengungkapkan bahwa persepsi global masih menempatkan Indonesia sebagai negara yang konsisten dalam politik luar negeri bebas aktif.
Diki Wahyudi, Sekretaris Pusat Studi Islam Berkemajuan UMM, menilai bahwa konflik Amerika–Iran tidak hanya persoalan geopolitik, tetapi juga krisis kemanusiaan yang berdampak luas terhadap kesejahteraan sosial masyarakat global.
Dalam perspektif kesejahteraan sosial, eskalasi konflik Amerika–Iran harus dilihat sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup masyarakat sipil.
“Sekitar 65 persen publik global melihat Indonesia konsisten dengan prinsip bebas aktif. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran terhadap dampak ekonomi, khususnya terkait energi dan rantai pasok,” jelasnya.
Di sisi lain, Airlangga Pribadi menekankan pentingnya literasi geopolitik di kalangan generasi muda.
“Diskusi seperti ini penting untuk membangun kesadaran bahwa konflik global harus dilihat tidak hanya dari aspek politik, tetapi juga kemanusiaan,” katanya.
Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa penguatan literasi menjadi kunci dalam menghadapi derasnya arus informasi global.
“Kampus harus menjadi pusat produksi gagasan. Tanpa literasi yang kuat, kita mudah terjebak pada informasi yang tidak utuh,” ujarnya.
Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan kritis. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya perhatian akademisi dan mahasiswa terhadap isu-isu global yang semakin kompleks.
Melalui forum ini, UMM mendorong penguatan tradisi intelektual sekaligus meningkatkan peran generasi muda dalam merespons dinamika geopolitik dunia secara kritis dan konstruktif. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments